Kebakaran renggut nyawa 40 gadis di Guatemala: Uskup Paredes serukan kewajiban untuk melindungi anak dan membangun fasilitas yang memadai; Luis Palau ingatkan Injil Kristus

Kebakaran renggut nyawa 40 gadis di Guatemala: Uskup Paredes serukan kewajiban untuk melindungi anak dan membangun fasilitas yang memadai; Luis Palau ingatkan Injil Kristus

GUATEMALA (Yubelium.com) — Rumah perlindungan anak di Guatemala City, ibukota Republik Guatemala, dilalap api, mengakibatkan 40 gadis remaja kehilangan nyawa di fasilitas yang dirundung masalah itu. Masyarakat dan para pemimpin gereja memanjatkan doa dan menyerukan perlindungan bagi anak-anak.

Peristiwa tragis itu terjadi pada 8 Maret ketika sejumlah remaja penghuni melakukan protes dengan membakar matras, mengakibatkan api menyebar dan membakar fasilitas yang telah melebihi daya tampung.

Gloria Castro, pengacara yang mewakili anak-anak, kepada Kongres Guatemala mengatakan bahwa para gadis yang menjadi korban tidak dapat keluar dari fasilitas karena mereka dikunci dalam sebuah ruangan, nampaknya sebagai hukuman. Pada malam sebelumnya, sekitar 60 anak melarikan diri dari fasilitas itu, demikian NCRegister (13/3/2017).

Rumah anak yang terletak di San Jose Pinula, di sebelah timur ibukota itu dirancang untuk menampung 400 gadis remaja dan anak terlantar. Namun, sekitar 750 telah menghuni fasilitas itu, termasuk mereka yang sedang bermasalah dengan hukum.

“Jika ditutup, apa yang akan dilakukan untuk para orang muda yang mempunyai hak dan kebutuhan?” tanya Uskup Raul Antonio Martinez Paredez dari keusukupan Guatemala dalam wawancara dengan CNA. “Hampir dapat dipastikan bahwa kita sebagai orang Kristen akan dapat membantu.”

Mengeluhkan pengelolaan fasilitas itu, ia menyebutkan bahwa rumah perlindungan itu menjadi “penjara anak, ketika niat aslinya adalah menjadi sebuah rumah untuk membantu anak-anak yang rentan.”

Ia menyerukan kepada pihak berwenang untuk memenuhi kewajiban mereka untuk melindungi anak-anak dan membangun fasilitas yang memadai.

Pihak kepolisian sedang mengembangkan kasus ini untuk mencari siapa yang bertanggung jawab atas hilangnya nyawa para remaja itu. Sementara itu, ribuan masyarakat di Guatemala City melakukan aksi protes turun ke jalan-jalan menuntut keadilan bagi anak-anak.

Penginjil Internasional Luis Palau bertemu Presiden Guatemala Jimmy Morales setelah peristiwa tragis itu.

“Ini adalah saat yang sulit bagi bangsa Guatemala,” kata Palau setelah pertemuan pribadinya dengan presiden. “Banyak orang yang merasa sakit. Banyak keluarga yang menderita. Banyak orang yang menanyakan pertanyaan yang mendalam.”

Luis Palau berada di Guatemala dalam rangka penginjilan ketika peristiwa itu terjadi. Ia mengatakan bahwa ia diundang untuk bertemu presiden karena duka nasional setelah kehilangan anak-anak.

“Saya menawarkan simpati terdalam saya kepada orang-orang Guatemala, khususnya keluarga-keluarga yang terkena dampak langsung tragedi itu, dan mengingatkan presiden bahwa komunitas injili berdoa bagi [Guatemala] dalam masa sulit ini,” demikian pesan Palau di halaman media sosialnya.

Dia mengatakan tragedi di rumah perlindungan itu menggarisbawahi pentingnya pesan Injil yang dibawanya.

“Apa waktu yang lebih baik bagi kita untuk mengangkat nama Yesus Kristus dan mengingatkan bangsa ini tentang harapan di dalam Dia; pengorbanan, cinta, dan perdamaian dari-Nya – sekalipun di tengah rasa sakit ini dan dukacita ini?”

Paus Fransiskus dalam pesannya di alun-alun St. Petrus, 12 Maret, mengatakan bahwa ia mendoakan dan mengajak orang lain untuk turut mendoakan, “semua anak perempuan dan laki-laki korban kekerasan, perlakuan tidak patut, eksploitasi dan perang” di dunia.

“Ini adalah sebuah wabah, tangisan tersembunyi yang harus didengar oleh kita semua. Kita tidak bisa berpura-pura tidak melihat dan mendengarnya.”