Duka di Minggu Palma Mesir: Mereka “berpulang hari ini ke Yerusalem surgawi”

MESIR (Yubelium.com) — “Hari ini sementara kita merayakan Minggu Palma serta masuknya Kristus ke Kota Yerusalem, kita juga sekarang menandai masuknya mereka yang berpulang hari ini ke Yerusalem surgawi,” demikian antara lain pernyataan Uskup Angaelos, pemimpin Gereja Kristen Koptik di Inggris Raya, yang dimuat di media resmi Gereja Koptik Ortodoks Eropa (9/4/2017) menyusul dua ledakan di dua gereja di Mesir.

“Seiring kita masuk pada perayaan Minggu Kudus Sang Juruselamat kita, kita turut merasakan rasa sakit dan kehancuran hati para keluarga dan mereka yang terkena dampak peristiwa hari ini.”

Sebuah bom meledak di Gereja Koptik St. George di Tanta, ibukota Garbhia, sebelah utara Kairo, Minggu, 9 April 2017 ketika umat sedang merayakan hari sukacita perayaan Minggu Palma, yang menandai masuknya Kristus ke Yerusalem dalam misi penyelamatan umat manusia dari dosa.

Ledakan kedua terjadi di Katedral St. Markus di Alexandria, kedudukan pemimpin Gereja Koptik, Paus Tawardos II. Paus memimpin liturgi perayaan Minggu Palma, dan diberitakan dalam keadaan baik. Korban ledakan adalah umat dan pihak keamanan.

Akibat dari serangan tak berprikemanusiaan itu, puluhan dilaporkan meninggal dunia dan lebih dari seratus orang mengalami luka-luka.

Imam Besar Al-Azhar, Ahmed el Tayyeb mengutuk serangan itu, mengatakannya sebuah “pemboman yang jahat oleh teroris yang menargetkan kehidupan orang tak bersalah,” demikian dikutip AP (9/4/2017).  “Serangan atas tempat beribadah bertentangan dengan agama Islam yang otentik dan pengajarannya tentang toleransi, [dan] gagal merusak persatuan rakyat Mesir,” ungkapnya dikutip WAM (9/4/2017).

Dewan Gereja-Gereja se Dunia mengutuk serangan itu, dan menyampaikan duka mendalam serta doa bagi para korban dan masyarakat Mesir.

Paus Fransiskus, yang dijadwalkan mengunjungi Mesir pada penghujung April meyakinkan kedekatannya dengan para korban, bahkan mendoakan para pelaku teror dan para pedagang senjata.

“Semoga Tuhan menobatkan hati orang-orang yang menabur teror, kekerasan dan kematian, juga hati para pembuat dan pedagang senjata,” demikian dikutip Aleteia (9/4/2017).

Uskup Angaelos mengecam “kebrutalan” orang yang “secara membabi-buta mengambil nyawa orang-orang tak bersalah, terlebih khusus ketika sedang dalam keadaan rentan yakni ketika jam berdoa.”

“Sementara kita merayakan Perayaan Kebangkitan yang mulia di akhir pekan ini, kita diingatkan bahwa hidup kita di dunia ini adalah sebuah perjalanan yang sering kali penuh dengan kepedihan, yang pada penghujungnya adalah sebuah janji kemulian dan kekekalan tanpa ada lagi penderitaan dan kejahatan,” tutup Uskup Angaelos dalam pesan solidaritasnya.