Lindungi anak, kota Rusia tolak para pendukung ideologi transeksual/LGBTQ berpawai

gereja

Sebuah gereja di kota Selekhard, Rusia. (Foto: The Siberian Times)

RUSIA (Yubelium.com) — Administrasi kota Salekhard, terletak di wilayah kutub Rusia, menolak permintaan ijin dari kelompok pendukung paham transeksual/ LGBTQ, merujuk peraturan di negara itu yang melarang berbagai kegiatan yang dapat membahayakan perkembangan anak.

Paham transeksual melihat bahwa seksualitas manusia tidak dalam bingkai biologis perempuan dan laki-laki, dan berpendapat bahwa orang dapat memilih identitas seksualnya sendiri.

“Kami menerima pemberitahuan tentang pertemuan yang akan diadakan pada 29 dan 31 Januari, dan sebuah pawai pada 30 Januari. Kegiatan itu dirancang untuk 300 orang. Penolakan [atas pelaksanaan kegiatan itu] telah dikirim kepada pemohon,” ungkap perwakilan pers kota Salekhard, mengungkapkan bahwa usulan kegiatan bertentangan dengan peraturan “Perlindungan Anak terhadap Informasi yang Membahayakan Kesehatan dan Perkembangan Mereka,” demikian Interfax-Religion dilansir Pravoslavie (1/20/2017).

Ini adalah pertama kali kelompok tersebut memasukan pemberitahuan, dan telah membawa penolakan itu kepada pengadilan kota.

Peraturan Perlindungan Anak disahkan di Rusia pada 2010, melarang penyebaran material yang menggambarkan kekerasan, kegiatan yang melanggar hukum, penyalahgunaan obat-obatan dan bahan kimia, menyakiti diri sendiri. Pada 2013 peraturan itu diamandemen dengan larangan menyebarkan material yang mempropagandakan hubungan seksual non-tradisional.

Pendukung paham transeksual di satu sisi nampak hendak menekankan martabat orang-orang yang teridentifikasi dengan hasrat dan kondisi seksual tertentu, namun di sisi lain cenderung mendukung praktek-praktek seksual tabu dan penyebarannya.

Kolonialisme Ideologi

Terkait, pemimpin umat Katolik, Paus Fransiskus sebelumnya telah mengecam apa yang disebutnya sebagai salah satu “kolonialisme ideologi” dalam sebuah wawancara di Krakow, Polandia, 27 Juli 2016.

“Di Eropa, Amerika, Amerika Latin, Afrika, dan sejumlah negara Asia, ada bentuk-bentuk asli dari kolonialisme ideologi yang sedang terjadi. Dan salah satunya – saya menyebutnya secara jelas dari namanya – adalah [ideologi] jender.

“Anak-anak saat ini – anak-anak! – diajarkan di sekolah bahwa semua orang dapat memilih jenis kelamin mereka. Mengapa mereka mengajarkan ini? Karena buku-buku disediakan oleh orang-orang dan lembaga-lembaga yang memberi [mereka] uang. Bentuk-bentuk kolonialisme ideologi demikian ini juga didukung oleh negara-negara berpengaruh. Dan ini sungguh sangat buruk!”

Transkrip wawancara itu dimuat di situs Vatikan.

Kelompok LGBTQ di Amerika Serikat mengecam pernyataan Uskup Roma itu, seperti dilaporkan NY Times (3/8/2016).

Sebelumnya, dalam kunjungannya di Filipina pada 2015, Paus Fransiskus turut memperingatkan bahaya kolonialisme ideologi yang hendak menghancurkan keluarga.

Dalam kesempatan kunjungan itu, ia mengajak umat untuk “[m]emproklamasikan keindahan dan kebenaran pesan Kristen pada masyarakat yang sedang dicobai oleh penggambaran membingungkan mengenai seksualitas, pernikahan, dan keluarga.”

Dalam surat ensiklikalnya Laudato Si, yang mengajak untuk menjaga lingkungan hidup, Paus Fransiskus turut menyebutkan: “Penerimaan tubuh kita sebagai anugerah Allah adalah penting untuk menyambut dan menerima seluruh bumi sebagai pemberian Bapa dan rumah kita bersama.”