Menggali kekayaan pesan Firman Tuhan lewat dua lapisan pemaknaan

(Ilustrasi: eindtijdinbeeld.nl)

EKKLESIASTIKA — Firman Tuhan yang tertulis ditujukan untuk memperlengkapi dan menuntun jemaat dalam jalan Tuhan.

Setiap orang percaya yang mendapat kehormatan untuk memberitakan Firman Tuhan memiliki tugas untuk menyuarakan kebenaran dan keindahannya untuk maksud tersebut.

Roh Allah mengilhamkan perkataan ilahi dalam ruang dan waktu tertentu, namun Firman Tuhan tetap relevan dengan kehidupan manusia dalam segala zaman.

Bagaimana Firman Tuhan berbicara kepada jemaat sekarang ini dapat terjadi lewat pemaknaan dan pemberitaan Alkitab.

Untuk hal ini terdapat dua pendekatan yang sekalipun berbeda namun pada akhirnya memiliki maksud yang sama dan dapat saling melengkapi. Kedua pendekatan itu adalah:

1) Pemaknaan dalam percakapan dengan tulisan Alkitab, dan 2) Pemaknaan lewat penelusuran secara historis-kontekstual.

 

1. Pemaknaan dalam percakapan dengan tulisan Alkitab

Seorang yang bahkan baru pertama kali membaca Alkitab, namun yang mendekati Firman Tuhan dengan kehausan yang dalam, dapat menimba begitu banyak air kehidupan lewat pemaknaan ini.

Alkitab berbicara dalam kekinian dengan pesan-pesan rohani yang menjawab situasi pribadi dan dunia saat ini.

Setiap kata, kalimat, dan cerita iman yang tertulis dalam Alkitab menawarkan arti dalam hubungan dan kaitan dengan perjalanan hidup dan kepekaan rohani pembaca firman.

Dengan demikian pembaca merasakan kesegaran dan kebaruan Alkitab lewat makna-makna rohani yang diperolehnya.

Pemaknaan rohani ini harus dijaga dalam kerangka pemberitaan Alkitab secara menyeluruh untuk menghindarkan diri kita dari pemaknaan yang menyimpang dari kebenaran Firman Tuhan.

Maksudnya makna rohani yang kita petik perlu searah dengan pemberitaan Alkitab tentang karya penciptaan, kejatuhan dalam dosa, janji keselamatan, karya penebusan Allah dalam Yesus Kristus, dan penggenapan pembaruan ciptaan (ciptaan baru).

Yang paling berharga dari pemaknaan ini, selain dari manfaat rohani yang diperoleh pembaca, adalah keunikan pemaknaan yang tak jarang belum pernah dibukukan atau diungkapkan dengan sebuah pena sebelumnya.

 

2. Pemaknaan lewat penelusuran secara historis-kontekstual

Seorang yang memiliki atau dapat mengakses sumber-sumber ilmu teologi akan bisa menambah pada pemaknaan pertama di atas suatu pendekatan historis-kontekstual, yakni pemaknaan yang diperkaya oleh pengetahuan tentang situasi dan kondisi yang melatar belakangi bagian Alkitab tertentu (sejarah dan latar belakang kehidupan).

Memiliki alat ini bisa sangat membantu seorang pembaca firman untuk menerjemahkan pesan rohani dalam pengalaman di masa lalu ke dalam situasi saat ini.

Namun perlu diwaspadai adalah ketika pembaca firman mencoba menggali latar belakang bagian Alkitab tertentu supaya ia tidak jatuh ke dalam godaan yang justru mengaburkan atau mengalihkan perhatian dari pesan firman yang penting dan utama. (Hal ini akan menjadi penghalang dalam pemberitaannya.)

Godaan demikian tak jarang memakai jubah “pengetahuan akademik” namun di belakangnya dimaksudkan untuk meruntuhkan atau menyesatkan (bukan untuk membangun iman jemaat).

Pembaca termasuk pemberita firman yang bijaksana dapat memilah dan memilih alat-alat yang berguna bagi pemaknaan Alkitab dan perluasan berita Injil.

Seorang pemberita firman yang dapat mengkombinasikan kedua pemaknaan Alkitab di atas, dengan pertolongan Tuhan akan bisa memproklamasikan keindahan dan kebenaran Firman Tuhan yang menuntun dan memperlengkapi pendengar dalam jalan Tuhan.

 

%d bloggers like this: