Jurnalis Malta Yang Kerap Mengusung Berita Tentang Panama Papers Tewas Dengan Bom Mobil

Jurnalis Malta Yang Kerap Mengusung Berita Tentang Panama Papers Tewas Dengan Bom Mobil

Malta Daphne Caruana Galiziag (53), seorang Jurnalis yang melakukan investigasi skandal Panama Papers dalam kasus korupsi di Malta tewas terbunuh oleh bom mobil di dekat rumahnya, pada Senin (16/10) waktu setempat.

Daphne Caruana Galizia dinyatakan tewas di dalam mobil berjenis Peugeot 108 miliknya, yang hancur oleh sebab ledakan bom.

Galizia, adalah seorang blogger yang tulisan-tulisannya banyak digemari oleh sejumlah kalangan pembaca koran di Malta karena ia sering mengkritik kebijakan-kebijakan atau pribadi-pribadi Pemimpin Negaranya maupun Dunia.

Sejauh ini belum ada pihak yang dinyatakan bertanggung jawab atas kekejian bom mobil tersebut.

Presiden Malta Marie-Louise Coleiro Preca menyerukan warganya agar tetap tenang.

“Pada momen seperti ini, ketika negara diguncang oleh serangan yang begitu kejam, saya meminta semua orang untuk bicara secara terukur, tidak menghakimi, dan menunjukkan solidaritas,” Penyampaian Coleiro Preca.

Muscat selaku Perdana Menteri Malta sendiri mengecam serangan itu sebagai suatu bentuk tindakan barbar, dan mengaku telah memerintahkan polisi untuk meminta bantuan dari satuan keamanan negara lain untuk memburu pelaku bom tersebut.

“Semua orang tahu Caruana Galizia adalah pengkritik saya yang keras, baik dalam koteks politis maupun pribadi. Namun seperti apa pun itu, tindakan barbar seperti ini sama sekali tidak dapat dibenarkan,” kata Muscat.

Muscat sendiri menyatakan bilamana para agen penyidik federal Amerika Serikat atau FBI sedang dalam perjalanan ke Malta untuk membantu proses penyidikan pembunuhan tersebut.

Adrian Delia selaku Ketua Partai Nasionalis yang juga pernah sempat diberitakan negatif oleh Caruana Galizia mengatakan bilamana pembunuhan tersebut terjadi berkaitan dengan berita-berita yang ditulisnya. Seraya mengecam pembunuhan tersebut.

“Pembunuhan politik terjadi hari ini, Apa yang terjadi sekarang bukanlah pembunuhan biasa. Ini merupakan dampak dari runtuhnya penegakan hukum yang telah berlangsung selama empat tahun terakhir.” Demikian ungkap Delia.

Menurut media lokal Malta, Caruana Galizia membuat laporan ke polisi sekitar 15 hari lalu terkait ancaman pembunuhan terhadapnya.

Galizia erakhir mengunggah tulisan pada situs Running Commentary pada pukul 14:35, sementara ledakan bom mobil yang membunuhnya yterjadi pada pukul 15:00.

Caruana Galizia, yang mengklaim sama sekali tidak memiliki afiliasi politik dengan pihak manapun, cenderung banyak juga menulis tentang berbagai hal mengenai bank yang memfasilitasi tindak pidana pencucian uang berikut kaitannya dengan industri perjudian Malta dengan mafia.

Dalam dua tahun terakhir, tulisannya lebih banyak fokus kepada Panama Papers, dokumen-dokumen yang dibocorkan dari database internal Mossack Fonseca, yang diketahui sebagai firma hukum terbesar ke-empat di dunia.

Caruana Galizia meninggalkan seorang suami dan tiga orang putra.

Sumber: The Guardian

 

Tagged with