Paus doakan para korban di Idlib dan St. Petersburg; para pemuka gereja Suriah kecam serangan misil Amerika Serikat

Aylan Kurdi, 2, pengungsi Suriah yang terbaring kaku di pantai dalam upaya menghindari kekejaman perang. Foto ini merupakan salah satu rendisi para artis terhadap kekejaman perang yang terus berlangsung di Suriah untuk mengingatkan para pemimpin dunia bahwa mereka akan memikul tanggung jawab atas korban-korban yang berjatuhan karena kebijakan yang tidak atau yang diambil mereka. (Foto: Gabworthy)

SURIAH (Yubelium.com) — Pemuka gereja Suriah menyuarakan kritik atas serangan misil Amerika Serikat terhadap bangsa mereka, mempertanyakan mengapa serangan itu dilakukan sebelum adanya penyidikan terhadap asal serangan senjata kimia yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban sipil.

Patriark Gereja Katolik Suriah, Ignace Yusuf Younan menyebut serangan itu sebagai agresi. “Adalah hal yang memalukan bahwa administrasi pemerintah AS tidak menunggu sampai penyidikan PBB dirampungkan terkait apa yang dikatakan sebuah serangan kimia lewat udara di Khan Syakun,” ungkapnya kepada CNS (7/4/2017).

“Kumpulan media dan kebijakan supremasis AS hanya ingin konflik yang membunuh dan menghancurkan di Suriah terus berlanjut, dan ini terutama untuk membunuh upaya apapun untuk mengatasi krisis berdarah ini,” ungkap Patriark Younan, yang lahir di Suriah dan selama 14 tahun memimpin Keuskupan Bunda Kelepasan Kami untuk Katolik Suriah di AS dan Kanada.

Uskup Georges Abu Khazen, pemimpin Gereja Katolik ritus timur di Aleppo mengatakan kepada Fides (7/4/2017) bahwa ia terkejut oleh “cepatnya memutuskan dan melaksanakan [serangan udara itu], tanpa ada penyidikan memadai terhadap pembunuhan massal tragis dengan menggunakan bahan kimia yang terjadi di Provinsi Idlib.”

Ia mengatakan bahwa serangan itu “membuka skenario yang menguatirkan bagi semua.”

Pada 7 April pagi AS meluncurkan 59 misil dari dua kapal penghancur di Laut Mediteranian dengan target pangkalan udara pemerintah Suriah di Syairat, dekat Homs.

“Tidak dapat dipersoalkan bahwa Suriah menggunakan senjata kimia terlarang, melanggar kewajibannya yang diatur dalam Konvensi Senjata Kimia dan mengabaikan desakan Dewan Keamanan PBB,” demikian antara lain pernyataan Presiden AS, Donald Trump memberi penjelasan atas serangan itu.

Pada 4 April terjadi serangan biadab dengan bahan kimia di Khan Syakun, wilayah yang masih dikuasai oleh kelompok oposisi bersenjata. Dilaporkan sekurangnya 70 warga sipil termasuk anak-anak menjadi korban. Pemerintah Suriah menolak tuduhan bahwa serangan kimia itu dilakukan oleh militernya.

Rusia, sekutu Suriah yang mendukung pemerintah menyebut serangan pemerintah Suriah mengenai pabrik pembuatan bahan kimia yang kemudian meledak dan menyebar gas beracun, demikian RT (4/4/2017).

Seorang yang disebut sebagai komandan Pasukan Pembebasan Idlib, Hasan Haj Ali mengatakan kepada Reuters (5/4/2017) bahwa tidak ada pos militer oposisi bersenjata di wilayah yang dijadikan target serangan Selasa waktu setempat. “Semua orang melihat pesawat ketika sedang melakukan pemboman dengan gas,” ungkapnya.

Patriark Younan mengatakan bahwa ia melewati pangkalan udara Syairat setelah serangan misil AS itu untuk menghadiri pemakaman di Hafar. Ia mengungkapkan bahwa AS menuduh Suriah, negara anggota PBB, menggunakan senjata kimia, tetapi tidak melakukan penyidikan terhadap tuduhan itu.

“Tentara Suriah sedang berjuang dengan keberhasilan mengakhiri konflik berdarah yang telah berlangsung sekian lama. [Pasukan Suriah] tidak perlu penggunaan militer yang akan dikecam oleh badan-badan internasional, seperti penggunaan bahan kimia,” ungkapnya.

Ia mengatakan bahwa orang Kristen akan mengalami dampaknya, dan dampak akhir dari kehilangan tempat tinggal dan penganiayaan tidak akan diketahui sampai berpuluh tahun.

Pemimpin Gereja Kasdim Aleppo, Uskup Antoine Audo meragukan bahwa pemerintah akan begitu “naive dan bodoh untuk melakukan ‘kesalahan’ demikian.”

Ia mengatakan bahwa pemerintah Suriah dan oposisi bersenjata terus saling menyalahkan atas serangan kimia 2013 di pinggiran kota Damaskus.

“Dua hari lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa [Presiden Suriah] Assad adalah bagian dari jalan keluar atas masalah Suriah. Sekarang ia mengatakan yang sebaliknya,” ungkap Uskup Audo kepada Fides (5/4/2017). “Ada kepentingan kekuasaan wilayah yang terlibat dalam perang ini. Kita harus mengingat itu, khususnya ketika suatu hal berulang terjadi dengan dinamika yang sama, dan mendorong reaksi yang sama seperti di waktu lalu.”

Kantor Berita Suriah, SANA (7/4/2017) melaporkan sembilan warga sipil, termasuk empat orang anak menjadi korban serangan AS terhadap pangkalan udara Suriah itu.

Dalam pesannya pada April 5, Paus Fransiskus mengecam serangan kimia di Idlib sebagai “kejahatan yang tidak dapat diterima”  dan mendesak “mereka yang memiliki tanggung jawab politis” untuk mengakhiri “tragedi” yang masih terus berlanjut di Suriah, demikian Vatican Insider (5/4/2017).

Ia juga mengajak hadirin di alun-alun St. Petrus untuk mengingat para korban serangan di kereta bawah tanah St. Petersburg, Rusia pada 3 April. “Saya mengungkapkan kedekatan rohani kepada keluarga mereka dan semua yang menderita akibat peristiwa tragis ini.”

Paus Fransiskus antara lain mengatakan bahwa kejahatan tidak dapat dikalahkan dengan kejahatan, melainkan dengan kerendahan hati, pengampunan, dan kelemah lembutan. Orang yang tidak memiliki pengharapan mencari dendam dan pembalasan.

“Karena itulah rasul Petrus mengatakan, ‘Adalah lebih baik menderita karena kebaikan daripada karena kejahatan’. Ini bukan berarti menderita itu baik, tapi bahwa ketika kita menderita karena kebaikan, kita ada dalam persekutuan dengan Tuhan, yang telah menerima penderitaan dan disalibkan untuk keselamatan kita,” ungkapnya.