Suara monyet jadi perdebatan antara Intelligent Source dan teori Darwin

Monyet Gelada hanya hidup di dataran tinggi negara Afrika, Etiopia. (Foto: Kolumbusjogger/wikipedia/CC)

Monyet Gelada hanya hidup di dataran tinggi negara Afrika, Etiopia. (Foto: Kolumbusjogger/Wikipedia/CC)

Sebuah penelitian terhadap bunyi suara monyet jenis Gelada (Theropithecus) kembali menggari bawahi perbedaan mendasar antara pandangan naturalisme dan Intelligent Source.

Penelitian yang dipublikasikan April ini dianggap satu pihak mendukung teori bahwa bahasa manusia adalah hasil seleksi acak alam, sementara pihak yang lain mengklaim bahwa kandungan makna dalam kompleksitas bahasa manusia menunjukkan fenomena bahasa hanya bisa berasal dari sumber yang cerdas.

Dalam laporan “Gelada vocal sequences follow Menzerath’s linguistic law para peneliti mengklaim ada struktur vokal suara pada Gelada, dan membandingkannya dengan prinsip produksi suara yang dikenal dengan hukum Menzerath.

Paul Menzerath adalah seorang ahli bahasa (linguist) Slowakia. Menurut hukum Menzerath, “semakin besar keseluruhannya, semakin kecil bagian-bagiannya.” Sebagai contoh kata yang panjang cenderung memiliki suku-suku kata yang lebih pendek dan frase panjang dengan kata-kata yang lebih pendek.

Suara panggilan Gelada tidak memiliki kecenderungan bahasa manusia seperti yang ditunjukkan Menzerath. Akan tetapi menurut penelitian itu, dalam suara-suara panggilan panjang yang dibuat monyet yang hanya hidup di Etiopia itu cenderung terdapat “dengusan,” “erangan,” “goyangan” dan “kantuk” yang lebih pendek, demikian BP (21/4) mengutip dari laporan itu.

Sekalipun para peneliti itu tidak mengusulkan bahwa panggilan panjang monyet Gelada memiliki makna yang berbeda-beda, mereka menilai bahwa panggilan-panggilan itu memiliki struktur vokal, dan memberi petunjuk awal pada evolusi bahasa manusia.

Tapi pandangan itu mendapat keberatan dari para ahli yang berlatar belakang Kristen.

“Bahasa [manusia] bisa digunakan untuk berbicara tentang bahasa itu sendiri; suara yang mengandung arti-arti khusus dapat berubah-ubah dan bergantung dari kebiasaan yang diterima oleh para pembicaranya; dan bahasa dapat menyampaikan peristiwa masa lalu, sekarang, dan masa depan atau suatu khayalan. Ini hanyalah sebagian dari karakteristik bahasa manusia yang tidak bisa dibandingkan dengan vokalisasi pada hewan,” demikian Ann Gauger, PhD pengarah komunikasi ilmu pengetahuan di Discovery Institute kepada BP.

Sebelumnya, mengkaji dari sisi pemaknaan bahasa dan informasi biokimia, John Baumgardner dan Jeremy Lyon dalam sebuah tulisan di Journal of the Evangelical Theological Society mempertahankan bahwa bahasa manusia justru menunjukkan bahwa pandangan yang mengatakan hanya ada hal-hal yang bersifat material dan manusia berevolusi tanpa campur tangan Allah adalah keliru.

Mereka menunjukkan bahwa bahasa manusia diungkapkan lewat wadah fisik, seperti tinta di atas kertas, gelombang suara di udara, atau kode elektronik dalam jaringan telpon genggam, namun makna, yang merupakan bagian mendasar dari bahasa, terpisah dari wadah fisik apapun dan karena itu tidak bisa berasal dari sumber material.

Hukum kimia dan fisik “tidak memberikan petunjuk sama sekali bahwa suatu unsur dapat memberikan pemaknaan, atau setidaknya berurusan dengan makna, meskipun di level yang paling sederhana.

“Sekalipun ketika suatu hal disusun dengan cara yang sangat rumit, seperti jaringan elektronik…tanpa suatu peranti lunak (software) [yang memungkinkan terjadi pemaknaan], tidak ada tanda yang menunjukkan adanya suatu kemampuan untuk menghasilkan signal atau perilaku yang memiliki makna. Sekalipun para naturalis pernah berpikir bahwa hal demikian bisa muncul di kemudian hari, tidak ada bukti yang dapat diamati yang menunjukkan bahwa hal itu mungkin terjadi,” tulis mereka.

Mereka menekankan bahwa adanya bahasa dengan makna – terlebih khusus bahasa biokimia seperti kode DNA (informasi genetika dalam setiap organisme) – menunjukkan bahwa “tidak ada kemungkinan yang masuk akal lainnya” selain bahwa Intelligent Designer [atau Intelligent Source], yaitu Allah, menciptakannya.