Semenanjung Korea: Gereja-gereja Korea dan AS mendesak perundingan damai, pengangkatan sanksi ekonomi, dan denuklirisasi

Semenanjung Korea: Gereja-gereja Korea dan AS mendesak perundingan damai, pengangkatan sanksi ekonomi, dan denuklirisasi

KOREA (Yubelium.com) — Dewan Gereja Gereja di Korea dan Dewan Gereja Gereja Kristus di Amerika Serikat (AS) telah mengeluarkan pernyataan bersama untuk mendorong lahirnya perdamaian di Semenanjung Korea. “Perdamaian tidak dapat dicapai lewat senjata,” demikian antara lain seruan mereka, dan bahwa tidak ada pembenaran moral terhadap penggunaan senjata nuklir yang memusnahkan jutaan orang.

Pemimpin gereja-gereja Korea mendesak AS untuk “segera menghentikan ancaman militer sekaligus sanksi (ekonomi) terhadap Korea Utara [sic.] dan menciptakan suasana bagi dialog damai.” Mereka juga mendesak Korea (Utara) untuk “menghentikan tes nuklirnya dan memberi tanggapan pada tawaran dialog dari negara-negara tetangga, termasuk Korea Selatan (sic.) dan AS.”

Dalam pernyataan bertanggal 28 September 2017 itu mereka turut menuntut denuklirisasi kedua pihak sebagai bagian dari “denuklirisasi seluruh dunia” (penghapusan senjata nuklir).

Para pemimpin gereja-gereja di Korea juga meminta kepada pemerintah Korea (Selatan) untuk “mengkonsolidasi semua upaya untuk membawa AS dan Korea Utara (sic.) di meja perundingan” dan “segera mengirim utusan khusus ke Korea Utara (sic.), AS, Tiongkok, Rusia dan Jepang untuk menenangkan ketegangan saat ini dan mencari jalan bagi perdamaian.”

“Terus-menerus ada ‘perang mulut’ bahkan di PBB, di mana perdamaian seharusnya dibicarakan. Perang retorik ini telah membuat Angkatan Udara AS mengerahkan B1-B melampaui Garis Batas Utara dengan persetujuan diam-diam Korea Selatan (sic.) Sebagai tanggapan terhadap hal itu, Korea Utara (sic.) mengklaim telah menyiapkan prosedur pembelaan diri melawan AS.

“Perdamaian tidak dapat dicapai lewat senjata. Senjata hanya akan membawa kehancuran. Sebagai duta perdamaian, gereja-gereja Korea, bersama 10 juta anggotanya, sangat menentang perang kedua di semenanjung ini dan karena itu tidak akan mentoleransi aksi militer dalam bentuk apapun untuk memperparah situasi ini.”

Dewan Gereja Gereja Kristus di AS yang menaungi sekitar 38 denominasi Kristen telah melayangkan sebuah surat terbuka kepada Presiden Donald Trump menyampaikan “rasa keprihatinan mendalam atas meningkatnya ketegangan antara AS dan Korea Utara (sic.)”

“Sederhananya, perang nuklir tidak boleh pernah terjadi,” demikian antara lain tertuang dalam surat yang dimuat di situs NCC USA 26 September 2017 itu, selanjutnya mengingatkan bahwa pernyataan-pernyataan yang provokatif dari kedua belah pihak dapat bermuara pada “salah perhitungan” yang dapat menghancurkan jutaan manusia.

“Perang nuklir yang dapat menghancurkan jutaan orang menempatkan dunia dalam resiko dan secara mendasar adalah tidak bermoral.” Para pemimpin gereja-gereja AS juga menyerukan denuklirisasi, dengan mencontohkan peran Presiden Reagan dalam upayanya untuk menghapuskan senjata nuklir ketika pada saat yang sama menghadapi ancaman nuklir pada masa Uni Soviet.

Dalam sebuah pidato tahun 1983 Presiden Reagan mengungkapkan, “Saya tidak yakin bahwa dunia ini dapat terus berlanjut melampaui generasi kita dan terus pada generasi-generasi berikutnya dengan senjata semacam ini di kedua pihak saling berhadapan tanpa pada suatu hari seorang bodoh atau seorang maniak atau suatu kecelakaan memicu sebuah perang yang merupakan akhir garis (generasi) bagi kita semua.”

Surat itu diakhiri dengan ungkapan, “Bapak Presiden, tidak ada ancaman pemusnahan nuklir, tidak pula penggunaan senjata nuklir terbatas yang dapat dibenarkan oleh bentuk pemikiran moral bagaimanapun. Kami sebagai masyarakat beragama Amerika, memohon supaya Anda mengakhiri ungkapan-ungkapan mengancam, dan mendua kalikan upaya untuk menemukan perdamaian dan solusi berkeadilan terhadap pemusnahan senjata nuklir di seluruh dunia.”

 

Sumber: AnglicanNews.com (29 September 2017).