Pemimpin Islam Mesir sesalkan pertunjukan tidak senonoh di Kota Suci Yerusalem

Kota Suci Yerusalem. (Foto: St. Joseph ukr)

YUDEA-PALESTINA (Yubelium.com) — Pertunjukan para penari dari Austria di teater Kota Suci Yerusalem pada Jumat, 27 Mei disesalkan oleh Mufti Agung Mesir, Shawki Ibrahim Abdel-Karim Allam. Pasalnya, para penari tersebut (maaf – Red.) tidak mengenakan pakaian.

Ia mengatakan bahwa pertujukan pada Festival Israel itu menyulut provokasi dan menyinggung perasaan penganut ketiga agama monoteistik, demikian dilansir Times of Israel (28/5). Ketiga agama monoteistik yang dimaksud adalah Yahudi, Kristen, dan Islam.

Ia juga menyebut pertunjukan itu menghina kesakralan Kota Suci Yerusalem, dan “menyumbang pada penyebaran teror, ekstrimisme dan ketidak stabilan” di wilayah itu.

Sekularisme radikal

Hal senada telah diungkapkan oleh Patriarkh Kirill, pemimpin Gereja Ortodoks Rusia pada Januari lalu. Ia mengatakan bahwa “sekularisme radikal” telah mendorong sejumlah orang untuk bergabung dengan kelompok ekstrimis.

Menyinggung kemerosotan moral di Eropa, ia mencontohkan pawai homoseksual di Perancis yang diperbolehkan, sementara aksi protes dari para pendukung keluarga dibubarkan oleh polisi.

Upaya membangun “peradaban tanpa Tuhan” itu ditanggapi sebagian orang dengan bergabung dengan gerakan ekstrimis yang menggunakan agama, seperti ISIS ungkapnya.

Penolakan pemimpin-pemimpin agama

Pawai homoseksual juga dilaksanakan di Kota Suci Yerusalem setiap tahun, sekalipun mendapat penentangan keras dari kelompok-kelompok agama yang menolak praktek tersebut.

Pada 2015 lalu seorang penentang Yahudi garis keras bahkan menyerang para peserta pawai, mengakibatkan salah seorang gadis meninggal dunia. Maret lalu ia diperhadapkan dengan tuntutan pembunuhan dan percobaan pembunuhan.

Para penentang mengatakan pawai tersebut dilakukan di Tel Aviv saja, namun para pendukung bersikukuh untuk menyelenggarakannya juga secara tahunan di kota suci bagi ketiga umat monoteistik.

Michael Oren, dutabesar negara Israel untuk Amerika Serikat pada 2012 lalu menulis: “Ketika pemimpin-pemimpin agama – Yahudi, Kristen dan Islam – bersama-sama menuntut penghentian pawai Gay Pride tahunan di Yerusalem, negara memastikan bahwa itu terlaksana.”

%d bloggers like this: