Seruan doa dan puasa mengikuti penembakan polisi di AS; Semua manusia diciptakan menurut gambar rupa Allah

AMERIKA SERIKAT (Yubelium.com) — Seruan doa dan puasa mengikuti tragedi yang terjadi di Baton Rouge, Lousiana, setelah seorang mantan marinir menembaki polisi di sebuah stasiun pengisian bahan bakar pada hari Minggu (17/7), menyebabkan tiga di antaranya meninggal dunia.

“Hanya Firman Tuhan yang memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menggoncangkan iman: Jawabannya adalah Tuhan Yesus Kristus. Dalam Yesus, harapan pada akhirnya adalah pemenang atas keputus asaan; kasih menang atas kebencian; dan Kebangkitan pada akhirnya menang atas kematian,” demikan Uskup Robert Muench, dikutip Aleteia.org (18/7).

Sebelumnya, pada 5 Juli seorang pria Afro-Amerika tewas di tangan polisi. Kejadian yang sama terjadi hari berikutnya di St. Paul, Minnesota, mendorong spekulasi bahwa serangan terhadap pihak keamanan sebagai aksi balas dendam.

Pada 7 Juli seorang pria bersenjata di Dallas, Texas, menyebabkan lima orang polisi meninggal dan melukai sembilan lainnya.

Kedua pelaku penembakan tewas dalam kontak senjata dengan pihak keamanan.

Uskup Agung Louisville sekaligus ketua Konferensi Waligereja AS, Joseph Kurtz menekankan bahwa tindakan brutal polisi dan pembunuhan terhadap petugas keamanan harus dihentikan.

“…[M]ari kita memohonkan kekuatan untuk menolak kebencian yang membutakan kita terhadap kemanusiaan kita semua.” Ia menyerukan sebuah refleksi nasional akan pentingnya melihat “betapa besarnya nilai dan martabat semua manusia,” demikian NCR (8/7).

Percakapan seputar mengatasi isu diskriminasi terus bergulir dengan seruan bahwa semua manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.