Tulisan di pecahan keramik berusia 2500 tahun bukti luasnya kemampuan baca tulis umat Israel zaman dulu, memperkuat penulisan Alkitab

Sebuah periuk yang memuat nama Esybaal dari abad ke-10 sM, zaman pemerintahan Raja Daud.

Hasil penemuan arkeologi menunjukkan tingkat baca tulis yang luas di zaman Kerajaan Yehuda, menjadi bukti bahwa sejumlah besar tulisan Alkitab dapat berasal dari era yang lebih awal dari yang sebelumnya diperkirakan.

Penelitian yang dilakukan oleh sebuah tim yang terdiri atas arkeolog, ahli fisika, ahli matematika, menggunakan alat pencitraan dan algoritma untuk mengambil gambar, mentransfer ke bentuk digital, dan menganalisa pecahan keramik yang ditemukan pada tahun 60-an di reruntuhan benteng Arad.

Pecahan keramik dari sekitar 2500 tahun sM itu berisi tulisan tentang pergerakan tentara dan distribusi perbekalan yang dialamatkan pada seorang kepala pasukan di benteng itu.

“Kita sedang berhadapan dengan prajurit tingkat bawah di sebuah tempat terpencil yang dapat menulis,” ungkap Israel Finkelstein, seorang arkeolog dan ahli Alkitab dari Universitas Tel Aviv, Israel kepada Live Science dilansir oleh The Christian Post (12/4). “Jadi pasti ada semacam sistem pendidikan di Yehuda pada waktu itu.”

Lewat proses algoritma itu para peneliti berhasil mengidentifikasi perbedaan tulisan. Dari 16 pecahan keramik yang ada, setidaknya ditulis oleh enam orang berbeda.

“Kami menemukan bukti tidak langsung tentang adanya infrastruktur pendidikan, yang bisa memungkinkan penulisan tulisan Alkitab,” ungkap ahli fisika Eliezer Piasetzky dikutip Christian Post (12/4).

“Kemampuan baca-tulis ada di semua level administrasi, militer, sistem imamat di Yehuda. Membaca dan menulis tidak hanya terbatas pada segelintir elit.”

Sejumlah ahli cenderung menempatkan tulisan Alkitab pada masa yang cukup jauh dari peristiwa-peristiwa yang dicatat di dalamnya. Hal ini turut dipengaruhi oleh perkiraan tentang kemampuan baca tulis di antara umat Israel.

“Ada diskusi panas tentang waktu penulisan sejumlah besar tulisan Alkitab [Perjanjian Lama],” ungkap Prof Finkelstein.

“Tapi untuk menjawab ini, perlu ditanyakan pertanyaan yang lebih luas: Seperti apa tingkat melek huruf di Yehuda pada akhir periode Bait Pertama? Dan seperti apa tingkat melek huruf kemudian?”

Ia menjelaskan bahwa penemuan ini penting karena menunjukkan bahwa Kerajaan Yehuda memiliki sumberdaya intelektual untuk menulis dan menyusun sebagian dari Perjanjian Lama pada masa itu.

Periuk berusia 3000 tahun bertuliskan nama yang juga terdapat dalam Alkitab

Sebuah penemuan penting lainnya adalah sebuah periuk yang berasal dari abad ke-10 sM, zaman pemerintahan Raja Daud, yang ditemukan pada sebuah penggalian di bagian tengah Israel 2012 lalu.

Periuk berusia sekitar 3000 tahun itu memuat sebuah nama “Esybaal Bin Beda.”

“Adalah menarik mengingat bahwa nama Esybaal muncul dalam Alkitab, dan sekarang juga dalam penemuan arkeologi, hanya pada masa pemerintahan Raja Daud, pada 50 tahun pertama abad ke-10 sM,” ungkap arkeolog Yosef Garfinkel, dikutip CP. Ia mengatakan penemuan seperti itu adalah jarang.

Sekalipun arkeolog memperkirakan bahwa pemilik nama tersebut berbeda dari Esybaal, anak Saul dalam 1 Tawarikh 8:33 dan 9:39, penemuan itu penting karena mendukung catatan Alkitab yang berasal dari zaman itu.

 

%d bloggers like this: