Konteks surah al-Maidah 51 dan tuduhan penodaan agama terhadap BTP: Apakah tafsiran MUI benar atau keliru?

Ahok di Tweeter: Dipeluk seorang warga Ibukota. Popularitasnya telah membuat lawan-lawan politis gerah mencari cara untuk memenangkan Pilkada DKI Jakarta.

Ahok di Tweeter: Dipeluk seorang warga Ibukota. Popularitasnya telah membuat lawan-lawan politis gerah mencari cara untuk memenangkan Pilkada DKI Jakarta.

EKKLESIASTIKA — “Pada hari ini dihalalkan bagi kalian yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab [Nasrani dan Yahudi] itu halal bagi kalian, dan makanan kalian halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kalian, bila kalian telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina[h] dan tidak (pula) menjadikan gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam), maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi” (al Maidah ayat 5).

Bagian al Maidah di atas sedikit memberi pandangan yang lebih luas perihal hubungan antara Islam, Kristen, dan Yahudi, dan bagaimana mengartikan al Maidah 51 dalam konteks beragama dan bermasyarakat sekarang ini di Indonesia.

Al Maidah 51 tiba-tiba menjadi ayat terkenal setelah dirujuk oleh Ir Basuki Tjahaja Purnama (BTP) di Kepulauan Seribu pada September lalu untuk mengingatkan supaya masyarakat cerdas memilih pemimpinnya dengan nurani, jangan termakan ancaman oknum-oknum tertentu dengan mengutip dari Kitab Suci.

Ungkapan itu yang telah dijadikan pijakan bagi orang-orang tertentu untuk menuduhkan penodaan agama terhadap BTP, calon inkumbet perebutan jabatan Gubernur DKI Jakarta.

Mempelajari al Maidah ayat 51

Yang hendak disikapi lewat tulisan ini adalah pendekatan keagamaan dan penafsiran Kitab Suci terkait al Maidah 51 lewat Hadits dan dari sudut ilmu tafsir beberapa tokoh dan pemikir Islam, dengan memberikan perhatian khusus pada konteks yang lebih luas dari ayat-ayat itu, termasuk kaitan keimanan antara agama-agama Abrahamik (Islam, Kristen, dan Yahudi).

Dari ucapan tersebut di atas terlihat bahwa BTP telah mempelajari bagian Al Qur’an tersebut. Sebagai seorang pemimpin, gubernur dan sebelumnya sebagai seorang bupati, ia adalah pemimpin bagi masyarakat Muslim dan non-Muslim – wajar ia mencari pemahaman dalam hal itu.

Dan ia memiliki pemahaman bahwa ayat yang sering dikutip oleh lawan-lawan politiknya memiliki konteks khusus, sehingga pemaknaan ayat-ayat tersebut seharusnya tidak seperti dalam penggunaan oleh lawan-lawan politiknya.

Tapi rupanya bukan hanya lawan-lawan politiknya yang memiliki pemahaman tersebut.

Front Pembela Islam (FPI) memiliki pandangan tersebut, dan Majelis Ulama (MUI) telah mengeluarkan surat resmi yang ditanda tangani oleh Ketua Umum, DR KH Ma’ruf Amin dan Sekretaris Jenderal, DR H Anwar Abbas, MM, MAg, menyatakan bahwa tafsiran seperti itu yang diterima MUI.

Poin pertama surat MUI bertanggal 11 Oktober 2016 adalah: “Al-Quran surah al-Maidah ayat 51 secara eksplisit berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Ayat ini menjadi salah satu dalil larangan menjadikan non Muslim sebagai pemimpin.”

Ibnukatsironline.com menerjemahkan isi al-Maidah ayat 51 sebagai berikut:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali kalian; sebagian mereka adalah wali dari sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kalian mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.

Istilah “wali” yang dipakai dalam ayat ini telah dipahami secara bervariasi tergantung dari konteksnya, dapat diartikan sebagai “teman dekat,” “sekutu” atau “pelindung.”

Dari sebuah Hadits yang dikutip Ibnukatsironline, al Maidah ayat 51-53 lahir ketika dua orang datang kepada Nabi junjungan Islam, keduanya memiliki banyak teman dari golongan Yahudi – memiliki teman dalam konteks ini berarti memiliki perlindungan – yang satu menyatakan tidak lagi mencari perlindungan dari pertemanannya dengan golongan Yahudi, sedang yang lain menyatakan sebaliknya, karena ia takut menghadapi bencana (perang), tanpa perlindungan dalam suatu kelompok yang kuat.

Maka Rasulullah Saw. Bersabda kepada Abdullah ibnu Ubay, “Hai Ab[d]ul Hubab, apa yang engkau pikirkan, yaitu tidak mau melepaskan diri dari berteman setia dengan orang-orang Yahudi, tidak seperti yang dilakukan oleh Ubadah ibnus Samit. Maka hal itu hanyalah untukmu, bukan untuk Ubadah.”

