Misteri Ledakan Informasi Kambrium: Salah satu tantangan terberat Teori Evolusi

(Gambar: gardeborn.se)

EKKLESIASTIKA — Para ilmuwan mempelajari bahwa pada satu periode yang relatif singkat muncul berbagai bentuk makhluk hidup yang kompleks.

Kesimpulan ini didasarkan pada penemuan dan pengamatan terhadap fosil-fosil di lapisan bebatuan, yakni pada lapisan yang lebih dalam hanya terdapat fosil organisme yang lebih sederhana, namun dilapisan yang lebih ke atas terdapat berbagai makhluk hidup yang kompleks.

Mereka menamakannya Letusan Kambrium (Cambrian Explosion), yang menurut rentang waktu panjang (RWP) yang dipakai untuk menjelaskan kehidupan, ditempatkan pada sekitar 500-an juta tahun yang lalu.

Letusan Kambrium diakui oleh ilmuwan Charles Darwin (1809-1882) sebagai salah satu tantangan utama terhadap teori seleksi alam acak berangsur, atau dikenal dengan Teori Evolusi,1 karena menunjukkan munculnya berbagai bentuk binatang dalam kurun waktu relatif singkat (20-35 juta tahun RWP) dan tidak menunjukkan adanya proses perubahan seperti yang dikemukakan dalam Teori Evolusi.2

Di samping memberatkan Teori Darwin, Letusan Kambrium juga menghadirkan suatu misteri Biologi.

Setiap orang yang membidangi Biologi tahu bahwa suatu organisme membutuhkan informasi untuk dapat membangun struktur dan fungsi.

Jadi ada tanda tanya besar menyangkut asal muasal kehidupan dalam Biologi, dari mana semua informasi itu berasal, karena sebagai manusia kita juga tahu bahwa informasi tidak terjadi begitu saja. Informasi hanya bisa datang dari sesuatu yang dapat menyediakan/membuat informasi.

Pada 1950-an para ilmuwan menunjukkan adanya struktur DNA (asam deoksiribonukleat) yang memuat informasi genetika. (Istilah “genetika” diambil dari bahasa Yunani “genesis,” kata yang diserap dalam bahasa Inggris dan dipakai untuk kitab pertama dalam Alkitab, yaitu Kitab Kejadian.)

Struktur molekul DNA menyimpan informasi dalam bentuk empat karakter kode digital yang disimbolkan dengan huruf A (adenine), C (cytosine), G (guanine), dan T (thymine). Informasi DNA ini yang menentukan perilaku protein sebagai pembangun.

DNA dapat diibaratkan sebagai peranti lunak (software) yang membuat komputer dapat beroperasi. Tanpa peranti lunak, maka layar komputer, mouse, motherboard, dan papanketik (hardware, peranti keras) tidak dapat melakukan fungsinya yang kita pergunakan saat ini.

Dengan kata lain tanpa instruksi, tanpa bentuk informasi, maka kehidupan tidak bisa dibangun.

“Bentuk kehidupan biologis mensyaratkan adanya informasi biologis,” ungkap Stephen C Meyer (lihat video di bawah), penulis buku “Darwin’s Doubt” yang menyandang gelar PhD di bidang filsafat sains dari Universitas Cambridge.

Yang menjadi pertanyaan adalah dari mana informasi itu berasal?

Apakah suatu seleksi alam acak dapat menjadi sumber informasi itu? Pertanyaan ini turut dipertimbangkan. Namun selain permasalahan yang disebut di atas, argumen Teori Evolusi itu sangat lemah untuk mendukung terbentuknya suatu instruksi atau informasi yang berfungsi, karena seleksi acak lebih berpeluang pada degradasi informasi, jelas Stephen Meyer.

Untuk menjelaskan argumen yang diberikannya secara sederhana dapat dicontohkan huruf-huruf dalam kalimat “Saya lapar,” jika diacak maka kemungkinan terbesar hasilnya adalah susunan huruf-huruf yang tidak bermakna.

Tidak hanya dalam hitungan secara matematika, ahli biologi molekuler, Douglas Axe, PhD juga mendapati hal yang sama.

Dalam penelitian ilmiahnya berjudul “Estimating the Prevalence of Protein Sequences Adopting Functional Enzyme Folds,” ia mendapati bahwa kemungkinan untuk membentuk kombinasi protein yang fungsional adalah “sangat jarang.”

Lewat teknik site-directed mutagenesis ia menunjukkan bahwa ungkapan “sangat jarang” yang dimaksud berarti untuk setiap urutan DNA yang menghasilkan protein yang berfungsi dengan panjang 100 asam amino, ada 10 pangkat 77 kemungkinan kombinasi, dan dari jumlah yang sangat besar itu, hanya satu kombinasi yang berfungsi.

Jadi dari mana informasi tepat yang memungkinkan adanya kehidupan di bumi dengan segala kompleksitas dan keindahannya?

Dalam DNA manusia dan makhluk hidup lainnya ada tanda tangan Allah yang menunjukkan semuanya adalah milik-Nya bagi kemuliaan-Nya.

 

  1. Darwin, C (1859). On the Origin of Species by Natural Selection. London: Murray. pp. 306–308. ISBN 1-60206-144-0. OCLC 176630493, dikutip dalam artikel di Wikipedia, Cambrian Explosion, akses 29/4/2016
  2. Erwin, D. H.; Laflamme, M.; Tweedt, S. M.; Sperling, E. A.; Pisani, D.; Peterson, K. J. (2011). “The Cambrian conundrum: early divergence and later ecological success in the early history of animals.” Science 334: 1091–1097. Bibcode:2011Sci…334.1091E.doi:10.1126/science.1206375. PMID 22116879, dikutip dalam artikel di Wikipedia, Cambrian Explosion, akses 29/4/2016.
%d bloggers like this: