Paus Fransiskus bahas perang Suriah dengan Presiden Libanon, dukung para pengungsi dan upaya solusi damai

Presiden Libanon, Michel Aoun bertemu pemimpin Gereja Katolik, Paus Fransiskus di Vatikan (16/3/2017). Keduanya turut membahas konflik Suriah dan para pengungsi di tengah genap enam tahun konflik yang telah menyulut tragedi kemanusiaan yang sangat besar itu. (Foto via CNA/LOosservatore)

VATIKAN (Yubelium.com) — Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik bertemu dengan Michel Aoun, Presiden Lebanon, Kamis pagi (16/3/2017), bertepatan dengan genap enam tahun tregedi perang di Suriah.

Dalam pertemuan 20 menit itu Paus dan Presiden Aoun membahas Suriah “dengan perhatian khusus pada upaya internasional untuk menemukan solusi politik untuk konflik tersebut,” demikian pernyataan resmi Vatikan dikutip CNA (16/3).

Sejak awal perang Suriah pada 15 Maret 2011, lebih dari 400.000 orang tewas dalam konflik antara pasukan pemerintah dan kelompok-kelompok pemberontak, dan lebih dari 11 juta telah mengungsi dari rumah mereka, demikian menurut Komisi Kebebasan Beragama Internasional Amerika Serikat (USCIRF).

Sementara sekitar lima juta orang telah meninggalkan negara mereka, dan setidaknya 2,2 juta di antaranya berada di Lebanon dan 1 juta di Yordania. Ini telah menempatkan tekanan besar pada negara-negara itu, yang sebelumnya memiliki populasi hanya 4 juta dan 6 juta orang.

Konflik itu juga telah membuat Suriah rentan terhadap serangan kelompok teroris Daesh (sebutan lokal untuk ISIS), menambah kompleksitas konflik, terlebih korban jiwa dan materil.

Paus menyatakan penghargaan terhadap Libanon yang telah menyambut banyak pengungsi Suriah sejak perang berkecamuk. Kedua pemimpin juga bertukar pandangan mengenai situasi dalam konteks wilayah yang lebih besar termasuk konflik lainnya yang sedang berlangsung, terutama keadaan orang Kristen di Timur Tengah.

Lebanon, secara resmi dikenal sebagai Republik Lebanon, adalah negara berdaulat berbatasan dengan Suriah di utara dan timur, dan Israel di selatan.

Pertemuan itu juga “berfokus pada hubungan bilateral yang baik antara Takhta Suci dan Libanon…” termasuk “harapan untuk kerjasama yang baik ke depan antara komunitas etnis dan agama yang beragam untuk mendukung kepentingan umum dan pembangunan bangsa.”

Pada kunjungan tersebut, kedua pemimpin turut bertukar hadiah. Presiden Aoun memberikan Paus pahatan perunggu Bayi Kristus Praha berlambang Tahta Suci dan Lebanon, sedang Paus memberi Presiden Aoun pahatan perunggu cabang zaitun sebagai tanda perdamaian, serta tiga buku: Evangelii Gaudium dalam bahasa Prancis, dan Amoris Laetitia dan Laudato Si dalam bahasa Arab.