Sunat diancam enam tahun penjara: kelompok Yahudi, Islam, dan Kristen protes

Sunat diancam enam tahun penjara: kelompok Yahudi, Islam, dan Kristen protes

ISLANDIA (Yubelium.com) — Kelompok Yahudi, Islam, dan Kristen menyerukan penolakan terhadap sebuah rancangan undang-undang (RUU) di Parlemen Islandia yang akan menjadikan praktek sunat anak laki-laki sebagai tindakan kriminal, demikian dilansir Aleteia (15/3/2018).

Perwakilan agama-agama Abrahamik tersebut mengatakan bahwa larangan ini pada akhirnya bermuara pada larangan bagi keberadaan agama mereka dan pelanggaran serius terhadap kebebasan beragama.

Jika RUU tersebut disahkan, orang tua yang melangsungkan sunat berdasarkan keyakinan agama diancam dengan hukuman enam tahun penjara.

Sunat merupakan praktek agama mendasar dalam Yahudi, Islam, dan cabang agama Kristen seperti Gereja Ortodoks Etiopia juga Gereja Ortodoks Eritrea.

Dari Gereja Katolik Roma, Ketua Dewan Wali Gereja Eropa, Kardinal Angelo Bagnasco mengatakan, “Gereja Katolik secara khusus berkomitmen untuk membela hak anak, termasuk hak – tugas keluarga – untuk mendidik anak-anak mereka menurut keyakinan agama mereka. Upaya [pelarangan sunat] itu bertentangan dengan kebebasan beragama dan prinsip-prinsip berdemokrasi yang sesuai bagi masyarakat beradab,” demikian dikutip Aleteia. 

Albert Guigui, Ketua Dewan Kerabian Brussels mengatakan bahwa larangan praktek sunat merupakan pelanggaran terhadap kebebasan beragama.

“Melarang sunat di suatu negara berarti deklarasi negara tersebut bahwa komunitas Yahudi tidak lagi diterima di wilayahnya,” ungkapnya.

Imam Ketua Razawi, Perhimpunan Ahlul Bayt Skotlandia mengatakan, “Melarang ritus keagamaan demikian berarti melarang umat Muslim untuk mempraktekkan agamanya.”

Islandia, total populasi 340.000, memiliki sekitar 250 warga Yahudi dan 2000 warga Muslim.

Silja Dogg Gunnarsdottir dari Partai Progresif, salah satu dari empat partai yang mendukung RUU itu, membandingkannya dengan pelarangan mutilasi pada bagian reproduksi perempuan yang dilarang pada 2005. Jika disahkan sunat hanya bisa dibolehkan jika perlu secara medis.

Ketua Gereja Katolik di Uni-Eropa (GKUE), Kardinal Reinhard Marx menanggapi, “Melindungi kesehatan anak adalah tujuan sah setiap masyarakat, tapi dalam kasus ini, keprihatinan ini telah diperalat, tanpa dukungan ilmu pengetahuan, untuk mengstigmasisasi kelompok agama tertentu,” demikian dikutip EWTNNews (8/2/2018).

“GKUE melihat bahwa upaya apapun untuk merongrong kebebasan beragama tidak bisa diterima,” ungkapnya.

Praktek sunat di Eropa tidak sebanyak di Amerika Serikat. Sekitar 58% anak laki-laki yang lahir di rumah sakit AS disunat, demikian Aleteia. Organisasi kesehatan anak, The American Academy of Pediatrics dalam sebuah pernyataan 2012 mengatakan bahwa manfaat kesehatan penyunatan anak laki-laki melebihi resikonya, sekalipun menyarankan orang tua untuk bijaksana.

“Sunat merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan umat Yahudi dan tidak ada otoritas dalam dunia ini yang dapat melarang umat Yahudi mempraktekkannya,” demikian pernyataan Konferensi Rabinik Eropa (KRE).

Rabi Pinchas Goldschmidt, Ketua KRE mengatakan bahwa “sekalipun komunitas Yahudi di Islandia kecil, kita tidak bisa mengabaikan pengaruhnya ke negara-negara lain dan akibat yang bisa ditimbulkannya di negara-negara lain.”

Ia menyerukan supaya para legislator menarik RUU “yang sangat buruk ini” dan meminta supaya kehidupan beragama umat Yahudi terus didukung.

 

Versi ini telah memuat perbaikan penulisan dari versi sebelumnya.
%d bloggers like this: