Vonis pengadilan Jakarta terhadap BTP terindikasi melanggar Kitab Suci

(Gambar ilustrasi: mestboete.nl)

Do not follow the crowd in doing wrong. When you give testimony in a lawsuit, do not pervert justice by siding with the crowd, …” (Exodus 23:3)

EKKLESIASTIKA — Keputusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara terhadap Ir Basuki Tjahaja Purnama (BTP), akrab dipanggil Ahok, dalam perkara tuduhan penodaan agama telah mengundang keprihatinan banyak pihak.

Baik yang mendukung maupun yang tidak mendukung BTP dalam Pilkada Jakarta baru-baru ini akan setuju bahwa kasus ini telah dipolitisir.

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk menampakkan apa yang sudah jelas di mata.

Yang kurang mendapat perhatian adalah perkara ini diangkat karena mengandung sentimen agama.

BTP dituduh menghujat Islam ketika ia mengajak masyarakat kritis terhadap politikus yang menggunakan ayat Kitab Suci untuk mendapat simpati dari para konstituen demokrasi.

Kitab Suci yang dimaksud dalam konteks ini adalah Al-Quran.

Sekarang ini banyak orang Kristen yang tahu tentang surat al-Maidah, tapi masih kurang mengerti isi Al-Quran.

Al-Quran memang tidak mudah dibaca, kecuali oleh orang yang memiliki pengetahuan bahasa Arab. Untunglah sekarang ini telah lebih mudah mendapatkan informasi tentang Al-Quran dalam berbagai bahasa.

Al-Quran memuat berbagai kejadian dan kehidupan orang-orang yang disebut dalam Alkitab orang Kristen (yang terdiri dari Kitab Suci umat Yahudi/Kitab Ibrani/Perjanjian Lama + Perjanjian Baru).

Sebaliknya Alkitab tidak menyebut apa-apa tentang Islam, karena Islam lahir sekitar 600 tahun sesudah peristiwa salib.

Umat Muslim percaya bahwa Al-Quran merupakan penyempurna Kitab-Kitab Suci sebelumnya, seperti yang tercatat dalam Quran 3:3,

“Dialah yang menurunkan kepada kamu (langkah demi langkah) dalam kebenaran, Al Kitab [yaitu Al Quran], menetapkan apa yang telah diberikan sebelumnya; dan Dia menurunkan (Kitab) Hukum (Musa) dan Kitab Injil (Isa Al-Masih) sebelum ini untuk menuntun umat manusia, dan Ia menurunkan Al Furqaan (kriteria untuk memutuskan mana yang baik dan mana yang jahat.)”

Jadi sekalipun ada perbedaan-perbedaan rincian cerita, Al Quran memuat dan menerima Kitab Ibrani dan Injil sebagai bagian dari pewahyuan Allah kepada manusia.

Kitab Taurat Musa adalah titik temu antara Islam, Kristen dan Yahudi, karena ketiga agama Abrahamik ini menerima Taurat sebagai pewahyuan Allah.

Iman Kristen memiliki sikap yang berbeda dibanding Muslim dan Yahudi mengenai berbagai ritual dan perayaan di dalam Taurat, karena peran Yesus Kristus (Isa Al-Masih). Tapi sama seperti Islam dan Yahudi, hal menolong fakir miskin, anak yatim piatu, menerima orang asing, menjunjung nilai moral dan keadilan tetap merupakan kewajiban iman Kristen. Sekalipun, dalam iman Kristen semua itu dipahami bukan untuk memperoleh perdamaian dengan Allah, melainkan sebagai ungkapan syukur atas tanda perdamaian yang telah ditunjukkan Allah lewat Kristus Yesus.

Kitab Taurat ini yang menjadi dasar pemikiran bahwa keputusan Majelis Hakim terhadap BTP sangat mungkin telah melanggar ketentuan Kitab Suci secara umum, karena disebutkan dalam Kitab Musa, Keluaran 23:2 (3),

“Janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang melakukan kejahatan, dan dalam memberikan kesaksian mengenai sesuatu perkara janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang membelokkan hukum.”

Terjemahan Bahasa Inggris versi New International Version,

Do not follow the crowd in doing wrong. When you give testimony in a lawsuit, do not pervert justice by siding with the crowd, …” (Exodus 23:3)

Intinya adalah kita sebagai masyarakat dan tentunya para hakim yang terhormat sebagai penentu kebenaran dan keadilan diingatkan untuk tidak melanggar keadilan dengan berpihak dengan massa yang melanggar dan membelokkan hukum (dan keadilan).

Jadi jika benar bahwa keputusan Majelis Hakim adalah akibat dari tekanan banyak orang (termasuk polikus dan tokoh-tokoh organisasi masyarakat), maka para hakim tersebut akan mempertanggung jawabkan perbuatan mereka di hadapan Sang Hakim Agung yang akan menghakimi setiap orang menurut perbuatannya.

Hukuman dua tahun penjara untuk BTP merongrong rasa keadilan — banyak orang, tidak hanya Kristen atau Muslim.

Keadilan dan kebenaran melampaui sekat agama, kewarganegaraan, dan latar belakang etnis seseorang, karena Pencipta manusia menganugerahkannya sebagai hak setiap orang, tak terkecuali.

Harapan kita bersama adalah banyak orang, apakah Muslim atau Kristen, atau dari agama lainnya akan mengangkat suara setiap kali pelanggaran terhadap keadilan dan kebenaran terjadi—tidak hanya sekali-sekali saja.

Sisi positif di tengah semua ini adalah telah muncul suatu cahaya baru antara umat Muslim dan Kristen, dan umat beragama lainnya yang memiliki niat baik antara satu dengan yang lain untuk bertekad melawan korupsi dan bersama-sama menolong orang yang membutuhkan.

Sementara perjuangan untuk keadilan dan kesejahteraan bersama akan terus berlanjut, kita juga diingatkan bahwa setiap kali orang menanyakan bagaimana hubungan Muslim dan Kristen di Indonesia secara umum, kita bisa menjawab dengan rasa syukur, “Seperti pertemanan (bukan duet politik) Bpk Ahok dan Bpk Djarot.”