Koalisi Kristen, Muslim, Yahudi berhasil mengubah RUU yang mengancam kebebasan beragama

(Ilustrasi: Pertemuan dialog keagamaan)

(Ilustrasi: Pertemuan dialog keagamaan)

AMERIKA SERIKAT (Yubelium.com) — Pemerhati pendidikan Kristen dan kebebasan beragama di California memperoleh keberhasilan berarti setelah seorang anggota legislatif di negara bagian itu menyatakan ia akan merubah poin dalam #SB1146 yang diusulkannya, yang mengancam sekolah Kristen dan pendidikan berbasis agama lainnya kehilangan bantuan dana pemerintah jika mempertahankan keyakinan iman mereka.

Penolakan terhadap poin dalam rancangan undang-undang (RUU) itu digalang oleh Komisi Etika dan Kebebasan Beragama (KEKB) dari Southern Baptist Convention, sebuah denominasi Protestan, dengan dukungan dari lebih dari 100 pemimpin agama, akademisi, hukum dan media berlatar belakang Katolik, Yahudi, Islam, dan kalangan Kristen Injili, demikian Baptist Press, Agustus lalu.

“Perubahan dalam #SB1146 mengeluarkan bagian yang paling berbahaya, tapi itu semua bisa kembali lagi pada sesi legislatif berikutnya,” ungkap Gregory Baylor, penasihat senior di organisasi Alliance Defending Freedom. “Para pendukung kebebasan beragama, kesempatan pendidikan, dan kebebasan memilih harus tetap waspada dan menentang peraturan manapun yang akan membahayakan kebebasan yang sangat penting ini.”

Senator Ricardo Lara, pengusul RUU tersebut dalam pesan twitternya pada Agustus lalu mengatakan bahwa ia tetap berkomitmen untuk melindungi para pelajar yang ia sebut “LGBT” dari “diskriminasi.” Politisi partai Demokrat ini juga mengaku sebagai seorang gay dan anggota gereja Katolik. Ia mengatakan bahwa tahun depan ia akan kembali mengusulkan peraturan yang bisa juga memuat bagian yang dikeluarkannya saat ini, demikian BP melansir The Los Angeles Time.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan para pembela kebebasan beragama bertanggal 9 Agustus dikatakan bahwa RUU itu “akan mendiskriminasi dengan cara menstigma dan secara paksa menghukum terhadap keyakinan agama yang mengambil sikap berbeda terkait persoalan seksualitas manusia.”

Russell Moore, pengarah KEKB menanggapi perubahan dalam RUU itu, dalam pesan twitternya mengatakan antara lain, “Kontroversi #SB1146 … menunjukkan betapa penting bagi para pembela kebebasan beragama untuk berdiri bersama [sekalipun] dalam segala perbedaan yang ada.”