Tragedi penembakan di gereja AS: kekerasan, penutupan, dan ancaman tidak akan menghentikan gereja

Tragedi penembakan di gereja AS: kekerasan, penutupan, dan ancaman tidak akan menghentikan gereja

AMERIKA SERIKAT (Yubelium.com) — Kekerasan, penutupan, dan ancaman telah dialami Gereja selama berabad-abad di seluruh dunia, namun itu semua berakhir dengan hasil yang berlawanan dari yang hendak dicapai oleh para penganiaya. Yesus Kristus sendiri melalui penganiayaan yang kejam, demikian tanggapan Russell Moore, presiden Komisi Etika dan Kebebasan Beragama Gereja Southern Baptist Convention lewat tulisan opini di Washington Post, menyusul tragedi penembakan di gereja First Baptist Sutherland Spring, sekitar 57 km tenggara San Antonio, Texas.

Pada Minggu pagi (11/5), seorang pria datang membabi-buta dengan senjata ketika jemaat sedang beribadah, mengakibatkan tewasnya 26 anggota jemaat dan 20-an lainnya luka-luka.

“Apapun tujuan keji pelaku penembakan itu, yang kami tahu ini: itu tidak akan berhasil,” tulisnya, dilansir The Gospel Herald (11/6).

TUBUH YANG BARU

Pemimpin jemaat, Pdt. Frank Pomeroy dengan berlinang air mata mengatakan dalam konferensi pers sehari setelah kejadian, “Saya tidak memahaminya, tapi Tuhan memahaminya.”

Ia dan isterinya, Sherri, sedang berada di luar kota ketika tragedi itu terjadi. Selain banyak anggota jemaat, mereka kehilangan puteri angkat mereka, Annabelle (14), salah satu korban tewas.

“Kami kehilangan lebih dari Belle kemarin,” ungkap Sherri. “Dan satu hal yang memberiku secercah penghiburan adalah Belle didampingi oleh keluarganya yang sangat ia kasihi,” demikian Christian Today (11/7).

Paman Annabelle, Scott Pomeroy menulis di media sosial tentang keponakan serta anggota jemaat yang meninggal: “Surga menyambut [mereka]…mereka menghirup udara surgawi dengan tubuh yang baru dan tiada lagi sakit dan penderitaan.”

Di antara korban tewas adalah Bryan Holcombe, yang menggantikan Pdt. Frank hari itu memimpin ibadah.

“Ia sedang menuju ke mimbar ketika ia ditembak dari belakang. Ia adalah seorang Kristen yang luar biasa,” ungkap seorang saksi kepada Daily Mail (11/6).

AKHIR YANG TRAGIS

Pelaku penembakan diidentifikasi sebagai DPK, 20-an, sempat bergabung dengan Angkatan Udara AS pada 2010-2014, dan dihadapkan dengan pengadilan militer pada 2014. Ia diberitakan melarikan diri dari fasilitas kesehatan mental pada 2012.

Pelaku dinyatakan tewas dalam kendaraannya setelah mencoba melarikan diri, dikejar oleh pihak berwajib.

Daily Mail melansir laporan mengenai tanggapan beberapa teman sekolah bahwa pelaku adalah seorang atheis. “Ia selalu bicara tentang bagaimana orang yang percaya kepada Tuhan – adalah bodoh – dan mencoba mengkhotbahkan [kepercayaannya],” tulis Nina Rose N*** di akun media sosialnya.

PENGAMPUNAN, PENGHARAPAN, KASIH

“Kejahatan yang dilakukan kepada mereka yang bersekutu menyembah Tuhan pada hari ibadah — teristimewa anak-anak dan para lanjut usia — adalah tidak masuk akal dan kita takkan bisa betul-betul memahaminya,” demikian tanggapan Uskup Agung Garcia-Siller, di keuskupan Gereja Katolik San Antonio dikutip NCR (11/7).

“Saudara-saudari dari Gereja Baptis adalah keluarga, teman, dan tetangga kami di keuskupan ini…Kami bertekad untuk bersatu bekerja dengan semua saudara-saudari kami membangun perdamaian di tengah komunitas masyarakat kita.”

Pemimpin Gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus mengecam tindak “kekerasan yang tak berperasaan” itu dan menyampaikan duka mendalam bagi anggota keluarga dan komunitas masyarakat setempat.

Dalam doanya ia memohon Tuhan kiranya “menghiburkan mereka yang berduka dan menganugerahkan mereka kekuatan rohani yang mengatasi kekerasan dan kebencian oleh kuasa pengampunan, pengharapan, dan kasih yang mempersatukan.”