Ini cara gereja Baptis desak hotel supaya lawan kejahatan perdagangan manusia

eradicate-human-traffickingAMERIKA SERIKAT (Yubelium.com) — Gereja-gereja yang tergabung dalam Kentucky Baptist Convention (KBC) menyatakan tidak akan menggunakan jasa hotel yang tidak melatih para pekerjanya untuk mengenali dan melaporkan kejahatan perdagangan manusia.

KBC “ingin menjadi rekan dengan hotel-hotel yang telah mengambil langkah untuk mencegah perdagangan manusia dan badan-badan…yang siap menghentikan pemakaian hotel untuk kegiatan kriminal,” ungkap Paul Chitwood, pengarah KBC dikutip Baptis Press (22/9).

Menurut lembaga penanggulangan perdagangan manusia nasional, kejahatan ini banyak terjadi di motel dan hotel dibandingkan di tempat lainnya di Kentucky.

“Sebagai orang Kristen, kita tidak boleh berhenti pada memberikan kesadaran adanya ketidak adilan ini. Kita harus bertindak dan berjuang untuk kebebasan dan pemulihan para korban,” ungkap Kristen Drake, staf KBC.

Oktober lalu KBC menggelar sebuah seminar tentang apa itu kejahatan perdagangan manusia dan bagaimana berperan untuk mengentaskannya.

Gereja Baptis Kentucky “berkomitmen untuk berdiri bersama dengan mereka yang disebut Alkitab yang terkecil ini,” ungkap Andrew Dyer, pendeta dan presiden KBC, demikian BP melansir Western Recorder.

“Kami ingin secara tetap menjadi suara bagi mereka yang tidak memiliki suara, apakah mereka yang masih dalam kandungan ibu, atau dalam kasus ini, para korban kejahatan perdagangan manusia.”

Anak-anak lebih rentan menjadi korban kejahatan ini dibanding orang dewasa.

Beberapa tanda yang dapat menjadi petunjuk jika seseorang merupakan korban kejahatan ini menurut pihak keimigrasian AS antara lain adalah: terlihat takut, kuatir, depresi, tegang, gugup; kurang tidur, kurang makan dan minum; menunjukkan tanda-tanda telah mengalami kekerasan fisik; tidak bebas menghubungi keluarga atau menghadiri kegiatan keagamaan.

“Kami ingin membawa harapan sejati dalam hidup ini,” ungkap Pdt Andrew. “Jelas itu hanya dapat datang dari Injil Yesus Kristus. Namun, kami ingin melakukan apa yang kami bisa untuk menunjukkan Dia kepada orang-orang.”