Abdullah ibnu Ubay berkata, “Saya terima.” Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian).

Menilai dari nada sikap Islam terhadap “Ahl Al-Kitab,” ada pemikiran bahwa yang dimaksud dengan “Yahudi dan Nasrani” itu bukan diarahkan kepada kedua kelompok tersebut secara keseluruhan, melainkan pada mereka yang memusuhi ajaran Islam.

Akrobon Naim, dalam skripsi berjudul “Interpretation M. Quraish Shihab and Interpretation Hamka about Auliya on Al Maidah Verse 51” di UIN Sunan Ampel Surabaya (2013), mengulas pandangan M. Quraish Sihab dalam Tafsir al-Misbah, vol 3 yang mengatakan bahwa jika ada orang Yahudi atau Nasrani atau siapapun yang lebih suka mengikuti kepercayaan fasik dan tidak menghiraukan hukum Allah, bahkan berniat menjauhkan Muslim dari pewahyuan Allah, maka ayat ini, jangan mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani, ataupun orang-orang lainnya, jangan mengambil mereka sebagai Auliya’, atau orang-orang dekat.

Mereka semua pada hakikatnya sama, dan tidak percaya dan membenci kalian, karena mereka menjadi Auliya’ bagi mereka yang menentang kalian, sebab mereka mempunyai kepentingan yang sama, sekalipun agama dan keyakinan mereka berbeda satu dengan yang lain. Siapapun di antara kamu mengambil seorang yang bermusuhan terhadap Islam sebagai Auliya’, ia sesungguhnya telah menjadi bagian dari kelompok mereka.

Dua pendekatan

Jadi dalam penafsiran al-Maidah 51 terdapat dua pendekatan:

1) bahwa al-Maidah 51 berarti larangan memilih non-Muslim sebagai pemimpin;

2) bahwa al-Maidah 51 berarti menolak mengambil sebagai teman dekat (bisa dengan makna mencari perlindungan atau sekutu) dengan orang Yahudi, Kristen, dan lainnya, yang tidak menghiraukan hukum Allah dan memusuhi Islam.

Jelas bahwa Ahok memahami dan mengikuti tafsiran yang kedua, hal yang lumrah baginya sebagai seorang penganut Nasrani dan seorang pemimpin pancasilais di tengah ragam umat beragama.

Jelas pula bahwa MUI dan FPI memilih tafsiran pertama.

BTP memahami perbedaan tafsiran itu ada di antara cendekiawan dan pemikir Islam, jadi baginya menekankan yang satu dalam situasi politik merupakan ketidak jujuran terhadap teks. Ahok mau supaya lawan-lawan politiknya bisa ‘secara jantan’ istilahnya beradu visi, misi, dan program, dan bukan menggunakan ayat-ayat Kitab Suci untuk menakut-nakuti para pemilih.

Di Pulau Seribu, Ahok juga menyebutkan bahwa jika ada pemimpin yang lebih baik darinya (seorang yang jujur, pintar, tidak korup, peduli dengan rakyat), maka mereka “bodoh” jika memilih dia (dan rekannya, seorang Muslim) untuk memimpin Jakarta.

Dari pengakuannya sendiri, Ahok “menegaskan tidak mungkin menista agama, terutama agama Islam. Sebab, ibu angkat, paman, dan banyak saudaranya yang merupakan warga Muslim. Ahok menyebut dirinya kerap menyumbang sapi untuk qurban dan pembangunan masjid,” demikian ditulis di Ahok.org.

“Marbot juga diberangkatin umrah. Aku kira aku masih waras lho. Kalau aku hina agama, namanya saya gila,” katanya dalam tanya jawab dengan masyarakat.

Harapan umat beragama

Banyak di antara umat Muslim tentunya berharap supaya seorang Muslim yang menjadi pemimpin, hal yang sama dengan umat beragama lainnya memiliki harapan mereka sendiri. Idealnya mungkin bagi setiap kelompok agama ada pemimpin politisnya masing-masing. Namun, keberagaman yang terus menjadi kekayaan Indonesia mensyaratkan masyarakatnya mencari suatu idealisme yang lebih sesuai.

Dalam sistem demokrasi Pancasila, masing-masing diberi hak suara untuk memilih seorang pemimpin, dan calon pemimpin yang memperoleh suara terbanyaklah yang mendapat mandat untuk mensejahterakan semua anggota masyarakat, lepas dari agamanya masing-masing.

Dalam segala perbedaan yang ada, orang-orang beragama dapat sepakat bahwa yang harus dipilih sebagai pemimpin itu adalah orang-orang yang jujur, yang sungguh-sungguh peduli dengan rakyat kecil, dan yang mau berupaya semaksimal mungkin untuk mengangkat kehidupan orang-orang supaya menjadi lebih bermartabat.

