Memperkenalkan Yesus di jalanan dan lewat dunia maya: Gereja Inggris luncurkan upaya penginjilan

Penginjilan kembali: Kepala Gereja Inggris Uskup Agung Canterbury Justin Welby bersama Uskup Agung York John Sentamu. Keduanya memprakarsai penginjilan kembali di Inggris setelah Inggris mengakhiri keanggotaannya dalam Uni Eropa. (Foto: The Christian Today)

INGGRIS (Yubelium.com) — Menyusul hasil referendum yang memutuskan Inggris Raya keluar dari Uni Eropa (dikenal dengan Brexit – Britain Exit), Gereja Inggris (Church of England) mengambil inisiatif untuk melakukan pekabaran Injil baik lewat media digital maupun penginjilan langsung.

“Memberi kesaksian mengenai siapa Yesus dan berupaya untuk membawa orang lain kepada-Nya, apa yang kita sering sebut evanglisasi, adalah apa yang mengalir keluar dari kita untuk apa yang Allah telah berikan bagi kita dalam Yesus Kristus,” demikian Uskup Agung Canterbury Justin Welby, kepala Gereja Inggris dikutip ChristianToday.com (13/9).

Upaya ini adalah bagian dari program Renewal & Reform (pembaruan dan perubahan) yang memiliki tiga tujuan: memberi sumbangan pada kebaikan bersama sebagai gereja nasional, memfasilitasi pertumbuhan dalam jumlah dan pemuridan, membawa pandangan baru mengenai pelayanan gereja, demikian dijelaskan di situs resmi gereja.

Saat ini Gereja Inggris sedang menghadapi kemunduran terindikasi dari jumlah jemaat yang beribadah jatuh di bawah satu juta orang per minggu.

Sekalipun demikian, Uskup Agung Canterbury menekankan bahwa upaya ini bukan hal bertahan atau meningkatkan jumlah jemaat, melainkan “[i]ni adalah apa yang kita temukan dan karena mengalami kasih Allah yang mengubahkan itu, dalam diri kita sendiri dan masyarakat kita, dalam keluarga kita dan orang-orang di sekitar kita,

“bahwa kita menginginkan supaya orang lain menemukan pengharapan, rasa aman, kenyataan, tantangan, dan kegembiraan dalam mengikuti Yesus sebagai murid-Nya,” demikian dikutip CT.

Gereja Inggris telah mempublikasikan beberapa video yang menunjukkan bagaimana Gereja menggunakan strategi di dunia maya untuk mengabarkan Injil.

Gereja perlu juga pergi langsung dan menemui orang-orang di jalanan, demikian Uskup Agung York, Dr John Sentamu dikutip CT.

“Tugas kita adalah berada di luar sana, di jalan-jalan, di manapun itu, membagikan tentang pesan luar biasa tentang Yesus: bahwa Ia sungguh-sungguh mengampuni dosa kita, memberi hidup baru saat ini dan harapan untuk masa depan,” ungkapnya.

Brexit memperlambat pemerintahan Antikris dari Yerusalem

Banyak orang Kristen di Inggris melihat keluarnya negara mereka dari Uni Eropa sebagai sebuah kemenangan.

“Kami kembali menjadi negara berdaulat. Kami memutuskan hubungan dengan Uni Eropa yang sekuler dan tak ber-Tuhan,” ungkap Pastor Steven Halford, pendeta sebuah gereja karismatik di bagian selatan Inggris kepada Charismamag (7/1).

“Kami berdoa supaya Tuhan kembali menunjukkan keberpihakan kepada kami, dengan Ratu – seorang Kristen yang berpegang pada Alkitab – sebagai kepala negara bersama pemerintahannya yang takut akan Tuhan,” ungkapnya.

“[D]an kami berdoa [Tuhan] kiranya melepaskan kami dari para sekularis Eropa yang telah menyebabkan begitu banyak perpecahan dalam bangsa kami.”

Brexit turut ditanggapi positif oleh pemimpin gereja Ortodoks di Colchester, Uskup Agung Andrew Phillips, Rektor Gereja St John Shanghai.

Ia mengatakan bahwa peristiwa keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa telah memperlambat pemerintahan Antikris dari Yerusalem.

“Sulit mengatakan bahwa [Brexit] akan membantu (gereja) Ortodoks atau Kekristenan secara umum (di Inggris). Yang nyata adalah, seperti yang diakui oleh Obama sendiri, bahwa ini memperlambat penyatuan Uni-Eropa. Bagi banyak orang di antara kami, ini berarti memperlambat seluruh proses One World Government, pemerintahan Antikris dari Yerusalem,” ungkapnya kepada Pravoslavie (1/7).

Ia menjelaskan bahwa kebanyakan rakyat yang memilih berpisah dari Uni Eropa adalah karena ingin memiliki kembali kendali atas negerinya sendiri. Namun, yang lain merasa sangat kuatir dengan persoalan imigrasi dari wilayah-wilayah konflik sejak “invasi Barat” di Afganistan dan Irak, dan yang sekarang menyebar ke wilayah Suriah dan Afrika Utara.