Lepas dari p*rnografi dengan buku Dante “The Divine Comedy”

dante alighieri

Dante dengan bukunya The Divine Comedy berdiri di pintu masuk Inferno (Neraka). Di samping kanan adalah kota Florence, dan di belakangnya adalah tujuh tingkat Tempat Pemurnian, yang menjulang ke Sorga. (Lukisan dinding oleh Domenico di Michelino, 1465, di kubah gereja Santa Maria del Fiore di Florence; public domain)

EKKLESIASTIKA — Dante Alighieri adalah seorang pujangga besar Italia abad ke-14 yang memiliki pengaruh besar lewat buku karangannya “The Divine Comedy” (komedi ilahi).

Pesan puisi alegori Dante adalah bahwa Tuhan akan menyediakan pertolongan bagi setiap orang yang melakukan perjalanan keluar dari kegelapan yang melingkupi mereka.

Ketika seorang mulai menggunakan material cabul, kejatuhannya cukup mirip dengan bagian pembuka buku The Divine Comedy, ketika Dante tersadar dari tidurnya dan mendapati dirinya berada di tengah sebuah hutan yang gelap, tulis Matt Frad, seorang penulis buku dan penggemar filsafat dari Amerika Serikat.

Ia menilai The Divine Comedy menawarkan suatu cermin yang dapat membantu mereka yang bergumul dengan ikatan p*rnografi menemukan kelepasan.

Pengguna material cabul, seiring waktu terjerat dalam ikatan-ikatannya, sampai akhirnya menyadari bahwa ia tak berdaya mengatasi apa yang awalnya ia anggap bisa ia tinggalkan pada sembarang waktu.

Dari situ muncul pertanyaan apa yang seorang dapat lakukan untuk keluar dari “hutan yang gelap,” atau terlepas dari perbudakan material cabul.

Untuk sebuah kesembuhan sejati dapat terjadi, para pengguna material cabul biasanya mengikuti jalan yang cukup mirip dengan perjalanan Dante, tulis Matt. Ia menyediakan garis besar pemulihan itu berdasarkan perjalanan Dante.

Niat untuk berubah.

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menyadari bahwa diri kita sesungguhnya tersesat.

Ketika Dante menyadari bahwa ia telah tersesat dari jalan yang benar, ia mengangkat matanya ke arah Gunung Sukacita yang terang oleh matahari dan segera mencoba untuk mendakinya.

Ketika seorang pria yang terperangkap oleh material cabul menyadari jalan sesat yang telah ditempuhnya, dan bagaimana material cabul merusak harga dirinya, identitas maskulinnya, pandangannya terhadap perempuan[, cara mengasihi isterinya dan orang lain di sekitarnya,] dan seterusnya, adalah wajar ia merasa muak dan segera menetapkan hati untuk menjadi orang yang lebih baik.

“Aku tidak akan melakukan ini lagi,” dapat muncul sebagai sebuah ungkapan tulus dari hati ketika seorang memutuskan untuk menjadi seorang laki-laki sebenarnya yang dirancangkan Tuhan.

Tantangan. 

Dengan niat kuat untuk mendakati Gunung Sukacita, Dante pun segera dihalang oleh tiga binatang buas.

Niat kita untuk menjadi seorang yang lebih baik akan ditantang oleh sifat buruk yang telah menjadi kebiasaan.

Seorang yang mencari kekudusan hati, penguasaan diri, bahkan kesucian, tapi merasa tak mampu menggapainya.

Dan karena kebiasaannya menggunakan material cabul telah melatihnya menjadi lemah dan tak disiplin, ia menghadapi kenyataan bahwa pendakiannya untuk menjadi seorang yang lebih baik adalah lebih sulit dari dugaannya.

Sama seperti Dante dipaksa kembali ke hutan gelap oleh serigala betina, yaitu penolakan terhadap pertarakan, demikian pula seorang pengguna material cabul dipaksa kembali pada hal yang ia anggap membawa hiburan dan menjadi pelarian.

Dalam perasaan gagal itu ia akan tergoda untuk melihat kebaikan, yang ia nilai tak dapat dicapai, sebagai sebuah keburukan.

Matt menunjukkan bahwa keputus asaan demikian dihadapi [dan oleh anugerah Allah dilewati] juga oleh Bapa Gereja Agustinus, seperti ditulisnya dalam bukunya Confessions (pengakuan-pengakuan dosa).

Aku terkeluh, seluruhnya terbelenggu, bukan oleh rantai-rantai di luar tubuhku,
tapi oleh rantai-rantai kehendakku sendiri.
Musuh menguasai kehendak diriku,
dan dengan cara itu ia telah membawaku dalam rantai yang mengikatku.
Hasrat yang melanggar hukum sesungguhnya dihasilkan oleh kehendak yang sesat,
dan dengan mengikuti hasrat itu suatu kebiasaan terbentuk;
dan ketika kebiasaan itu tak dikekang,
ia menjadi sebuah kebutuhan.

Semangat.

Sama seperti Dante yang sempat tergoda untuk menyerah dan Beatrice mengutus Virgil – terang akal sehat – untuk menuntunnya dalam sebuah perjalanan yang ia rasa tak bisa ia tempuh, demikian juga Tuhan kita telah memberikan kita kemampuan akal, senjata anugerah dan kasih-Nya yang sempurna dan tak pernah gagal.

Dengan semua itu “kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Roma 8:37). Perjalanan pulang ke pemulihan bisa tampak berat, tapi “bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Matius 19:26).

Mengenali dosa.

Dante dan Virgil bersama menuju Inferno (Neraka), di situ Dante mulai mengenali dosa sebagai dosa.

Dante tidak menyebut apa-apa tentang p*rnografi secara spesifik, tetapi dalam The Divine Comedy ia menyebut tentang mereka yang mengikuti “keinginan daging,” yang melakukan dosa seksual tertentu.

Di Inferno, Dante bertemu dengan sepasang kekasih yang dicambuk dengan hebatnya, seakan seperti cambukan sebuah putaran angin besar.

Ia berseru, “O jiwa-jiwa yang berkesusahan,” dan kedua pasangan itu, Paolo dan Franceska mendapat izin untuk berhenti sejenak dari penyiksaan mereka untuk menceritakan tentang bagaimana mereka jatuh ke dalam perzinahan.

Cerita tentang Paolo dan Franceska, yang terus memperagakan kembali pandangan hawa nafsu mereka di Neraka selamanya, dapat menunjukkan kepada kita beberapa hal menyangkut material cabul.

Yang pertama, sama seperti putaran angin yang melingkupi mereka yang mengikuti keinginan daging, hawa nafsu dan p*rnografi dapat membangkitkan hasrat, namun tak dapat memuaskan. Pornografi seumpama air garam bagi mereka yang merasa haus. Meminumnya hanya akan membuat mereka lebih haus.

Kedua, sebutan Dante bagi Paolo dan Franceska, “jiwa-jiwa yang berkesusahan,” merupakan gambaran tepat untuk mereka yang menjual akal sehat sebagai ganti hawa nafsu tak terkendali, yang tak dapat memuaskan atau melipur jiwa.

Ketiga, putaran angin yang memaksa Paolo dan Franceska selamanya diperhadapkan dengan bayang tubuh keduanya sebagai pengingat akan dosa mereka. Dosa seksual yang dilakukan terhadap orang lain menunjukkan bahwa kasih tidak ada di situ, melainkan keinginan untuk menggunakan orang lain saja. Hal ini paling nampak dalam penggunaan material cabul karena pengguna memperlakukan orang lain sebagai obyek hawa nafsu semata-mata, dan bukan sebagai manusia yang dengan sendirinya memiliki martabat.

Penolakan akan dosa.

Dante akhirnya meninggalkan Neraka dan masuk ke Tempat Pemurnian. Jika di Neraka ia belajar mengenali dosa, di Tempat Pemurnian ia belajar menolak dosa-dosa. Pada bagian Kanto ke-19, Dante bertemu dengan seorang perempuan misterius, hal yang dapat menunjukkan kepada kita bahwa mengenali kenyataan di balik fantasi p*rnografi akan sangat mempengaruhi bagaimana kita menolaknya.

Ketika Dante pertama kali melihat perempuan tua ini – yang melambangkan penolakan terhadap akal sehat untuk memenuhi keingin hawa nafsu – ia menulis:

Dalam sebuah mimpi datang kepadaku seorang perempuan tua
yang tergagap, bermata juling, kaki bengkok, dua tangan tak sempurna,
dan kulitnya seperti batu dicat putih.

Penampakkannya itu sama sekali tak menarik, tak disukai, tak diterima, dan Matt menjelaskan bahwa dalam pengalamannya hal ini biasanya merupakan reaksi yang muncul ketika seorang diperlihatkan dengan material cabul yang menjijikan.

Namun, apa yang terjadi pada Dante nampak sangat mirip dengan bagaimana material cabul yang pada awalnya dapat menimbulkan kejijikan itu dapat secara berlahan menjadi hal yang menarik bagi seseorang.

Dante menulis,

Mataku memandangnya; dan saat cahaya baru matahari
membawa kehidupan pada bagian-bagian tubuh yang dingin oleh malam,
saat itu pandangan mataku mulai membebaskan suaranya,
dan menyempurnakan bagian-bagian tubuhnya yang tak elok satu demi satu,
dan menghangatkan wajahnya yang mati,
sampai mekar seperti yang dinginkan cinta bagi kesenangannya.
Ketika ia kemudian telah berubah wujud,
ia mulai bernyanyi dengan suara yang demikian merdu
yang hanya dengan rasa sakit yang besar aku dapat berpaling dari rayuannya.

