EKKLESIASTIKA — Satu tanggal: ide merayakan Rabu Abu dan Hari Valentine bersamaan

EKKLESIASTIKA — Satu tanggal: ide merayakan Rabu Abu dan Hari Valentine bersamaan

Tahun ini, hari perayaan Rabu Abu yang menandai dimulainya masa 40 hari sebelum Paskah (Prapaskah) jatuh pada 14 Februari, yang merupakan Hari Valentine atau juga disebut Hari Kasih Sayang.

Perayaan Valentine dikaitkan dengan kisah Santo Valentinius yang menurut cerita menjadi martir pada masa pemerintahan Kaisar Claudius Ke-2 pada sekitar abad ketiga Masehi.

Menurut sebuah artikel di WND, informasi tentang St. Valentinius lebih berasal dari cerita legendaris, dan nanti dicatat tahun 1260 dalam Legenda Sanctorum oleh Yakobus de Voragine dan dalam Babad Nuremberg tahun 1493. Ia disebut sebagai seorang imam di Roma atau seorang Uskup di Terni, Italia bagian tengah.

Kekaisaran Romawi membutuhkan lebih banyak prajurit untuk melawan serangan sukubangsa Gotik (dari Jerman Timur), dan sang kaisar berkeyakinan bahwa tidak menikah menjadikan para prajurit lebih baik.

Sekalipun kaisar telah mengeluarkan perintah untuk tidak mengawinkan para pemuda, St. Valentinius secara rahasia tetap memberkati pemuda dan pemudi yang ingin menegaskan komitmen sehidup-semati mereka dalam pernikahan.

Pada masa ini umat Kristen sedang menghadapi masa penganiayaan.

Orang-orang Kristen dipaksa untuk membakar ukupan di depan patung kaisar, hal yang ditolak umat Kristen sebagai penyembahan berhala. Akibatnya mereka dipenjara, dijadikan mangsa singa, atau ditimpakan dengan perlakukan kejam lainnya.

Sementara menunggu eksekusi, St. Valentinius ditaruh dalam penjara.

Asterius, sang penjaga penjara memiliki seorang puteri yang buta. Ia memohon supaya puterinya didoakan.

Mujizat kesembuhan yang dialami sang puteri membuat Asterius menerima iman Kristen.

Sebelum St. Valentinius dieksekusi pada tanggal 14 Februari, ia menulis surat untuk puteri Asterius dengan ungkapan penutup “dari Valentiniusmu.”

Setelah kemenangan Kaisar Konstantinus terhadap lawan-lawan politisnya, pada tahun 313 M. ia mengeluarkan Maklumat Milano (Edict of Milan) yang mendeklarasikan kebebasan umat Kristen untuk menghidupi iman mereka. Nanti pada 380 M. baru Kaisar Theodosius menjadikan Kristen sebagai agama resmi Kekaisaran Romawi.

Pada 496 M., pemimpin Gereja Paus Gelasius menetapkan 14 Februari sebagai “Saint Valentine’s Day” atau Hari Santo Valentinius. (Gereja Kristen saat itu masih satu, nanti terpecah pada tahun 1054 menjadi Gereja Timur (Ortodoks) berpusat di Kota Konstantinopel (sekarang Istambul, Turki) dan Gereja Barat (Katolik) berpusat di Kota Roma. Peristiwa ini disebut dalam sejarah Kristen sebagai Skisma Besar [Great Schism].)

Hari Valentine pada masa sekarang ini menjadi hari untuk mengekspresikan rasa sayang untuk orang-orang yang dekat di hati. Antara lain dengan memberikan penganan coklat atau juga setangkai bunga. Bagi umat Kristen, saat yang tepat juga untuk mengingat dan merayakan kasih pengorbanan Allah untuk manusia.

Pertanyaan tentang bagaimana merayakan Rabu Abu dan Hari Valentine lebih diarahkan untuk umat Kristen yang memelihara tradisi Gereja awal, yaitu merayakan masa Prapaskah dengan cara berpuasa, berdoa, dan memberi sedekah bagi orang berkekurangan.

Dalam gereja-gereja dipahami juga bahwa berdoa dan berpuasa membuka anugerah Allah dan berkat rohani dalam kehidupan orang percaya.

Jadi ide untuk merayakan Valentine sekaligus Rabu Abu adalah ajakan untuk diri sendiri dan kepada orang lain untuk bersama-sama merenungkan kasih sejati, yaitu kasih yang mau berkorban bagi orang yang dikasihi.

Berpuasa dapat dilakukan dengan cara berbeda, banyak kali adalah berpantang makan sehari (dengan air minum) atau sepanjang waktu tertentu. Ada gereja yang menerapkan agar umat makan santapan sekali, ditambah dua asupan kecil yang tidak sama dengan satu santapan. Semuanya disertai dengan doa dan perenungan sambil menuju ke Minggu Kudus yang berpuncak pada Paskah.

Mengajak kekasih hati untuk berpuasa bersama bisa jadi ide brilian, jika keduanya melihat nilai bahwa praktek ini dapat menumbuhkan sikap rela berkoban untuk satu dengan yang lain dan menahan diri dari hal yang dapat saling menyakiti satu dengan yang lain.

Ibadah perayaan Rabu Abu biasanya disertai dengan memberi tanda salib di dahi, menggunakan abu atau arang yang dibuat dari daun palma yang dipakai pada perayaan Minggu Palma tahun lalu.

Tanda itu merupakan pengingat akan anugerah Allah, dan bahwa kita manusia fana.

Dengan Hari Valentine yang jatuh bersamaan, kita juga mengingat bahwa kita telah dikasihi Allah dengan sempurna. Ia datang ke dunia menjadi sama dengan kita, dan mati di atas kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Di kayu salib kasih sejati dan keadilan Allah bagi manusia berdosa bertemu.

 

%d bloggers like this: