Gereja Ortodoks Suriah rayakan Paskah dalam situasi masih belum menentu; seruan untuk menempuh dialog dan jalan damai

Perayaan Paskah Kudus Gereja Ortodoks Suriah, 1 Mei 2016. (Foto: SANA)

Perayaan Paskah Kudus Gereja Ortodoks Suriah, 1 Mei 2016. (Foto: SANA)

SURIAH (Yubelium.com) — Gereja-gereja Ortodoks Timur yang mengikuti penanggalan kalender Julius merayakan Paskah Kudus, Minggu, 1 Mei 2016, dengan pesan perdamaian, keteguhan hati dan pengharapan dalam Kristus Yang Bangkit.

Tampak dari foto-foto yang dimuat media SANA, umat Kristen Ortodoks di Suriah turut merayakannya dengan penuh makna dan sukacita, di tengah gencatan senjata yang saat ini dalam kondisi rapuh.

Pemimpin Gereja Katolik, Paus Fransiskus dalam pesan Minggunya turut menyampaikan salam khusus bagi umat Kristen Ortodoks:

“Kiranya Tuhan Yang Bangkit membawa kepada saudara-saudari kita di Gereja-Gereja Timur semua pemberian terangNya dan damaiNya. Christos anesti! (Kristus sudah bangkit),” demikian dikutip Vatikan Radio (5/1).

Menanggapi perkembangan situasi di Suriah, terutama di kota Aleppo, ia mengungkapkan kesedihannya, dan menyerukan kepada semua pihak untuk menghentikan permusuhan dan mengupayakan perdamaian lewat dialog.

Ingat “para korban tak bersalah,” anak-anak, orang-orang sakit, dan “mereka yang dengan pengorbanan yang besar berjanji untuk membantu orang lain.”

Korban-korban tak bersalah dan kerugian yang sangat besar

Pengamat HAM Suriah yang berbasis di Inggris melansir informasi bahwa serangan mortir pihak oposisi bersenjata dalam beberapa hari terakhir ini telah menewaskan 71 warga sipil sedang serangan udara pemerintah 123, belum terhitung korban luka-luka dan hancurnya infrastruktur dan tempat tinggal rakyat.

Menurut laporan 2015 organisasi Syrian Center for Policy Research (SCPR) yang didukung oleh badan program pembangunan PBB, UNDP, korban jiwa akibat konflik di Suriah telah mencapai 470.000 jiwa. Konflik juga mengakibatkan bencana ekonomi dan sosial, penurunan tingkat harapan hidup signifikan dan melonjak tajam angka kemiskinan akut.

Di tengah perayaan Paskah Ortodoks, genjatan senjata juga diumumkan di Ukraina, negara dengan mayoritas penduduk memeluk Kristen Ortodoks yang masuk dalam krisis berkepanjangan dan perang saudara setelah penggulingan kekuasaan pemerintah yang dipilih lewat jalur demokrasi.

Dalam pesannya, Patriak Ekumenis Konstantinopel, Bartolomeus I mengajak umat Ortodoks untuk menjadi saksi kasih bagi sesama di tengah kekejaman dalam dunia yang dikoyak oleh terorisme, perang, dan penderitaan.

Pemimpin Ortodoks di Italia dan Malta, Gennasius juga menyerukan supaya setiap jemaat menyucikan hati untuk sepenuhnya merasakan kehadiran Dia Yang Bangkit.

Pemimpin Gereja Ortodoks Serbia Patriark Irinei memberi pesan supaya umat dapat memaafkan, “tidak menghakimi orang lain,” dan “tidak takut terhadap dunia sekalipun dengan ideologi-ideologi dunia, perpecahan, kebencian, dan kekerasan.”

Pernyataan bersama Patriark Antiokia Gereja Ortodoks Suriah, Ignatius Aphrem Ke-2 dan Patriark Antiokia Gereja Ortodoks Yunani, Yohanna Ke-10

Dalam perayaan Paskah ini, Gereja Ortodoks Timur meratapi dua pemimpin gereja di Aleppo, masing-masing Bapa Suci Yohanna Ibrahim dari Gereja Ortodoks Suriah dan Bapa Suci Boulos Yaziji dari Gereja Ortodoks Yunani, yang diculik pada 22 April 2013 ketika sedang dalam pelayanan kemanusiaan.

Sampai saat ini belum ada kabar jelas tentang nasib keduanya.

Pada 22 April lalu, Patriark Antiokia masing-masing dari Gereja Ortodoks Suriah dan Yunani mengeluarkan pernyataan bersama yang dialamatkan kepada seluruh rakyat Suriah dan masyarakat internasional, menyerukan pembebasan kedua pemimpin gereja itu, dan menekankan bahwa sebagai orang Kristen di wilayah itu, mereka siap menghadapi tantangan dan penderitaan untuk mempertahankan identitas mereka sebagai “[Gereja Ortodoks] Timur Antiokia.”

“Kami akan terus tinggal di Timur ini, membunyikan lonceng gereja kami, membangun gereja kami, dan mengangkat salib kami. Dan tangan-tangan yang diulurkan untuk menyentuh salib dan lonceng ini akan diputar oleh saudara-saudara Muslim kami dari berbagai spektrum.”

Mereka menekankan bahwa para pengikut Islam “sedang menderita seperti kami dari kepahitan terorisme buta dan takfiri.”

“Kami tidak pernah merupakan sebuah minoritas [di negeri kami], dan takkan pernah,” demikian pernyataan mereka, yang sekaligus mengajak umat untuk membawa penderitaan mereka kepada Kristus.

Ia yang dapat “membawa penghiburan dalam hati anak-anak kita, dan menegakkan perdamaian di negeri perdamaian. Negeri Timur ini sedang berdarah saat ini, tapi tak diragukan akan bangkit kembali. Kami adalah anak-anak Kebangkitan, dan terang.”

 

Berita lainnya:

Pesan Paskah 2016 Pemimpin Gereja Ortodoks Rusia, Patriark Kirill: Kebangkitan Kristus, peristiwa terpenting dalam sejarah