Sempat emosi: Hampir satu desa menerima Injil setelah menonton kisah penyaliban Yesus Kristus

Hampir seluruh warga sebuah desa di Filipina menerima Injil setelah mempelajari Alkitab dan menonton kisah penyaliban Yesus Kristus lewat film “The Passion of Christ” (penderitaan Kristus), demikian Gospel Herald (25/4), melansir laporan sebuah organisasi pelayanan.

Christian Aid Mission (CAM) yang turut menopang pekabaran Injil oleh misionaris lokal mengungkapkan bahwa sebuah tim pelayanan melewatkan sekitar delapan bulan di tengah masyarakat Manobo, menyelenggarakan pembelajaran Alkitab secara berurut dari kisah Perjanjian Lama sampai pada Perjanjian Baru.

Laki-laki, perempuan, dan anak-anak turut menghadiri kegiatan tersebut dan mereka haus akan kebenaran berita Injil.

“Minggu sebelum memaparkan pelajaran tentang Injil adalah minggu yang penuh penantian,” ungkap pemimpin tim tersebut yang namanya dirahasiakan untuk alasan keamanan. “Semua orang menunggu apa yang akan terjadi terhadap Yesus setelah Ia ditangkap oleh para pemimpin agama…”

Untuk membuat pelajaran Injil lebih hidup pengajar memasukkan video pendek dari film yang menunjukkan derita yang dialami Kristus sebelum akhirnya disalibkan di atas Bukit Golghota.

Setelah menyaksikan video tersebut banyak orang yang menjadi emosional dan marah dengan tindakan para pemuka agama dan prajurit Roma.

“Seandainya saya bisa ada di samping Yesus untuk membantuNya,” kata seorang pria lanjut usia penuh emosi. Namun setelah kebenaran tentang kematian dan kebangkitan Kristus dijelaskan, bahwa hal itu merupakan karya selamat Allah untuk manusia, suasana dipenuhi dengan kagum dan takjub.

Tergerak oleh pengorbanan Kristus bagi manusia, banyak warga desa menaruh iman dalam kematian dan kebangkitanNya.

“Hampir seluruh desa memberi tanggapan [terhadap Injil] dan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat,” ungkap pemimpin tim. “Adalah sukacita besar bagi kami melihat mereka memahami anugerah selamat Yesus yang menyelamatkan; di antara mereka menangis ketika membagikan kesaksian iman mereka.”

Hari berikutnya, lebih banyak warga desa yang membagikan tentang bagaimana Injil mengubahkan hidup mereka.

Seorang pria lansia mengatakan, “Ia menderita sedemikian itu bagi saya. Saya bahagia Ia bangkit kembali dari kematian.”

Seorang perempuan berusia 84 tahun turut membagikan kesaksiannya. Ia mengatakan bahwa ia bersyukur mendengar apa yang telah dilakukan Yesus baginya di atas kayu salib. Ia mengungkapkan bahwa sekalipun waktunya di dunia ini sudah tidak lama lagi, namun ia yakin bahwa sorga adalah rumahnya yang pasti karena apa yang dilakukan Kristus baginya.

Martir Kristus

Pada November lalu, CAM melaporkan martirnya Feliciano Lasawang, 50, dikenal sebagai Pastor Cris dan puteranya, Darwin, 24, keduanya merupakan pekabar Injil yang bekerja di bagian selatan Filipina. Mereka sedang mandi di sungai tempat mereka biasa membaptis ketika mereka dihujani tembakan, diduga oleh kelompok militan komunis.

Pastor Cris meninggalan isteri dan tujuh anak lainnya. CAM sedang terlibat untuk membantu keluarga yang ditinggalkan.

Seorang pemimpin pelayanan di wilayah itu mengatakan bahwa kelompok komunis memusuhi orang Kristen karena pertumbuhan gereja menghalangi pergerakan mereka, karena di mana ada gereja, pendeta dan pekabar Injil, upaya perekrutan mereka untuk bergabung dalam kelompok bersenjata melawan pemerintah menjadi tak berhasil.

Jemaat sangat terpukul dengan kejadian itu dan berdukacita. Namun, pemimpin pelayanan tersebut mengatakan bahwa ia berharap pembunuhan itu akan membawa jemaat semakin dewasa, bukan menjadi layu.

“Mereka shock ketika pertama saya bicara dengan mereka, dan mereka merasakan kepedihan, namun juga dengan harapan akan apa yang akan dilakukan Tuhan ke depan,” ungkapnya. “Hati saya ada dukacita yang dalam mengetahui bagaimana mereka meninggal, namun memuliakan Tuhan, karena tahu ke mana Pastor Cris dan puteranya telah pergi.”

%d bloggers like this: