Gereja Inggris tetap pada ajaran Kristen tentang pernikahan, mengakui pergumulan dalam konteks budaya (up-dated)

Pemimpin Gereja Anglikan, Uskup Agung Justin Welby mengambil bagian dalam perayaan Jumat Agung di Inggris dengan mengarak simbol salib; insert Uskup Agung Welby dalam jubah Gereja Anglikan. (Foto: huffington.co.uk/dailymail)

INGGRIS RAYA (Yubelium.com) — Menyusul dua tahun konsultasi, Dewan Uskup Gereja Inggris secara pastoral menyatakan sikap untuk setia pada ajaran Kristen tentang pernikahan, sekaligus mengakui tantangan dan pergumulan yang dihadapi masyarakat dalam konteks budaya Barat, termasuk orang dengan identitas transeksual (ODIT) yang mendapati diri dalam situasi sulit.

“Kami berupaya menyatukan tuntutan teologi moral, panggilan kami untuk memberikan pendampingan pastoral dan membagikan kasih pada semua yang mendambakannya, kaitan antara pendampingan pastoral dan misi kami untuk memuridkan,

“dan pemeliharaan akan integritas kami sebagai bagian dari Gereja yang Esa, Kudus, Am, dan Rasuli, sekaligus integritas kami sebagai pembawa ajaran-ajaran yang telah kami terima.

“Merangkul semua bagian dari panggilan kami bersama itu, bukan merupakan suatu hal yang secara langsung membawa pada resolusi yang mudah, cepat dan tak menyakitkan,” demikian poin ke-5 pernyataan bertanggal 23 Januari 2017 itu.

Pergumulan keluarga dan masyarakat

Dokumen itu menyebut “keterasingan manusia” sebagai “skandal besar” dalam masyarakat Barat.

Keluarga dan komunitas masyarakat yang “menjaga kemanusiaan” terus mengalami pergumulan, karena “kelangsungan hubungan manusia yang kuat, hangat, timbal-balik, saling menguntungkan, dan penuh kasih terlalu sering diabaikan.”

Sedang hal-hal menyangkut seksualitas tidak dapat dipisahkan dari rumah tangga, persahabatan, dan pada akhirnya dari komunitas masyarakat, terungkap dalam dokumen itu.

Dalam aturan Gereja Canon B 30.1 dikatakan “Gereja Inggris menegakkan, seturut ajaran Tuhan kami, bahwa pernikahan pada hakikatnya adalah penyatuan yang tetap dan seumur hidup, dalam suka dan dalam duka, sampai maut memisahkan mereka, seorang laki-laki dan seorang perempuan, tidak ada yang lain di kedua belah pihak,

“untuk maksud membawa keturunan dan pemeliharaan anak-anak, bagi pengudusan dan arah yang benar bagi naluri dan kasih alami, dan bagi persekutuan yang saling mendukung, membantu dan menghibur, yakni pikiran yang satu harus miliki terhadap yang lain, baik dalam masa suka maupun sukar.”

Sambutan positif dan negatif

Seorang pekerja gereja, yang telah ‘menikahi’ pasangan sesama jenisnya dalam tindakan menolak ajaran Gereja Anglikan, mengatakan bahwa dokumen itu merupakan “kegagalan telak dalam kepemimpinan,” demikian Guardian (1/27/2017).

Para pendukung ideologi transeksual, atau disebut LGBTQ, menuntut supaya gereja menerima dan memberkati hubungan dan ekspresi seksual mereka.

Reform, sebuah kelompok pembaharuan dalam Gereja Inggris, mengangkat syukur karena Dewan Keuskupan tidak menganjurkan perubahan pada ajaran Gereja dan memberi dukungan pada niat untuk menyambut setiap orang dalam Gereja Anglikan.

“Kami berdoa supaya hal ini dapat memberi setiap orang kesempatan untuk mendengar kabar baik yang terbuka bagi semua [radical inclusive] yang membawa pada transformasi sejati [radical transformation] yang ditawarkan oleh Yesus Kristus,” demikian pernyataan persnya bertanggal 27 Januari.

Namun demikian, mereka turut menyatakan prihatin dengan anjuran untuk “memungkinkan kebebasan maksimum” dalam peraturan itu, demi mencari jalan tengah antara kebenaran Alkitab dan kepekaan budaya. Dalam  hal itu mereka melihat para uskup “gagal dalam tugas pastoral utama mereka untuk mengajarkan kebenaran dan menjauhkan kesalahan.”

%d bloggers like this: