Baptisan kudus: ibu-ibu menjadi saksi mata anak-anak mereka menerima sakramen setelah pergumulan berat melawan krisis di tengah masa kehamilan

Baptisan kudus: ibu-ibu menjadi saksi mata anak-anak mereka menerima sakramen setelah pergumulan berat melawan krisis di tengah masa kehamilan

RUSIA (Yubelium.com) — Di antara anak-anak yang menerima sakramen baptisan kudus di St. Nikolas Pembuat Mujizat, Vladivostok, tiga orang di antaranya ada pada hari itu berkat kepahlawanan ibu-ibu mereka, yang dalam kesukaran memilih melahirkan mereka ke dalam dunia.

Ibu-ibu mereka menghadapi krisis di tengah kehamilan, dan sempat hendak menggugurkan kandungan. Namun lewat pelayanan pusat perlindungan ibu dan anak, dan peran para psikolog yang mendampingi ibu-ibu yang menghadapi krisis, ketiga ibu memilih untuk melahirkan anak-anak mereka, demikian OrthoChristian.com (31/1/2018) melansir situs berita Keusukupan Vladivostok.

Kota pelabuhan Vladivostok terletak di Provinsi Primorsky Krai, wilayah timur jauh Federasi Rusia.

Menurut data 2015 yang dimuat Charlotte Lozier Institute, mengutip Sedgh G et al. Federasi Rusia menempati urutan ketiga negara-negara dengan tingkat aborsi tertinggi di dunia (1.208.700 kasus), mengikuti Tingkok pada tempat pertama (9.173.100 kasus) dan Amerika Serikat pada tempat kedua (1.213.000 kasus).

Pemimpin Gereja Ortodoks Rusia (GOR), Patriark Kirill kembali menekankan pada November 2017 bahwa “persoalan aborsi…merupakan prioritas utama Gereja Ortodoks Rusia [untuk ditanggulangi],” demikian dikutip LifeSiteNews (2/11/2017).

Ia mengatakan bahwa untuk memerangi pembantaian bayi dalam kandungan ibu tidak bisa hanya dengan mengecam pelakunya dan mendorong para ibu untuk tidak membiarkan anak-anak mereka dibunuh, tapi juga dengan membantu ibu-ibu yang menghadapi krisis.

Patriark Kirill mengatakan bahwa seluruh pihak harus bersama-sama mengatasi masalah yang menyebabkan para ibu membiarkan anak-anak mereka dibunuh, seperti ketidak stabilan, kebencian dari orang tua, tekanan masyarakat, dan kemiskinan.

Pada 2015, Patriark Kirill mengungkapkan di depan Parlemen Rusia, “Ide yang secara absolut melebih dahulukan nilai kebebasan memilih dan menolak keutamaan norma moral telah menjadi bom yang sedikit demi sedikit meledakan peradaban Barat.”

Soviet Rusia, yang runtuh pada 1991, di bawah ideologi komunisme merupakan negara pertama yang “mengobarkan perang melawan anak-anak dalam kandungan,” demikian LifeNews merujuk pada pelegalan aborsi tanpa batasan di tahun 1922. Setelah sekitar dua dekade berlaku peraturan itu sempat diperketat, namun kemudian kembali seperti semula pada 1995 dan masih sampai sekarang ini, demikian dilansir TheMoscowTimes.com (29/9/2016).

Setelah jatuhnya pemerintahan komunis yang dalam sejarahnya membunuh jutaan jiwa dan menghancurkan gereja-gereja, Rusia mengklaim warisan kekristenan mereka dalam Gereja Ortodoks Rusia (GOR).

Menurunnya jumlah anak-anak yang menjadi korban aborsi di Rusia turut dipengaruhi sejumlah peraturan yang disahkan belum lama ini, antara lain larangan mengiklankan aborsi, termasuk dana bantuan pemerintah bagi orang tua yang dikaruniai anak kedua dan seterusnya.

Dalam penjelasan mengenai baptisan Gereja Ortodoks dikatakan bahwa baptisan anak diterima sebagai anugerah Allah bagi manusia, bukan karena suatu jasa di pihak manusia. Dengan baptisan seorang anak menjadi anggota keluarga Allah. Namun demikian, baptisan itu sendiri bukan seperti sebuah tiket masuk ke surga. Ketika sang anak mencapai usia akilbalig ia perlu menyadari anugerah kasih Allah yang diberikan padanya.