Anggota DPR RI kritisi wacana sekolah sehari penuh: Anak memiliki tiga lingkungan (belajar) – di rumah, sekolah dan masyarakat

Gedung lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. (Foto dpr.go.id)

INDONESIA (Yubelium.com) — Wacana Pemerintah Indonesia saat ini lewat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) baru untuk menerapkan apa yang disebutnya FDS (full day school: sekolah sehari penuh) dikritisi oleh Anggota Komisi 10 DPR RI, Reni Marlinawati.

“”Wacana sekolah full day yang disuarakan Mendikbud Muhadjir Effendi harus dikaji dengan matang dan melalui pertimbangan atas dampak yang akan muncul,” katanya dalam pernyataan yang disampaikan di Jakarta, Rabu (10/8) dikutip ANTARA.

Ia mengingatkan bahwa anak-anak memiliki tiga lingkungan untuk belajar dan berinteraksi, yakni: di rumah, di sekolah, dan di masyarakat.

“Keberhasilan anak bukan terletak [pada] seberapa besar nilai yang diraih namun bagaimana anak memiliki sikap percaya diri, keberanian serta [mampu menyesuaikan diri] terhadap lingkungan. Harus diingat, anak memiliki tiga lingkungan [belajar], yakni di rumah, sekolah dan masyarakat.

“Kalau anak hanya hidup di lingkungan rumah dan sekolah, sedangkan lingkungan masyarakat sedikit tentu akan merepotkan bagi anak,” ungkapnya dilansir ANTARA. Ia menunjukkan bahwa kelak anak-anak harus terlibat dalam masyarakat.

Mendikbud Muhadjir mengatakan sekolah sehari penuh diwacanakan antara lain karena “penyimpangan” yang muncul dalam “ruangan kosong” ketika [sejumlah] siswa pulang dari sekolah, seperti tawuran, dan sebagainya.

“Karena itu untuk menyempitkan ruangan kosong ini maka kita lakukan dengan waktu sekolah diperpanjang, disesuaikan dengan jam kerja orang tuanya ini nanti diwaktu yang kosong ini bisa tertutup ini,” katanya dikutip Detik.com (8/8).

Waktu sehari penuh di sekolah itu menurutnya dapat diisi dengan pendidikan karakter, atau dengan matapelajaran tambahan lainnya.

“Saya kira wacana full day ini dalam perspektif metropolitan,” kata Reni, yang adalah juga pemimpin fraksi PPP. Ia mengungkapkan bahwa di tempat berbeda banyak orang tua yang memiliki waktu mendampingi (anak di rumah).

Dalam konteks kota besar, kalaupun orang tua pulang kerja dan menjemput anak di sekolah, ia menguatirkan persoalan macet yang luar biasa seperti di Jakarta.

Selain itu ia melihat fasilitas yang belum memadai di sekolah-sekolah, serta beban yang harus dipikul guru-guru. Sehari penuh tinggal di sekolah menjadi tak terbayangkan repotnya, ungkapnya.

Penolakan masyarakat: hilangnya peran keluarga dalam pendidikan anak

Selain terancamnya partisipasi dan belajar anak dalam kehidupan masyarakat, hilangnya peran keluarga dalam pendidikan anak juga menjadi sorotan.

Ketua Bidang Sumber Daya Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Indonesia, Henny Rusmiati mengakui penolakan masyarakat terhadap wacana sekolah sehari penuh tersebut karena nampak menghilangkan peran keluarga dan orang tua sebagai elemen mutlak keberhasilan pendidikan anak, demikian ANTARA (10/8).

Ia menilai bahwa kegiatan-kegiatan yang hendak ditawarkan dalam sekolah sehari penuh itu memang dapat mengisi kursus-kursus tertentu setelah pulang sekolah, yang memang bisa jadi “barang mahal.”

Namun juga ia mewanti-wanti tambahan yang dapat memperletih anak-anak baik secara fisik maupun kejiwaan.

Harus meminta persetujuan orang tua anak

Anggota Dewan Perwakilan Daerah RI, Fahira Idris mengatakan gagasan Mendikbud tersebut harus meminta persetujuan para orang tua anak lebih dulu.

“Apapun kebijakan yang akan diterapkan di bidang pendidikan, orang tua dan murid harus dilibatkan. Tanya pendapat mereka mengenai kebijakan ini,” demikian diungkapkan dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta, Rabu (10/8) dikutip ANTARA.

Perspektif: Anak perlu waktu belajar tanggung jawab dalam keluarga, masyarakat, dan keberagamaan dalam konteks lintas generasi

Sekolah sehari penuh menyerap waktu anak sehingga berpotensi besar mengurangi partisipasi dan belajar mereka dalam lingkungan masyarakat, termasuk kesempatan belajar akan tanggung jawab dalam peran mereka sebagai anak dalam keluarga sesuai norma umum.

Selain itu, partisipasi keseharian mereka dalam bidang kerohanian di lingkungan umat lintas-generasi juga dapat terancam, karena lelah atau jenuh setelah melewatkan seharian di lingkungan sekolah.

%d bloggers like this: