Dari kegelapan ke dalam terang: kesaksian anak pendeta meninggalkan gaya hidup gay

Sebagai anak pendeta, yang sulung dari empat bersaudara, George Carneal tumbuh besar di gereja.

“Sekitar umur tujuh tahun aku merasakan tuntunan untuk menyerahkan hidupku bagi Yesus,” demikian tertuang dalam bukunya From Queer to Christ: My Journey Into the Light (dari queer kepada Kristus: perjalananku menuju terang). Setelah mengaku imannya di depan jemaat, ia dibaptiskan oleh ayahnya.

Carneal adalah seorang anak yang pemalu dan terkesan kemayu. Ketika ia duduk di kelas empat, ia sering diolok-olok teman-temannya, dan dipanggil dengan rupa-rupa sebutan. Jarang ia masuk tim olah raga, dan lebih banyak bermain dengan teman-teman perempuannya.

Semakin hari, olok-olokan yang diterimanya semakin menjadi, apakah caranya berjalan atau caranya memegang buku.

Di sekolah menengah ia sempat pacaran dengan beberapa gadis, namun dalam pengakuannya ia merasa tertarik terhadap laki-laki, “aku tidak tahu mengapa,” tulisnya.

Masa kecil yang menantangKetika krisis menghantam

Setelah lulus, pertemuannya dengan seorang penyuka sesama jenis mendorongnya merasa bahwa ia adalah juga penyuka sesama jenis.

Sementara ia memproses perasaan yang ia alami, ayahnya sedang bergumul dengan krisis di tengah jemaat yang sementara ia layani.

Jemaat itu memutuskan untuk tidak lagi mau dilayani oleh ayahnya.

Hal itu sangat menyakiti Carneal. Ia sampai mengatakan bahwa ia membenci Tuhan. Mengapa orang Kristen melakukan ini terhadap ayah saya? tanyanya. Ia pun memutuskan untuk menjauh dari gereja dan masuk dalam gaya hidup homoseks.

Setelah dua tahun ayahnya menerima panggilan untuk melayani sebuah gereja di Kentucky.

“Aku memutuskan untuk pergi ke Florida, dan tinggal dengan seorang waria dan pacarnya.”

Mendengar suara dari Tuhan

Di Fort Lauderdale, Florida, ia memiliki tiga pekerjaan berbeda untuk dapat mencukupi kebutuhannya. Ia kemudian menjadi pria tunasusila (PTS) untuk mencari uang lebih. Ada saat-saat yang sulit dan keras yang harus dia alami.

Satu kali ketika sedang menuju sebuah bar ia merasakan Tuhan sedang berbicara padanya.

“Terasa seperti semua suara di sekelilingku diturunkan dan aku mendengar dengan jelas suara itu berbisik di telingaku: Sekiranya kau mati malam ini apakah kau akan ke neraka?”

Ia bergetar, tapi tidak memberitahu teman-temannya apa yang sedang terjadi. Ia memutuskan untuk mengabaikan suara itu. Dalam jiwanya rasa cemas sedang melingkupi jiwanya.

“Aku terbuka untuk mencoba apa saja untuk mendatangkan kegirangan dan mencari cara untuk mengisi kekosongan dalam diri, hanya untuk mendapati bahwa semuanya tidak memuaskan,” kenangnya.

“Aku telah bergumul dengan depresi dan tak bisa lagi menyamarkan kepedihan dengan obat-obatan dan alkohol.”

Pada satu malam terbersit dalam pikirannya untuk melakukan bunuh diri. Ia bahkan telah menggenggam sebotol pil, namun ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya.

Yang menakjubkan adalah keesokan harinya, ayahnya – didorong oleh Roh Kudus – menelepon puteranya.

“Aku sangat jarang menghubungi keluargaku. Adalah hal yang aneh tiba-tiba ayahku menelepon. Ia mengatakan padaku sudah waktunya aku pulang ke rumah, dan aku tidak mempersoalkan itu.”

Jujur dengan keluarga

Ketika ia pulang ke rumah, Carneal mengaku bahwa ia adalah seorang gay.

“Ayahku tidak menyetujui praktek homoseks samasekali, tapi ia tidak bereaksi secara negatif. Ia terlihat tidak mau membicarakan hal itu, dan aku memutuskan untuk tidak memaksakan persoalan itu karena kau merasakan bahwa ia tidak merasa nyaman dengan berita itu.

“Aku bersyukur karena keluargaku tidak menolakku atau mengusirku dari rumah,” tulisnya. “Aku tahu keluargaku mengasihiku.”

Seorang teman lama keluarganya mencarikan pekerjaan bagi Carneal di Clarksville, Tennessee. Ia pun tinggal bersama keluarga itu dan ikut mereka ke gereja.

Carneal kembali memberikan hidupnya kepada Tuhan, dan memilih supaya ia dibaptiskan kembali.

“Aku tidak tahu bagaimana menghubungkan seksualitasku dengan kerohanianku, tapi aku tahu aku mau menyenangkan hati Tuhan,” tulisnya.

“Aku bersyukur kepada Tuhan karena memberiku apa yang kurindukan: kedamaian. Kali ini pasti akan berbeda.”

Kekosongan dalam jiwa

Namun harapannya tidak berlangsung lama, karena ia merasa bergumul dengan ketertarikan sesama jenis.

Carneal kembali mengunjungi bar. Depresi kembali menjadi bagian hidupnya, dan pikiran untuk mengambil nyawanya sendiri semakin kuat.

Ia memutuskan untuk pindah ke Los Angeles dengan seorang teman, dan memperoleh pekerjaan di Hollywood.

