Paus Fransiskus serukan “pengendalian diri dan dialog” di Kota Suci; Gereja Ortodoks Yerusalem tegaskan solidaritas dengan umat Muslim Palestina

YUDEA-PALESTINA (Yubelium.com) — Pemimpin Gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus mengajak semua untuk berdoa “supaya Tuhan memberikan niat rekonsiliasi dan perdamaian bagi semua orang,” di tengah ketegangan dan kekerasan yang kembali meruak di Yerusalem, kota suci tiga agama Abrahamik: Yahudi, Kristen, dan Islam.

Hal tersebut disampaikan Paus dalam pesan Angelus pada Minggu, 23 Juli di alun-alun St. Petrus, Vatikan. Ia mengingatkan bahwa manusia harus menghindar dari menghakimi siapa yang baik siapa yang buruk.

“Semoga Tuhan, Hikmat yang menjadi manusia, membantu kita saat ini memahami bahwa kebaikan dan kejahatan tidak dapat dilihat sebagai wilayah atau kelompok manusia tertentu; ini yang baik dan itu yang buruk.

“Dia [Tuhan] mengatakan kepada kita bahwa garis batas antara yang baik dan yang jahat melewati hati setiap orang. Diri kita masing-masing. Kita semua adalah orang berdosa. Yesus Kristus, dengan kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya, membebaskan kita dari perbudakan dosa dan memberi kita rahmat untuk memulai sebuah perjalanan kehidupan yang baru,” demikian sebagian kutipan pesan itu, seperti dilansir AsiaNews.com (23/7). 

Sementara itu, pemimpin Gereja Ortodoks Yunani di Yerusalem, Uskup Agung Atallah Hanna menegaskan solidaritas gereja-gereja di Yerusalem dengan umat Muslim Palestina.

“Adalah tugas kita sebagai Muslim dan Kristen Palestina untuk tetap bersatu melawan kerakusan [pemerintah] Israel, yang menargetkan kita semua,” ungkapnya kepada Anadolu Agency dilansir media Ortodoks, Pravmir.com (24/7).

“Seperti yang diketahui semua orang, rakyat Palestina adalah satu melawan pendudukan dan rasisme.

“Gereja-gereja Yerusalem mendeklarasikan solidaritasnya dengan Masjid Al-Aqsa dan kami ada di sini sekarang ini untuk menegaskan solidaritas kami dengan saudara-saudara Muslim kami.

“Mereka yang menargetkan Al-Aqsa adalah juga yang menargetkan warisan-warisan Kristen yang  disita dan yang dirampas secara ilegal,” ungkapnya.

Mengikuti tindak kekerasan di kompleks Masjid Al-Aqsa, pemerintah Israel telah menaruh gerbang detektor logam ke tempat suci ketiga Islam itu dengan alasan keamanan. Pihak Palestina menilai bahwa tindakan itu merupakan upaya Israel untuk mengambil alih kontrol di situs yang juga sakral bagi umat Yahudi sebagai tempat dulunya berdiri Bait Allah.

Sesuai dengan persetujuan historis hanya umat Muslim yang diperbolehkan berdoa di lokasi itu, sedang non-Muslim diperbolehkan berkunjung.

Saat berita ini diturunkan, pemerintah Israel telah mencabut gerbang detektor logam tersebut, mengikuti dialog tingkat tinggi dengan pemerintah Yordania, yang memegang mandat sebagai pengawas situs-situs suci umat Islam di Yerusalem.