Cacat dan yatim oleh perang, Rabi serukan musim semi perdamaian bagi Suriah

Cacat dan yatim oleh perang, Rabi serukan musim semi perdamaian bagi Suriah

SURIAH (Yubelium.com) — Rabi Zarife, remaja Muslim umur 15 tahun, berasal dari sebuah desa di pinggiran Damaskus. Pada November 2016 ia kehilangan ayahnya dan kedua kakinya akibat ledakan. Ia bersama orang muda yang lain, Muslim dan Kristen, menerima perawatan dan dukungan dari Caritas Suriah, organisasi amal Kristen.

“…Ayahku sedang berjalan keluar dari bengkel, ketika sebuah mortir jatuh. Aku terbaring di atas tanah kesakitan, tidak menyadari apa yang terjadi padaku, ketika aku mendengar suara ayah saya, ‘Rabi, jangan mati, bertahan dan tetap hidup…”

“Ayahku seorang pekerja keras dan berani…Ia selalu meminta kami semua, aku dan saudara perempuanku, untuk belajar keras, supaya dapat menjadi orang yang baik dan berguna di masa depan…”

“Impian saya adalah untuk dapat berjalan kembali…aku ingin bermain lagi bersama teman-temanku. Ketika aku melihat mereka bermain di bawah jendela di jalan, atau ketika saudara-saudara dan sepupu-sepupuku pamitan untuk pergi ke sekolah jalan kaki, aku mulai menangis dan terus menangis.

“Aku merasa diri saya sendiri sekarang. Mereka semua pergi ke sekolah, ibuku mulai bekerja di rumah dan memasak, dan aku tinggal sendirian. Kadang aku merangkak mengikuti ibuku di rumah, seperti seorang bayi umur satu tahun…”

“Aku tak tahu [apa yang akan aku lakukan di masa depan]. Aku hanya ingin supaya dapat melanjutkan sekolah. Itu saja yang kuinginkan…

“Namaku berarti ‘musim semi’ dalam Bahasa Arab, namun sejak kecelakaan itu, keluargaku hidup dalam musim dingin yang tak berpenghujung…

“Aku akan katakan [kepada para pengambil kebijakan di dunia]: Hentikan perang di negeriku, hentikan pembunuhan dan penumpahan darah, berhenti menyakiti orang-orang tak bersalah.

“Aku kehilangan ayahku dan dua kakiku dalam perang ini, kalian tak dapat memberikan semua itu kembali padaku, tapi kalian bisa melakukan sesuatu yang lain…Kalian dapat membantu kami memperoleh perdamaian, hari-hari yang baik dan musim semi kembali ke negeri kami…”

(AsiaNews.it)