Nabil Quresyi: Aku berharap meninggalkan warisan kasih, perdamaian, kebenaran, dan saling mempedulikan

Nabil Quresyi: Aku berharap meninggalkan warisan kasih, perdamaian, kebenaran, dan saling mempedulikan

AMERIKA SERIKAT (Yubelium.com) — Nabil Quresyi, 34, penulis buku dan pembicara Kristen, didiagnosa menderita kanker perut stadium lanjut Agustus tahun lalu, yang memaksanya meninggalkan pelayanannya bersama Ravi Zacharias untuk menerima perawatan.

Nabil, yang berlatar belakang pendidikan dokter, berefleksi dari pelayanannya, mengatakan ia berharap apa yang ia tinggalkan adalah warisan “kasih, perdamaian, kebenaran, dan saling mempedulikan.”

“Beberapa waktu ini aku telah memikirkan sejumlah hal yang ingin aku bicarakan secara singkat, yang sebelumnya tidak ada kesempatan untuk dibicarakan termasuk apa yang ada di dalam hati saya selama pelayanan saya,” ungkapnya dalam sebuah vlog dibuat Sabtu lalu.

“Ada banyak diskusi tentang hal mendetail mengenai kebenaran dalam agama Islam dan Kristen, dan melihat ke dalam Al-Qur’an dan Hadits dan Alkitab dan Yesus…Aku berpendapat bahwa adalah sangat penting kita membicarakan hal menyangkut kebenaran. Tapi pada akhirnya, itu semua harus didasari dengan kasih dan perdamaian.

“Ketika kita berbicara dengan orang lain tentang keyakinan kita, kita harus melakukan itu dengan kasih, dan maksud dari semua itu adalah untuk membawa orang bersama, membawa orang bersama dalam kebenaran, dan bukan untuk saling menyakiti satu dengan yang lain, tetapi untuk saling menolong satu dengan yang lain.”

Ia menyebutkan tak kadang orang menggunakan informasi yang ia bagikan untuk “menyerang” satu dengan yang lain.

“Itu bukan tujuan saya,” ungkapnya. “Maksud saya dalam membagikan adalah supaya kasih memerintah. Karena itu, ketika Anda melihat pelayanan saya, aku berharap itu meninggalkan warisan kasih, perdamaian, kebenaran, saling mempedulikan satu dengan yang lain. Itu harapan dan tujuan saya di balik semua ini. Jika ada waktu aku telah mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan itu, saya memohon maaf, dan saya berharap warisan itu yang aku tinggalkan.”

“Allah kita adalah Allah Pengasih. Itulah yang harus terus mendorong kita,” ungkapnya kemudian. “Itu yang harus menjadi hal yang utama dalam pikiran kita. Jadi, ketika kita berbicara kepada seorang Hindu, seorang Yahudi, seorang Muslim, seorang Kristen, kepada siapapun kita berbicara, itu keluar dari kasih.”

Dalam salah satu kesaksiannya, Nabil membagikan bahwa ia menjadi Kristen setelah melalui pergumulan intelektual dan emosi, karena ia tahu bahwa keluarganya akan sangat kecewa jika ia menjadi Kristen. Ia sangat mengasihi keluarganya, sehingga ketika keluarganya menolaknya hal itu selalu menjadi beban yang berat baginya.

Nabil menulis buku dengan judul “Mencari Allah Menemukan Yesus.”

“Para dokter sudah pada dasarnya angkat tangan melakukan pengobatan untukku. Mereka berpendapat bahwa tubuhku sudah berada di tahapan akhir kehidupan, karena itu mereka menyarankan perawatan paliatif. Itu yang kami lakukan saat ini, supaya aku merasa nyaman,” ungkapnya mengatakan bahwa para dokter memutuskan menghentikan asupan kalori untuk beberapa hari. “Dan jika itu berarti hal buruk terjadi, maka hal buruk terjadi.”

“Aku memerlukan doa-doa kalian,” ungkapnya. “Jika kita mau supaya Tuhan beracara dan melakukan sebuah mujizat, itu harus terjadi dalam beberapa hari. Aku tahu itu akan sangat mengejutkan, tapi saya bagikan untuk meminta doa-doa kalian.”

Nabil juga meminta doa bagi keluarganya, bagi orang tuanya, isterinya (Michelle), dan puterinya (Ayah) – jika ia harus pergi dari dunia ini.

“Mereka telah memberikan perhatian yang begitu besar padaku…Aku berharap supaya ada orang-orang yang akan berdoa bagi mereka jika kemungkinan terburuk harus terjadi padaku. Mohon kiranya supaya mereka ada dalam doa kalian setiap hari.”

(gospelherald.com)