Selamat merayakan Pekan Suci: Darah para martir adalah benih gereja

Selamat merayakan Pekan Suci: Darah para martir adalah benih gereja

PAKISTAN (Yubelium.com) — Duka merundung gereja Methodist Bethel Memorial di Quetta, Provinsi Balokhistan seminggu sebelum perayaan Natal 2017, namun harapan terasa begitu kuat.

Dua orang bersenjata menyerang gereja tempat sekitar 400 anggota jemaat, termasuk 80-an anak-anak sedang beribadah. Salah satu berhasil dinetralkan pihak keamanan, namun satunya meledakkan bom rompi di gerbang gereja. Sembilan anggota jemaat menjadi martir dalam peristiwa itu sedang puluhan lainnya mengalami luka-luka. Para penyerang sebelumnya membunuh seorang penjaga keamanan, demikian dirangkum dari AsiaNews.it

Jumlah korban tidak bersalah akan jauh lebih besar sekiranya tidak ada pihak keamanan yang ditugaskan di gereja, namun seruan untuk memperketat keamanan di rumah-rumah ibadah turut disuarakan, demikian antara lain dari Keuskupan Peshawar, Gereja Pakistan, dimuat di Methodist.org.uk (17/12/2017).

Sebuah doa turut dituliskan:

Tuhan yang mahapengasih,
Engkau melihat air mata umat-Mu di seluruh dunia.
Engkau sendiri berduka
ketika melihat anak-anak-Mu terluka, dibunuh, dan berduka.
Dengarlah kiranya doa kami bagi rakyat Pakistan,
hiburkanlah mereka yang berduka,
sembuhkan yang terluka,
dan berikan kekuatan kepada mereka yang mengalami trauma.
Di masa Penantian (Adven) ini, kami merindukan waktu
ketika perdamaian dan belas kasih mengalir di semua tempat
yang dilanda konflik dan kebencian.
Kami berdoa dalam nama Allah-beserta-kita (Imanuel). Amin.

Dari pagi hari yang penuh perayaan, pemimpin jemaat Pdt. Simon Bashir harus menerima kenyataan melaksanakan ibadah pemakaman anggota-anggota jemaat di petang hari.

Ia mengungkapkan rasa sakit hati, kepedihan, dan amarah atas kegagalan melindungi warga yang berkumpul untuk beribadah. Ia juga berterima kasih kepada penjaga keamanan yang telah melaksanakan tugas panggilan mereka, termasuk para pemuda sukarelawan.

Pada 20 Januari, halaman media sosial Gereja Methodist Bethel Memorial memuat Filipi 4:13 “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Kristus yang memberi kekuatan kepadaku.”

Pada 23 Januari, kutipan kata-kata Tertullian, “Darah para martir adalah benih gereja.”


TIONGKOK (Yubelium.com) — Gedung gereja Kaki Dian Emas, tempat beribadah sekitar 50.000 jemaat di Linfen, Shanxi, menjadi reruntuhan pada 9 Januari 2018 setelah polisi militer dibawah arahan pejabat pemerintahan komunis meledakkannya.

Gereja Kaki Dian Emas merupakan salah satu gereja Protestan yang tidak terdaftar sebagai bagian dari Gerakan Patriotik Tiga-Mandiri (GPTM), yang diakui pemerintah namun sering dilihat oleh gereja-gereja independen terlalu dikontrol oleh pemerintah. Yang dimaksud dengan “tiga mandiri” adalah kemandirian dalam bidang daya, dana, misi.

Menurut Bob Fu, dari organisasi China Aid, gereja-gereja anggota GPTM tidak diperbolehkan mengabarkan Injil di luar batasan gereja, membaptis mereka yang berumur di bawah 18 tahun, dan memilih pemimpin gereja tanpa pengawasan pemerintah, demikian BPnews (16/1/2018).

R. Albert Mohler, rektor Southern Baptist Theological Seminary (sekolah teologi Gereja Baptis Selatan), menyebut peledakan tempat ibadah di negera berhaluan komunis itu menunjukkan kelemahan dan rasa takut.

“Dengan 20 abad sejarah gereja di belakang kita, kita sekarang bisa meyakinkan pemerintah komunis di Tiongkok, bahwa jika mereka berpikir dapat mematikan Injil Yesus Kristus dengan meledakkan sebuah bangunan [gereja], maka mereka menipu diri mereka sendiri,” demikian dikutip BP.

Ia menambahkan bahwa jika Partai Komunis di Tiongkok merasa bahwa mereka menunjukkan kekuatan dengan cara demikian, “maka kenyataannya mereka menunjukkan kelemahan dan ketakutan mereka.”


MESIR (Yubelium.com) — “Serangan kemarin di Gereja Santo Mina di Helwan, di pinggiran kota Kairo, memang diarahkan pada warga masyarakat Kristen di Mesir, tetapi di samping warga Kristen yang kehilangan nyawa, paling tidak ada satu warga Muslim anggota petugas keamanan yang membayar harga yang sangat besar untuk melindungi sesama warga Mesirnya menunaikan hak mereka untuk beribadah,” demikian siaran pers Uskup Agung Gereja Koptik, Angelos di London, Inggris, 30 Desember 2017menanggapi serangan biadad terhadap umat yang beribadah.