Mengapresiasi Islam

Islam memiliki ajaran yang dapat diapresiasi oleh agama-agama lain menyangkut penghargaan atas orang berbeda iman atas dasar prinsip hidup bersama:

Al-Mumtahanah ayat 8-9:

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu [wali] orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan [wali], maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Al-Mumtahanah juga memakai istilah yang sama dari al-Maidah 51, yaitu “wali” – dapat diartikan “teman dekat,” “sekutu” atau “pelindung.”

Islam juga menolak pemimpin yang sekalipun mengaku Islam tapi tidak hidup menurut tuntunan imannya:

“Wahai kamu orang percaya! Jangan mengambil sebagai pemimpin/pelindung bapak-bapakmu atau saudara-saudaramu laki-laki jika mereka mengasihi ketidak percayaan di atas iman. Jika di antara kamu melakukannya, sesungguhnya mereka melakukan hal yang salah” (at-Taubah ayat 9:23).

Siapa yang menodai agama?

Ketika datang pada makna Kitab Suci, seringkali kita langsung mengambil sikap membela keyakinan kita. Hal ini baik sepanjang tidak dimanfaatkan atau dipolitisir oleh orang tertentu untuk maksud yang kurang baik.

Dalam upaya membela keyakinan kita, ambil juga waktu untuk menyelidiki secara seksama apa yang kita yakini, sambil memohon dalam doa kepada Yang Mahapemurah untuk menuntun orang-orang yang menaruh harap pada-Nya di jalan yang benar.

Bagaimanapun, kita semua harapkan proses ini mendewasakan kita dalam beragama, bermasyarakat dan berdemokrasi. Belajar bersabar dan menolak berbagai provokasi yang tidak membantu situasi.

Tuduhan penodaan agama terhadap BTP telah berada di ranah hukum, maka biarlah proses hukum itu berjalan. Bukankah proses hukum dimaksudkan untuk menegakkan keadilan?

Dan mengenai siapa yang layak memimpin DKI Jakarta, biarlah rakyat di wilayah itu yang nantinya memutuskan lewat suara mereka siapa pemimpin yang mereka percaya betul-betul peduli dan sanggup memberdayakan dan mensejahterakan mereka.

Semoga juga para pemegang kekuasaan tidak merampas dari masyarakat dengan cara yang tidak terpuji sebuah pilihan. Orang-orang yang berkuasa dapat mengutarakan semua yang manis untuk didengar, namun dari hasil-hasil yang keluar dari pekerjaan mereka, itulah yang menunjukkan siapa mereka.

Para pemegang mandat keadilan hendaknya melakukan tugasnya tanpa gentar atas ancaman atau suap.

Tugas rohaniawan adalah membekali umat mereka supaya dengan nurani yang bersih (dan informasi yang memadai tentang visi, misi, dan program para calon pemimpin) dapat menyuarakan pilihan mereka.

Para rohaniawan adalah yang paling tahu bahwa mempolitisir agama untuk ambisi politis pribadi merupakan tindakan yang dapat menodai agama itu sendiri. Hukumannya adalah kekal.

 

 

Referensi:
Akrobon Naim, “Interpretation M. Quraish Shihab and Interpretation Hamka about Auliya on Al Maidah Verse 51” (skripsi), UIN Sunan Ampel Surabaya, 2013, hal. 36-57, http://digilib.uinsby.ac.id/10998/, akses 17 November 2016.
“Does Islam Forbid Befriending Non-Muslims?,” Archive Islam Online, 22 Februari 2010, http://archive.islamonline.net/?p=627, akses 17 November 2016.
MUI Nyatakan Sikap Soal Ucapan Ahok Terkait Al Maidah 51, ini Isinya, Detik News, 11 Oktober 2016, http://news.detik.com/berita/d-3318150/mui-nyatakan-sikap-soal-ucapan-ahok-terkait-al-maidah-51-ini-isinya, akses 17 November 2016.
Rudi Abu Aska, “Tafsir Surat Al-Maidah 51-53,” Tafsir Ibnu Katsir,  http://www.ibnukatsironline.com/2015/05/tafsir-surat-al-maidah-ayat-51-53_5.html, akses 17 November 2016.
Tania, Tafsir surat Al-mumtahanah ayat 8 dan 9, Tania’s Corner Blog, 3 Juni 2012, http://tanias-corner.blogspot.com/2011/06/tafsir-surat-al-mumtahanah-ayat-8-dan-9.html., akses 19 November 2016.
“Warga Tanya soal Dugaan Penistaan Agama, Ini Jawaban Ahok,” Ahok.org, 14 November 2016, http://ahok.org/berita/news/warga-tanya-soal-dugaan-penistaan-agama-ini-jawaban-ahok/, akses 17 November 2016.