Pemimpin gereja-gereja AS dan Irak kritik kebijakan penghentian sementara penerimaan pengungsi

Ilustrasi: para pengungsi menghindar dari wilayah konflik dan kekerasan. (Foto: freebeacon)

AMERIKA SERIKAT (Yubelium.com) — Ratusan pemimpin gereja berlatar belakang injili membuka suara mendesak administrasi pemerintahan AS untuk merubah arah kebijakan yang mengurangi jumlah penerimaan pengungsi di negara itu.

Pernyataan sikap itu dikemukakan lewat satu halaman surat kabar The Washington Post pada Rabu (8/2/2017). Nama-nama penanda tangan yang cukup dikenal luas antara lain Timothy Keller dan Max Lucado, keduanya pendeta sekaligus penulis.

“Sebagai pemimpin dan pendeta Kristen, kami sangat prihatin dengan pengumuman baru-baru ini tentang penghentian sementara penerimaan pengungsi,” demikian pernyataan itu dilansir Christianity Today (10/2/2017). “Sebagai orang Kristen, kami memiliki panggilan bersejarah yang terungkap dua ribu tahun yang lalu, untuk melayani yang menderita. Kami tidak bisa meninggalkan panggilan itu di masa kini.”

Mereka mengakui perlunya peran pemerintah untuk menjaga keamanan dan membuat kebijakan bagi para pengungsi, namun perintah eksekutif yang digunakan Presiden Donald Trump dinilai gagal mencapai titik seimbang antara belas kasih dan keamanan.

“Kami berkerinduan menyambut para pengungsi Kristen, kami juga menyambut mereka yang rentan, para Muslim dan orang-orang dari agama lain atau tidak memiliki agama. Perintah eksekutif ini mengurangi jumlah pengungsi untuk tahun ini secara dramatis, merampas harapan dan masa depan banyak keluarga. Dan bisa jadi ini mengancam jiwa mereka.”

Jumlah penanda tangan di situs organisasi World Relief yang mensponsori pernyataan itu sampai Selasa (21/2) telah mencapai hampir 7000.

Sikap Gereja Katolik

Sebelumnya, Konferensi Wali Gereja Amerika Serikat (KWAS) dalam pernyataan bertanggal 27 Januari 2017 telah menolak langkah pemerintah AS itu.

“Kami sangat tidak setuju dengan Perintah Eksekutif yang menghentikan masuknya para pengungsi. Kami yakin saat ini lebih dari waktu sebelumnya, menyambut para pengungsi dan pendatang adalah tindakan kasih dan pengharapan, ungkap Uskup Joe S. Vasquez di Austin, Texas, ketua Komite Keimigrasian KWAS.

Ia menyatakan pihaknya akan terus berupaya menyambut para pengungsi secara manusiawi dalam kerjasama dengan organisasi kemanusiaan yang bernaung di bawah Gereja Katolik, “tanpa mengorbankan keamanan dan nilai mendasar sebagai warga Amerika, untuk memastikan para keluarga dipersatukan dengan orang-orang yang mereka kasihi.”

Tanggapan pemimpin gereja Irak

Sementara itu, pemimpin Gereja Katolik Timur Patriark Gereja Kasdim di Irak, Luis Rafael Sako, menilai langkah pemerintah AS demikian merupakan “perangkap” bagi orang Kristen, demikian Fides (30/1/2017).

“Setiap kebijakan penerimaan [pengungsi] yang membedakan yang tertindas dan menderita atas dasar keagamaan, pada akhirnya membahayakan orang Kristen di Timur, karena antara lain memberi argumen pada propaganda dan prasangka yang menyerang masyarakat asli berlatar belakang Kristen sebagai ‘antek asing’ – kelompok yang dibela oleh kekuatan-kekuatan Barat.”

Hal itu dikatakannya “menciptakan dan menambah ketegangan dengan orang-orang sewarga negara kami yang berlatar belakang Muslim.”

“Mereka yang mencari pertolongan tidak perlu dibagi menurut lebel agama,” ungkapnya.

“Dan kami tidak mau diistimewakan. Ini yang diajarkan oleh Injil, dan yang ditunjukkan oleh Paus Fransiskus, yang menyambut para pengungsi di Roma yang mengungsi dari Timur Tengah, baik Kristen maupun Muslim, tanpa membeda-bedakan.”