“Ini seharusnya adalah waktu ketika pribadi dan keluarga bersiap menyambut Tahun Baru, dan bagi umat Gereja Kristen Ortodoks Koptik, merayakan Perayaan Natal pada 7 Januari mengikuti penanggalan Julian. Namun, kami merasa sedih karena sekali lagi mendapati diri menangisi hilangnya hidup yang berharga dari anak-anak, perempuan dan laki-laki yang tidak lain datang untuk berdoa sama seperti jutaan lainnya di seluruh dunia.”

“Sekalipun dalam saat yang sulit ini, umat Kristen Mesir, yang telah menangisi lebih dari 100 anggotanya di tahun lalu yang menjadi korban serangan yang menargetkan gereja dan perorangan, terus melanjutkan apa yang telah mereka lalukan selama berabad-abad; mereka tabah, mengampuni, berpengharapan, dan terus berdoa bagi Mesir, dan bagi para pemimpinnya, di tengah tantangan yang sulit pada sejarahnya kini.

“Kami berharap supaya sikap luar biasa dari komunitas orang percaya ini…dapat mengubahkan hati mereka yang terus berupaya menghancurkannya.”

Dua orang bersenjata menyerang jemaat di gereja Mar Mina Koptik Ortodoks pada 30 Januari 2017. Sembilan warga Kristen Koptik, serta seorang Muslim menjadi martir.

Menanggapi serangan terhadap warga Koptik di Sinai, pada 28 Februari 2017 Uskup Agung Angelos menulis:

Kami berdoa bagi mereka yang menderita karena terorisme dan kekerasan,
supaya Tuhan menganugerahkan kedamaian dan kepastian
bahwa Ia tidak melupakan mereka
dan orang-orang yang tidak hanya menyaksikan penderitaan mereka
tapi juga berusaha untuk membela mereka.
Kami juga berdoa bagi pemerintah dan mereka yang berpengaruh
untuk membela orang-orang yang dipercayakan kepada mereka.
Akhirnya…kami berdoa bagi mereka para pelaku kejahatan ini,
supaya mereka dapat lagi menyadari nilai sebenarnya setiap kehidupan
yang nampaknya tidak begitu berharga di mata mereka.

Dalam ungkapan simpati dan belasungkawa dari Gereja Ortodoks Rusia, Metropolitan Volokolamsk Hillarion mengajak semua pihak untuk terus merapatkan barisan melawan terorisme, dan “biar kita senantiasa mengingat bahwa para pelaku terorisme tidak memiliki masa depan, karena setiap kejahatan mengancurkan dirinya sendiri.

 


NIGERIA (Yubelium.com) — “Kami merasa gembira; kemuliaan bagi Tuhan,” ungkap Suster Agatha Osarekhoe, Pemimpin Umum Yayasan Hati Ekaristi Kristus (YHEK), menyusul pembebasan tiga suster dan tiga aspiran yang diculik di Provinsi Edo, Nigeria bagian selatan.

Ia mengungkapkan penghargaan terhadap pihak kepolisian yang telah melakukan tugas mereka pada 6 Januari dengan membebaskan para korban penculikan, sekalipun para penculik berhasil melarikan diri, demikian CatholicOnline.com (12/1/2018) melansir CNA/EWTN.

Ia mengatakan bahwa para suster dan aspiran sedang menerima pelayanan medis.

Sejumlah orang bersenjata menerobos ke tempat tinggal para suster di Iguoriakhi pada 13 November 2017, dan membawa Sr Roseline Isiocha, Sr Aloysius Ajayi, Sr Frances Udi, serta tiga perempuan lainnya yang berkeinginan menjadi suster, demikian laporan CatholicIreland.net (11/1/2018).

Pada tanggal 17 Desember, Paus Fransiskus bersama para Uskup Nigeria meminta pembebasan para suster.

Pers lokal melaporkan bahwa para penculik menuntut sebuah tebusan, namun Suster Agatha mengatakan bahwa hal itu tidak dipenuhi.

Ini bukan penculikan pertama di Nigeria. Pada bulan September 2017 Pastor Lawrence Adorolo, dari Gereja Katolik St Benedict, Okpella, di Provinsi Edo, diculik dalam perjalanan kembali ke parokinya.

Pada waktu itu Uskup setempat mengatakan bahwa para penculik menuntut tebusan namun kebijakan yang diadopsi oleh Konferensi Waligereja Nigeria adalah tidak memenuhi tuntutan demikian.

Penculikan lainnya yang terjadi di 2017 adalah atas Fr Samuel Okwuidegbe, anggota Ordo Serikat Yesus, diculik pada tanggal 18 April dan dibebaskan pada tanggal 22 April. Pada tanggal 16 Juni, Fr Charles Nwachukwu dari keuskupan Okigwe, Provinsi Imo, diculik oleh lima orang bersenjata, dan dibebaskan dua hari kemudian. Di provinsi yang sama, pada tanggal 1 September 2017, Fr Cyriacus Onunkwo ditangkap dan dibunuh.

%d bloggers like this: