Dalam hidup orang percaya tidak ada yang kebetulan: Polisi lumpuh dalam tugas, menjadi duta perdamaian dan pengampunan

(Foto: NCRegister)

(Foto: NCRegister)

AMERIKA SERIKAT (Yubelium.com) — Penderitaan hidup tidak membuat Steven McDonald, seorang petugas kepolisian New York menyerah. Justru dalam penderitaan itu ia menjadi pelayan Tuhan yang efektif, dan ketika ia berpulang banyak orang telah diberkati oleh semangat, harapan dan imannya.

Ia berusia 29 tahun dan baru delapan bulan menikah dengan isterinya, Patti Ann ketika ia terkena tembakan dalam sebuah insiden perampokan di tahun 1986. Tiga peluru bersarang di tubuhnya, salah satu mengenai saraf tulang belakang. Waktu itu ia diperkirakan takkan bertahan.

Namun, ia hidup 30 tahun lagi untuk membawa berita pengampunan dan perdamaian.

Ia memaafkan penyerangnya yang berusia 15 tahun, dan tidak pernah jatuh dalam pengasihan dan penyesalan diri, sekalipun ia harus hidup dengan kelumpuhan dan alat bantu pernafasan.

Seorang penganut Katolik, Steven dan keluarganya mendapat pelayanan dari Kardinal New York John O’Conor yang datang membacakan Misa setiap hari di rumah sakit.

Pihak rumah sakit memberitahu keluarga Steven bahwa ia akan menggunakan kursi roda di sisa hidupnya, takkan bisa menggerakkan tangan dan makan lewat selang infus.

Satu kali roti perjamuan kudus tak bisa ia telan, karena itu ditaruh di atas dahinya.

Mereka yang hadir saat itu merasakan perubahan dalam diri Steven.

Nantinya ia pun mengatakan, “Adalah kasih Allah yang membawaku kembali utuh. Yesus ada bersama kami dalam ruangan rumah sakit itu. Saya percaya bahwa dalam hidup tidak ada yang namanya kebetulan, hanya ‘peristiwa Allah’,” ungkapnya mengingat ungkapan Paus Yohanes Paulus Ke-2, ‘Dalam rancangan Pemeliharaan Allah, tidak ada yang semata-mata kebetulan’.

“Saya percaya Yesus karena saya dibesarkan demikian; tapi saya mengenal-Nya karena saya mengalami tindakan Allah dalam hari-hari itu.

“Seminggu setelah saya tertembak, media minta untuk wawancara dengan isteri saya. Sekalipun masih dalam keadaan syok, Patti Ann dengan berani mengatakan kepada semua bahwa ia menaruh percaya pada Tuhan untuk melakukan yang terbaik bagi keluarganya.

“Hal itu tidak hanya menjadi dasar bagi pemulihan saya, namun juga bagi seluruh kehidupan kami. Ketika hal seperti ini terjadi, kadang orang menjauh dari Tuhan. Patti Anna mengajarkan pada saya untuk tidak melakukan itu. Kita menaruh percaya pada Tuhan.”

Patti Ann mengatakan, “Lewat iman saya melihat bahwa Tuhan memiliki rencana yang berbeda untuk semua ini. Ada maksud yang lebih besar dalam tindak kekerasan tak berperasaan ini.”

Pengampunan

Pengampunan adalah lebih dari sekedar pesan bagi Steven.

“Kardinal O’Connor mendorongku untuk membuka hati bagi kasih karunia yang ada untuk memaafkan. Saya tahu bahwa memaafkan adalah sesuatu yang tak jarang perlu usaha. Kita harus memaafkan setiap hari,” ungkapnya.

Pada hari pembaptisan anaknya, Steven secara publik memaafkan pelaku penembakan, dan meminta doa bagi orang muda itu.

“Saya memaafkan dia, dan saya berharap ia dapat menemukan kedamaian dan maksud dalam hidupnya. Saya meminta supaya kalian mengingat mereka yang kurang beruntung dari saya, yang bergumul untuk martabat hidup, tanpa perhatian dan tanpa bantuan yang telah memberikan saya hidup ini. Tuhan memberkati kalian semua.”

Ia juga mengatakan “ingin membebaskan diriku dari semua emosi negatif dan yang merusak, yang dibangkitkan oleh tindak kekerasan ini dalam diri saya: kemarahan, kepahitan, kebencian. Saya perlu melepaskan diri dari semua itu supaya saya bisa bebas mengasihi isteri saya dan anak kami dan orang-orang di sekitar kami.

“Saya sering mengatakan kepada orang bahwa satu-satunya yang lebih buruk dari sebuah peluru di tulang belakang adalah memupuk dendam dalam hati saya. Sikap itu hanya akan meluaskan cedera tragis ini ke dalam jiwa saya, dan lebih menyakiti isteri saya, putera saya, dan orang-orang lain. Sudah cukup buruk bahwa efek fisik ini permanen, tapi setidaknya saya bisa memilih untuk mencegah cedera rohani.”

Ia juga berharap dapat membantu pelaku penembakan itu setelah ia menyelesaikan masa hukumannya, namun pemuda itu meninggal dalam sebuah kecelakaan motor di tahun 1995, tak lama setelah ia keluar dari lembaga pemasyarakatan.

Pada 10 Januari lalu Steve menghembuskan nafas terakhir akibat serangan jantung.

Dalam ibadah pemakaman 13 Januari yang diselenggarakan di Katedral St. Patrik New York, puteranya yang diberi nama Connor mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang pahlawan yang “mau memastikan bahwa waktunya di dunia tidak tersia-siakan” dan seorang yang “menjadikan misinya adalah membuat kami menyadari bahwa kasih harus menang…Orang tua saya membuat sebuah hidup yang menakjubkan dari penderitaan seperti itu.”

Setelah cedera yang dialaminya Steven menjadi aktif dalam membagikan pengalamannya. Ia menjadi pembicara dalam berbagai kelompok pertemuan, dari para siswa, kelas katekisasi, sampai di pusat rehabilitasi dan lembaga pemasyarakatan.

Ia melewatkan waktu dalam penginjilan setiap minggu lebih banyak dibanding orang lain. Dan itu semua ia lakukan di atas kursi roda dan dengan alat bantu pernafasan.

Ia sering mengatakan bahwa ia yakin apa yang terjadi padanya adalah kehendak Allah dan bahwa ia dimaksudkan untuk menjadi seorang pembawa pesan perdamaian, pengampunan, dan rekonsiliasi di dunia.

Dalam hidupnya Steven turut terlibat dalam sejumlah upaya perdamaian di wilayah-wilayah yang dirundung peperangan.

Ia memproklamasikan kepada setiap orang yang mau mendengar bahwa Yesus Kristus adalah jalan satu-satunya, dan bahwa damai hanya dapat diperoleh lewat pengampunan.

 

Sumber: NCRegister