Pemimpin gereja: Ada yang mengipasi konflik agama, tapi virus menyerang semua orang lepas dari agamanya

Cardinal Onaiyekan

Uskup Agung Abuja, John Cardinal Onaiyekan. (Foto: theunion.com.ng)

NIGERIA (Yubelium.com) — “Kita harus hidup bersama karena tak ada yang dapat memperoleh apapun dalam konflik, kebingungan dan [pertentangan]. Sekalipun di tengah perbedaan-perbedaan, ada persamaan yang kita sama-sama miliki.”

Hal ini diungkapkan oleh Uskup Agung Abuja, Onaiyekan menyikapi munculnya sentimen negatif agama yang didorong oleh serangan yang dialami para petani di beberapa bagian di negara Afrika Barat itu.

“Syukur kepada Allah bahwa ada banyak warga Nigeria yang yakin bahwa kita tidak ditakdirkan untuk saling membunuh dan bahwa ada harapan bagi kita untuk hidup bersama sebagai sesama warga Nigeria,” demikian dikutip media lokal This Day (8/5).

Beberapa insiden kekerasan yang dilakukan sekelompok orang dari masyarakat peternak telah mengakibatkan korban jiwa dan kerugian materi di antara para petani. Kardinal Onaiyekan menolak upaya-upaya untuk menjadikan persoalan itu sebagai konflik agama.

“Mengenai kelompok peternak, semua orang tahu apa yang harus dilakukan oleh pemerintah karena salah satu dari tugas utamanya adalah menjamin keamanan dan keselamatan semua masyarakat Nigeria;

yang artinya ketika ada sekelompok orang, apakah mereka peternak atau penculik, atau perampok bersenjata, pemerintah harus mencari cara untuk secara efektif menghentikan mereka.”

Dalam kesempatan peresmian Dapur Maria, sebuah pusat kegiatan kemanusiaan di Abuja, ia juga mengatakan bahwa selama bertahun-tahun umat Kristen dan Muslim telah hidup berdampingan, sekalipun dalam situasi perang saudara.

“Kita telah melakukannya selama bertahun-tahun. Sekalipun ada perang saudara, kita telah hidup bersama dan perang saudara itu sama sekali bukan merupakan perang antara Kristen dan Islam. Kita telah membuktikan kepada dunia bahwa kita dapat hidup bersama,” ungkapnya.

“Saya akan pergi ke seluruh dunia dengan membangga-banggakan hal ini, mengatakan kepada mereka bahwa kita memiliki tidak kurang dari 80 juta umat Kristen, 80 juta umat Islam, hidup berdampingan, hari demi hari, di setiap level kehidupan kita, dari pertemuan Dewan Eksekutif di Aso Villa sampai di tengah para perempuan di Pasar Wuse.

“Kita harus hidup bersama karena tidak ada yang dapat memperoleh apapun dalam konflik, kebingungan dan [pertentangan]. Sekalipun di tengah perbedaan-perbedaan, ada persamaan yang kita sama-sama miliki.”

Menolak kekerasan

H. Ibrahim Jega, Sekretaris Dewan Pengurus Mesjid Nasional Abuja dalam sambutannya mewakili Sultan Sokoto, H. Sa’ad Abubakar III, mengatakan bahwa pemerintah perlu melakukan lebih banyak lagi untuk mereka yang berkekurangan. Ia menambahkan bahwa Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan, kekacauan, dan pembunuhan ugal-ugalan.

H. Jega mendesak generasi muda untuk menolak kekerasan dan berpegang teguh pada ajaran agama masing-masing. Lebih jauh ia mendorong para pemuda dan pemudi untuk menggunakan fasilitas itu dengan baik dan meminta pengelola supaya mereka aktif dan mengupayakan agar masyarakat yang berkekurangan dapat memanfaatkan pelayanan mereka.

Pusat pelayanan itu sendiri diprakarsai oleh Dr Willy Ojukwu, imam Gereja Katolik Salib Kudus Gwarinpa. Ia mengatakan bahwa “agama seharusnya tidak memecah-belah melainkan menyatukan kita, sehingga merupakan dorongan keserasian lintas agama dari masyarakat akar rumput.

“Kita harus menjadi penjaga saudara saudari kita, dan karena itu memberi makan mereka yang lapar, menghibur yang tertindih, dan memberi harapan kepada yang telah kehilangan harapan di semua lapisan masyarakat.

Mengatasi persoalan bersama

Selain mengingatkan untuk mewaspadai provokasi agama, Kardinal Onaiyekan juga mengajak seluruh masyarakat untuk bekerja sama mengatasi persoalan yang dihadapi bangsa.

“Apa yang saya dan Sultan selalu beritakan adalah bahwa persamaan-persamaan kita adalah jauh lebih penting dari perbedaan-perbedaan kita. Bahkan dalam hal ajaran, meyakini bahwa ada Allah yang Esa, adalah suatu hal yang sangat baik. Hanya segelintir orang […] yang akan mengatakan kepada kita bahwa Allah orang Kristen adalah berbeda dari Allah umat Muslim,” ungkapnya.

“Menaruh percaya dalam Allah [yang Esa] ini adalah suatu hal yang sangat baik. Ketika kita menghadapi wabah Ebola di Nigeria, saat itu tidak ada Ebola Kristen atau Ebola Muslim. Kita semua menghadapinya bersama. Ketika kita menderita akibat korupsi dan pemerintahan yang buruk, apakah seakan Kristen tidak peduli, hanya Muslim? Atau, Muslim tidak peduli, hanya Kristen?

“Di antara para pencuri ada Kristen ada Muslim. Dan di antara kita yang menderita karenanya adalah Kristen dan Muslim. Kita memiliki tugas bersama untuk menuntut pemerintahan yang baik, untuk menuntut kejujuran dari pemerintah. Untuk melakukan ini, kita harus bergandeng tangan bersama, dan memperbaiki masalah-masalah kita bersama.”