Sempat terhilang: Ahli bedah syaraf menerima Kristus sebelum meninggal karena kanker

Dr Paul Kalanithi dan isteri, Lusi dan anak mereka Caddie, dalam foto tak bertanggal. (Foto: Suszi Lurie McFadden/The Christian Post)

Dr Paul Kalanithi, seorang ahli bedah saraf di Departemen Bedah Saraf RS Stanford, California, Amerika Serikat, menutup usia ketika sedang berada di puncak kariernya.

Pada 9 Maret 2015 lalu ia menghembuskan nafas terakhir pada usia 37 tahun setelah berjuang melawan kanker paru-paru stadium IV selama dua tahun.

Syukurlah bahwa sekalipun Dr Paul sempat terhilang, ia kembali menemukan Kristus yang terus mencarinya.

Menamatkan sekolah kedokteran di Yale, meraih master bidang sastra dari Stanford, dan master sejarah dan filsafat sains dan kedokteran dari Cambridge, ia terus merenung bagaimana “biologi, sastra, dan filsafat saling bersinggungan.”

Ketika kuliah di Yale ia kehilangan pijakan dari iman Kristen yang diajarkan orang tuanya, penganut Kristen Methodist yang saleh.

Dalam memoir yang ia tulis ia mengaku bahwa hubungannya dengan Tuhan mulai renggang ketika ia mulai menerima berbagai argumen yang datang dari mereka yang tidak percaya Tuhan.

Dalam perjalanannya sebagai seorang ateis keras, ia melihat bahwa iman Kristen tidak bisa menyediakan dasar-dasar empiris tentang alam semesta, seperti yang ia lihat nampak dari argumen pencerahan. “Tidak ada bukti tentang Allah; karena itu, tidak berdasar untuk percaya pada Allah,” tulisnya.

Dalam wawancara dengan The Christian Post, isteri Dr Paul, Lusi menyebutkan waktu ketika suaminya kembali ke iman Kristennya.

“Sekitar 2005, tahun kedua kami di sekolah kedokteran, tepat sekitar Paskah 2005, ia mengatakan sesuatu, seperti ‘Aku mendapat pengalaman rohani’,” ungkap Lusi. “[Paul] mengalami momen di mana iman menjadi lebih masuk akal baginya.”

Dalam memoirnya Paul menceritakan bahwa ia melewatkan usia 20-annya menolak hal yang rohani, menerima “pandangan sains yang menyediakan metafisik yang lengkap” tanpa “konsep ketinggalan zaman seperti jiwa, Tuhan dan seorang pria berjanggut.”

Sekalipun demikian, ia mengaku bahwa ia menghadapi persoalan dengan padangan dunia ateis.

“Persoalan itu menjadi jelas: menjadikan sains sebagai penentu metafisik adalah tidak hanya menghilangkan Tuhan dari dunia, tapi juga kasih, benci, makna,” tulisnya menambahkan bahwa jelas baginya bahwa dunia seperti itu bukan dunia nyata yang kita hidupi saat ini.

“Jika kita percaya ada makna [dalam hidup ini] kita juga harus percaya pada Tuhan,” tulisnya. “Itu juga berarti bahwa jika kita percaya bahwa sains tidak menunjukkan keberadaan Tuhan, maka kita hampir diharuskan untuk menerima bahwa sains tidak memberi makna apa-apa, karena itu, kehidupan itu sendiri tidak memiliki makna apa-apa…”

Dalam memoir yang kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku itu, Paul menceritakan bahwa “nilai-nilai sentral iman Kristen” yang membawanya kembali: “pengorbanan, penebusan, pengampunan.”

Imannya tidak goyah ketika pada 2013 ia didiagnosa dengan penyakit kanker terminal.

“Teladan Yesus Kristus memikul penderitaan untuk sebuah alasan – Ia dicambuk, ditambah penghinaan, ditambah penyaliban – (menunjukkan) adanya lembar-lembar penderitaan fisik dan emosional yang dialami Yesus yang diajarkan pada kita untuk memahaminya dan menjadi saksi,” ungkap Lusi.

Penderitaan Kristus memampukan Paul untuk menerima dan menjalani penderitaannya sendiri, terang isterinya.

Buku memoir Paul belum selesai ketika ia mendapat istirahat dari kesusahan hidup, namun apa yang telah ditulisnya cukup untuk diterbitkan secara anumerta dengan judul When Breath Becomes Air (ketika nafas menjadi udara), dan menjadi salah satu buku laris (bestselling) The New York Times.

 

Referensi: Samuel Smith, “Stanford Neurosurgeon Killed by Cancer Accepted Christ After Embracing ‘Ironclad Atheism’,” The Christian Post, 9 Juni 2016. http://www.christianpost.com/news/stanford-neurosurgeon-killed-by-cancer-accepted-christ-after-embracing-ironclad-atheism-165006/page1.html, akses 23 Juni 2016.

 

%d bloggers like this: