Cara singkat memahami bagaimana menafsirkan Alkitab

Cara singkat memahami bagaimana menafsirkan Alkitab

Menafsirkan Alkitab berarti memahami terlebih dulu maksud menyeluruh keberadaan Alkitab, kemudian masuk pada memahami bagian tertentu dari Alkitab untuk memberi penerangan tentang bagaimana jemaat Tuhan hidup di tengah zaman ini.

1. Mengetahui apa Alkitab, siapa pengarangnya dan apa maksud keberadaannya

Alkitab adalah kumpulan buku-buku dengan jenis sastra yang berbeda-beda dan ditulis dalam kurun waktu yang berbeda-beda, dan setiap buku dimaksudkan untuk menunjukkan karya Allah dalam sejarah dunia dan untuk membimbing umat Allah pada pengenalan akan siapa diri mereka dan milik siapa mereka.

Pengarang Alkitab adalah Roh Allah sendiri yang oleh kuasa-Nya mengilhami para penutur, penulis/pencatat, pengumpul, penyalin, pembuku, penerjemah, bahkan sampai pencetaknya sehingga Alkitab tiba di tangan kita saat ini. Roh Kudus menggunakan semua media ini untuk mewahyukan kehendak Allah yang tak bisa diketahui manusia lewat upayanya sendiri.

Maksud Alkitab adalah sebagai sumber pemberitaan karya selamat Allah supaya umat-Nya memiliki pengenalan akan Dia, akan belas kasih-Nya yang luar biasa, keadilan-Nya dan kesabaran-Nya.

2. Sebelum masuk pada memahami bagian tertentu dari Alkitab, langkah penting berikutnya adalah memiliki sikap hati dan doa yang memohon penerangan Roh Kudus. Dalam tradisi umat Kristen, sebelum pembacaan dan pemberitaan Firman Tuhan di gereja, terlebih dulu diucapkan doa memohon tuntunan atau penerangan Roh Kudus.

Doa ini perlu menyertai seorang pembaca dan penafsir Alkitab, sehingga tulisan Alkitab menjadi hidup dan menghidupkan baginya dan bagi orang-orang yang mendengar hasil kerja dan perenungannya.

3. Menafsir makna tulisan Alkitab dapat terjadi lewat dua cara: 1) lewat lensa pengalaman dan pengamatan, dan 2) lewat ketrampilan ilmu tafsir.

Alkitab ditulis lewat pengalaman manusia, sehingga orang-orang yang membaca Alkitab dapat merasakan kesesuaian antara pengalaman mereka dan pengalaman umat Allah yang digambarkan dalam Alkitab. Seorang pribadi dapat pula melihat dirinya sendiri dalam tokoh-tokoh dan cerita-cerita dalam Alkitab. Banyak kali pembaca dan penafsir Alkitab memperoleh makna dan harta rohani yang berharga hanya dari membaca Alkitab dan melihat kemiripan kisah Alkitab dan kehidupan pribadi/jemaat/bangsa di zaman sekarang ini.

Keterbatasan dalam penafsiran dan pemaknaan lewat lensa pengalaman adalah ketika berhadapan dengan tulisan yang mensyaratkan pengetahuan bahasa asli dan latar belakang situasi untuk memahami maksud tulisan itu bagi pembaca pertamanya.

Di sini diperlukan ketrampilan ilmu tafsir. Seorang penafsir Alkitab yang telah dibekali dengan ketrampilan menafsirkan Alkitab lewat analisa bahasa, latar belakang budaya, sejarah, dsb dapat memahami hal-hal yang tidak nampak di permukaan cerita.

Ia dapat membantu menerangkan tulisan-tulisan yang sulit dipahami dari sudut pembaca sekarang ini dengan mengenali makna teks (tulisan) dalam konteks bahasa dan budaya/sejarahnya, menerjemahkannya ke dalam kehidupan kita sehari-hari, dan demikian membangun iman jemaat.

Bahan-bahan yang dapat membantu dalam menganalisa bahasa adalah 1) Alkitab dalam bahasa aslinya (Ibrani dan Yunani); 2) kamus bahasa asli Alkitab (Ibrani dan Yunani) ke bahasa penerima. 3) Interlinear yang menunjukkan padanan kata bahasa asli dan terjemahannya, bentuk dan kasusnya, 4) dan Leksikon yang memberi analisa kata.

Alkitab kita sendiri tentunya kita perlukan, dan terjemahan-terjemahan Alkitab dalam bahasa-bahasa yang dimengerti dapat pula membantu memahami aspek tafsiran bahasa.

Latar belakang budaya dan sejarah dapat diperoleh dari komentar Alkitab, kamus istilah Alkitab, buku-buku pengantar Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, termasuk dari tulisan sejarah umum dan sejarah klasik.

 

Catatan tambahan dan penggunaan hasil tafsir Alkitab ke dalam khotbah:

Demikian cara singkat memahami bagaimana menafsir Alkitab untuk membangun iman jemaat. Sebagai catatan tambahan, dalam mempergunakan sumber-sumber pendamping, setiap penerjemah harus bisa menilai roh yang terkandung dalam tulisan-tulisan di dalamnya. Kadang buku-buku sumber merupakan kumpulan tulisan orang-orang yang berbeda, yang dapat jadi memiliki niat dan tujuan berbeda dalam menggunakan talenta mereka.

Hal yang senantiasa perlu diingat adalah karena Alkitab diilhamkan oleh Roh Allah, maka prinsip penafsirannya adalah sesuai dan sejalan dengan hakikat Pribadi Allah itu sendiri: kekudusan, keadilan, kebenaran, belas kasih, kesabaran, penghakiman, panggilan pertobatan dan keselamatan dalam iman kepada Yesus Kristus.

(Ketika hendak membawa hasil kerja tafsir ke dalam khotbah, hindari menggunakan banyak informasi yang sekalipun bagus namun mengalihkan perhatian atau tidak mendukung tema khotbah. Panjang khotbah perlu dibatasi oleh waktu. Dalam ibadah rutin di gereja, panjang khotbah sebaiknya antara 15-20 menit, dan alangkah baiknya jika pesan firman turut dijelaskan lewat ilustrasi atau cerita yang memudahkan jemaat untuk mengerti dan mengingat pesan itu.)