Ketika kita membuka diri terhadap material cabul, yang sekalipun menjijikan namun jika kita terus-menerus melihatnya, sama seperti Dante memandang perempuan tua itu, kita dapat mulai menyukainya, bahkan sampai mengidamnya. Apa yang awalnya merupakan kejijikan mulai nampak menarik bagi kita.

Ketika seorang laki-laki menghadapi pencobaan untuk melihat material cabul atau ketika sedang melakukannya, dalam hati nuraninya – jika itu masih tersisa – ada suara yang memanggilnya, memintanya untuk kembali kepada akal sehat.

Jika ia, oleh kasih karunia Allah, mendengar suara itu, maka ia akan dapat segera melihat perbuatan noda yang sedang ia lakukan, bangkit dari situ dan menghindar.

Dalam bagian ini Dante mengalami panggilan suara nurani itu, yang disebabkan oleh seorang perempuan surgawi yang menampakkan diri dan meminta Virgil (yang mewakili akal sehat) untuk menunjukkan wajah sebenarnya perempuan tua itu.

Ia menangkap penyihir itu, dan dengan satu tarikan
menunjukkan tampak depannya,
pinggang dan perutnya yang membusuk:

Aku terbangun mual oleh bau yang datang dari sana.
Aku berpaling dan Virgilku berkata padaku, Aku telah memangil
setidaknya tiga kali sampai saat ini. Bangun dan mari pergi.

Ketika kita dapat melihat wujud sebenarnya p*rnografi serta kekosongan janji-janji yang ada di dalamnya, dan dengan bergantung pada Tuhan dengan menggunakan akal sehat yang Ia berikan, kita dapat melanjutkan perjalanan rohani kita.

Jalan anugerah.

Jalan menuju kelepasan dan pemulihan dari p*rnografi – atau dosa lainnya – terbentang lebih dari pada satu penolakan terhadap dosa tersebut.

Adalah hal yang menggoda ketika seorang hendak pulih dari penggunaan material cabul untuk berpikir bahwa satu kali dosa ditolak, kita telah sembuh – kita telah bebas. [Mungkin ada orang yang mengalaminya demikian, namun dalam banyak pengalaman, pemulihan merupakan sebuah perjalanan, dan lebih dari sebuah titik penemuan].

Pada puisi Kanto ke-25,  Dante sedang mengikuti Virgil menapaki sebuah “jalan sempit di sebuah tebing” sementara di bawahnya, orang-orang yang dipenuhi hawa nafsu sedang dimurnikan oleh api.

Berulang kali Virgil mengingatkan Dante “berjalan hanya di tempat kau lihat aku berjalan,” mengingatkan Dante dan kita bahwa adalah hal yang mudah untuk jatuh kembali ke kebiasan dosa kita – kita harus tetap berjaga-jaga, dan menyadari bahwa mengatasi hal-hal buruk dalam diri kita adalah sebuah proses.

[Dalam perjalanannya Dante akhirnya tiba di Paradiso (Sorga) yang penuh cahaya, melambangkan jiwa-jiwa yang merenung-renungkan Allah; mereka berada dalam kebahagiaan yang sempurna dalam pengetahuan akan kebenaran-kebenaran ilahi-Nya.]

Mereka yang bergumul dengan p*rnografi dapat pulih dan hidup dalam kasih yang murni dan penuh, namun demikian setiap orang yang telah melalui perjalanan keluar dari hutan gelap p*rnografi perlu memahami bahwa jalan menyimpang itu dan godaan hawa nafsu kemungkinan masih belum akan hilang sepenuhnya, karena kita adalah masih manusia berdosa.

Kita perlu terus maju, setiap hari, menolak dosa, tak peduli seberapa lama kita telah lepas dari ikatan dosa.

Kisah Dante memberikan kita sebuah harapan tentang sebuah tempat di mana niat dosa itu telah sepenuhnya dihapuskan. Pada bagian akhir The Divine Comedy, dipenuhi dengan rasa kagum memandang keajaiban Sorga, Dante berkata:

Di sini kekuatan tak bisa menggapai tinggi imajinasi:
Tapi sekarang kehendakku bergerak maju
seperti sebuah roda berputar seimbang
oleh Cinta yang menggerakkan matahari dan bintang-bintang.

 

 

 

Referensi:
Matt Fradd, “Healing from Pornography with The Divine Comedy,” Crisis Magazine, January 12, 2016. http://www.crisismagazine.com/2016/healing-from-pornography-with-the-divine-comedy, akses 21 Juni 2016.
Dante Alighieri.Encyclopedia of World Biography. 2004. Encyclopedia.com. Akses 21 Juni 2016 <http://www.encyclopedia.com>.
Project Gutenberg’s The Vision of Paradise, Complete, by Dante Alighieri. http://www.gutenberg.org/files/8799/8799-h/8799-h.htm#link33, akses 23 Juni 2016.