“Pada waktu itu aku merindukan untuk ada di gereja. Aku merasa begitu kosong, ada sesuatu yang hilang. Aku memiliki kerinduan yang besar untuk Tuhan, namun merasa Tuhan tidak menginginkan aku karena aku seorang penyuka sesama jenis.”

Carneal mengaku bahwa ada hari-hari ia hanya berada di atas tempat tidurnya menangis. Pergumulan terus-menerus antara imannya dan ketertarikan sesama jenis yang ada dalam dirinya melelahkan dan menyiksa.

Ia lalu mulai menghadiri sebuah gereja yang mengkhotbahkan gay friendly theology.

Penafsiran Alkitab mereka membuatnya bingung. “Berkali-kali aku mencurahkan isi hatiku kepada Tuhan lewat permohonan dan isak tangis menjadi-jadi untuk memberikan aku kedamaian menyangkut masalah ini. Aku tidak tahu mana yang harus aku percaya.”

Ketika ayahnya datang mengunjunginya, Carneal membawa ayahnya ke gereja itu. Namun hasilnya adalah keduanya terlibat dalam perdebatan, dengan ayahnya bersikeras bahwa praktek homoseks adalah salah.

Setelah itu Carneal kembali dalam pencarian yang membawanya ke sebuah kuil di Holywood, yang menawarkan berbagai macam guru – dengan Yesus sebagai salah satunya. Sampai ketika ia menyimpulkan tak bisa menerima reinkarnasi, ia masih menghindari pertemuan dengan orang Kristen.

Telepon dari ayah

Satu malam ia pergi ke sebuah toko buku Kristen untuk mencari buku mengenai tindakan bunuh diri dari sudut pandang Alkitab. Rasa takutnya akan penghukuman kekal telah mencegahnya dari melakukan dorongan-dorongan untuk menyakiti dirinya sendiri. Namun, ketika ia tidak mendapati buku yang dicarinya, ia duduk di lantai dan menangis.

Ia menulis bahwa saat itu ia seperti sedang berada di puncak kesuksesan menurut pandangan dunia, “tapi jujur, di dalam aku putus asa, rusak, dan memikirkan bunuh diri.”

Dalam keputus asaan itu, sekali lagi ayahnya, di dorong oleh Roh Kudus, meneleponnya, setelah empat tahun tidak saling bicara.

Carneal menangis tersedu-sedu di telepon, dan mengatakan bahwa ia membutuhkan ayahnya.

Ia kemudian pulang ke rumah dan bercakap-cakap secara mendalam dengan keluarganya.

Awal pemulihan

“Aku akhirnya memahami ketidak setujuan ayahku terhadap homoseksualitas bukan sebuah serangan pribadi terhadap ku. Ia menguatirkan hubunganku dengan Tuhan, keselamatanku, dan di mana aku akan melewatkan kekekalan. Aku mengerti. Ia mengasihiku!”

Carneal kembali ke gereja, kembali menyerahkan hidupnya kepada Tuhan, dan merasa ia perlu dibaptiskan kembali.

“Aku harus berhenti bersikukuh dengan Allah.

“Ketika aku sungguh-sungguh menyerah diri pada kehendak-Nya, bukan kehendakku, aku lihat perubahan mulai terjadi dalam hidupku.

“Ini membawaku pada delapan tahun perjalanan untuk Tuhan melakukan ‘bersih rumah’, menghapus kebohongan-kebohongan tentang Allah yang telah kuserap dalam pikiranku dari orang Kristen yang berpengaruh buruk, dan membuka mataku dari penyesatan ‘gaya hidup homoseksual’.”

Carneal menyadari bahwa kerinduannya untuk kasih sayang dari seorang figur laki-laki telah menjadi candu seperti obat-obat terlarang dan alkohol.

“Tuhan penuh kesabaran; Ia tahu bahwa kesembuhan dan kepenuhan harus terjadi terlebih dahulu bagiku untuk akhirnya bisa memiliki kekuatan untuk meninggalkan hidup lamaku.

“Tuhan dengan murah hati melepaskanku dari kecanduan seksual.

“Ketertarikan itu masih ada, tapi tidak lagi mengontrolku. Aku telah memilih jalan untuk hidup bertarak.”

Carneal menolak teologi gay. Ia menulis bahwa bagaimanapun ia mencoba merekonsiliasi argumen yang mendukung homoseksualitas, bahkan “perkawinan sesama jenis,” ia “tidak bisa, secara nurani, mengabaikan kebenaran Allah lagi.”

“Mendorong seorang yang memiliki ketertarikan sesama jenis dalam hidup seperti itu adalah mendorong perbudakan yang lebih jauh dalam hidup yang merupakan pemberontakan terhadap Allah,” ungkapnya.

“Aku tak lagi disiksa oleh masa laluku. Aku menyerahkannya pada Tuhan, bertobat, meminta pengampunan, dan persoalan itu telah selesai dengan Allah.

“Aku tidak hanya memperoleh perdamaian dengan Allah, namun akhirnya aku juga memiliki damai atas diriku sendiri,” tulisnya.

“Terpujilah Tuhan! Identitasku ada dalam Kristus, bukan seksualitasku.”

 

 

Disadur dari “Pastor’s son lived with a drag queen, but God’s truth led him out of gay lifestyle” oleh Mark Ellis, Godreports.com, 2 February 2017, http://blog.godreports.com/2017/02/pastors-son-lived-with-a-drag-queen-but-gods-truth-led-him-out-of-gay-lifestyle/