Menangkal provokator: suku, agama, dan perbedaan golongan, tiga sisi Indonesia yang rentan provokasi

Simbol kerukunan beragama: Pastor Johanes M Wemay MSC berlutut di tengah-tengah para pastor, haji dan haja yang memberi restu dan memberkati pelayanannya sebagai seorang imam Gereja Katolik. (Foto: Pena Katolik)

EKKLESIASTIKA — Dalam situasi di Indonesia ketiga hal ini: suku atau etnis, agama, dan golongan memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat dan perorangan.

Kepemilikan terhadap tiga hal ini merupakan hal yang positif, namun di sisi lain ada pula aspek negatif yang perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan bencana kemanusiaan yang besar.

Ketika seorang melihat jatidirinya (identitas) dari kepemilikannya atas kelompok etnis, agama, dan golongan, maka jika terjadi rongrongan terhadap satu atau semua kategori itu, ia dapat secara sukarela turut melibatkan diri di dalamnya, sekalipun menghadapi resiko.

Hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia, karena fenomena ini merupakan fenomena khas manusia.

Yang perlu diwaspadai adalah kepedulian yang buta terhadap agama, suku, dan golongan dapat menyebabkan manusia kehilangan kemanusiaannya.

Contoh tragis adalah ketika warga Rwanda dari suku Tutsi melakukan pembunuhan massal terhadap saudara saudari mereka dari suku Hutu mengakibatkan lebih dari 500.000 orang terbunuh.

TERKAIT: Uskup Agung Bangui kuatirkan komunitas Muslim di Republik Afrika Tengah

Yang dekat dengan kita adalah yang dialami oleh saudara-saudari kita di Ambon dan Maluku pada konflik 1999-2005. Untunglah kelompok-kelompok masyarakat yang terlibat konflik kembali mengingat akar budaya luhur mereka yang diwariskan secara turun temurun, yakni “pela gandong” dan “ain ni ain.”

Kekejaman dan kekerasan yang diarahkan terhadap kelompok etnis/agama tertentu diistilahkan sebagai “genosida,” artinya orang-orang dibinasakan hanya karena mereka berasal dari suku/etnis, agama atau golongan tertentu.

Tidak manusiawi, bukan?

Tidak ada seorang pun yang dalam keadaan sadar dan berpikiran sehat akan melakukan sesuatu seperti pembunuhan massal.

Namun para provokator dapat menyebabkan seorang petani lugu yang mencintai keluarga dan tempat ibadahnya menjadi seorang monster pembunuh yang haus darah.

Di situlah letak mengapa para provokator konflik dapat disebut melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Agama, suku, atau golongan tidak semerta-merta meresepkan konflik.

TERKAIT: Sebarkan! Mengenali Gereja, agama dan gerakan keesaan ASPAL (asli tapi palsu)

Adanya faktor-faktor rawan konflik, misalnya persaingan tidak sehat, ketimpangan ekonomi, dan lain sebagainya, bisa dieksploitasi oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk menimbulkan kekacauan demi motif politik atau sabotase ekonomi.

Itu sebabnya masyarakat harus bisa mengenali trik-trik provokasi yang dilakukan lewat berbagai media, termasuk media sosial.

Ciri-ciri utamanya adalah menimbulkan rasa iri hati antara kelompok-kelompok yang berbeda, termasuk mengajak dan membakar sentimen negatif untuk mendorong orang pada sikap bermusuhan bahkan pada perbuatan-perbuatan melanggar hukum.

Cara paling jitu menangkal provokator adalah dengan mengembangkan komunikasi dan rasa saling percaya dan menghargai, saling melindungi, saling memanusiakan antara kelompok-kelompok berbeda demi kemajuan dan damai sejahtera bersama.

Kedua, jika terjadi suatu tragedi yang melibatkan orang berlatar belakang suku, agama, golongan berbeda, jangan langsung membabi buta, istilahnya meng-generalisir, menyama-ratakan ke semua orang-orang dalam kategori tertentu.

Jika terjadi suatu peristiwa kriminal, masyarakat harus jeli supaya tidak terprovokasi untuk menjadikannya sebagai isu SARA.

TERKAIT: “Amsal orang Kei”: Pulang kampung ditahbiskan imam Katolik, diarak oleh umat Protestan dan Islam

Contoh yang terjadi belum lama ini adalah pengeroyokan dan pembunuhan terhadap seorang pemuda Dayak Muslim bernama Eki Persia Rianda alias Dante bin Sukarna Jaya, yang menurut keterangan Dewan Adat Dayak (DAD) adalah seorang “[w]arga Dayak Ngaju Mangkatip + Dayak Bakumpai Barito Selatan.”

Sempat beredar di media sosial ajakan (baca: provokasi) yang mengarah pada tindak kekerasan terhadap kelompok tertentu.

Untungnya masih banyak orang yang memilih akal sehat daripada langsung bereaksi secara emosional.

Hal ini tercermin dari sikap DAD yang menyerukan supaya masyarakat tidak terprovokasi, dan lebih jauh menginformasikan tentang situasi yang ada dalam koordinasi dengan pihak kepolisian termasuk dengan pihak organisasi kemasyarakatan Madura.

“Tragedi Sampit” kedua pun hanya jadi angan-angan provokator, dan masyarakat bisa melanjutkan aktivitasnya dan bertemu sapa di pasar atau di kantor desa tanpa ada masalah.

Dalam suasana kondusif pihak kepolisian pun dapat dengan leluasa mengembangkan kasus dan membawa pelaku kejahatan di hadapan hukum untuk diadili.

Itu sebabnya penting untuk mengingat bahwa simpati terhadap saudara yang berlatar belakang suku, agama, golongan yang sama, jangan menutup mata kita terhadap kenyataan bahwa apapun latar belakang suku, agama, dan golongan kita kita semua adalah sesama manusia.

Jangan kehilangan kemanusiaan kita, seperti para provokator.