Ahli filsafat: berilmu dan beriman tidak bertentangan, terima anugerah Templeton Prize 2017

Ahli filsafat: berilmu dan beriman tidak bertentangan, terima anugerah Templeton Prize 2017

Berilmu dan beriman tidak saling bertentangan. Hal ini yang ditekankan oleh profesor Alvin Plantinga, ahli filsafat dan pengajar emeritus di Universitas Notre Dame, Amerika Serikat.

Ia menunjukkan bahwa keyakinan agama adalah “awal mula yang pantas bagi akal budi manusia.”

The Templeton Prize, hadiah bergengsi dalam bidang pemikiran dan spiritualitas diberikan sejak 1972 oleh mendiang Sir John Templeton dan disertai uang sekitar 1,4 juta dollar AS (sekitar 1,8 miliar rupiah).

Penganugerahan dinilai berdasarkan kontribusi seseorang dalam “dimensi spiritual kehidupan, apakah lewat pemahaman yang dalam, penemuan, atau karya praktis.”

Di antara penerimanya adalah Bunda Teresa, penggerak kemanusiaan, dan Aleksander Solzhenitsyn, novelis dan sejarahwan, penerima Hadiah Nobel 1970. Tahun 2016 lalu The Templeton Prize diberikan kepada Rabi Jonathan Sacks, sebelumnya menjabat sebagai ketua para rabi di persemakmuran Inggris Raya.

“Alvin Plantinga melihat bahwa tidak hanya keyakinan agama tidak bertentangan dengan karya filsafati yang serius, melainkan juga dapat memberi kontribusi penting dalam menyikapi persoalan menetap dalam filsafat,” ungkap Heather Templeton Dill, presiden Yayasan Templeton, demikian The Christian Post (4/26) melansir RNS.

Ia mengatakan prof. Plantinga “merevolusikan cara berpikir kita.”

Buku terkenal prof. Plantinga “God, Freedom, and Evil” (Allah, kebebasan, dan kejahatan), 1974 saat ini telah secara luas diterima sebagai jawaban atas keberatan logis keberadaan Allah dari sudut adanya kejahatan.

“Saya berharap supaya kabar penghargaan ini akan mendorong para ahli filsafat, terlebih khusus mereka yang membawa sudut pandang Kristen dan ke-Tuhanan ke dalam karya mereka, ke arah kreativitas, integritas, dan keberanian yang lebih besar,” ungkap prof. Plantinga.