Profesor filsafat ini akhirnya mengakui Tuhan: Bukti yang merubah pemikiran saya

 

Seorang profesor filsafat di sejumlah universitas termasuk Oxford dan Aberdeen, Antony Flew (1923-2010) menggemparkan dunia akademisi ketika ia mengumumkan pada 2004 bahwa ia telah tiba pada keyakinan bahwa Allah ada.

Sosok kelahiran Inggris itu sebelumnya bersikukuh bahwa sebelum bukti tentang adanya Allah muncul, maka anggapan awal harusnyalah bahwa Allah tidak ada. Ia telah memenangkan reputasi sebagai salah seorang penentang adanya Tuhan yang paling keras.

Namun setelah bertahun-tahun menolak Tuhan, ia akhirnya mengakui bahwa bukti yang ada telah membawanya pada pengakuan bahwa Allah ada.

antony flew

Prof. Antony Flew (alm.)

Pengalamannya dimuat dalam sebuah buku berjudul: There is a God: How the World’s Most Notorious Atheist Changed His Mind (Allah Ada: Bagaimana Penganut Ateis Terkenal Dunia Mengubah Pikirannya).

Beberapa bulan sebelum bukunya diterbitkan pada 2007, ia diwawancarai oleh Dr Benjamin Wiker, yang memuat hasil wawancara tentang kisah “pertobatannya” itu di Strange Notion.

“Ada dua faktor secara khusus yang menentukan,” ungkap Prof. Flew menjelaskan bagaimana ia sampai pada kesimpulan akhir itu.

“Satu adalah sikap empati saya yang semakin besar terhadap pemahaman Einstein dan para ilmuwan terkenal lainnya bahwa harus ada Intelligence (Kecerdasan) di balik kesatuan rumit alam semesta secara fisik.

“Yang kedua adalah pemahaman saya sendiri bahwa kesatuan rumit kehidupan – yang jauh lebih rumit dari alam semesta secara fisik – hanya bisa dijelaskan lewat sebuah Sumber Cerdas (Intelligence Source).

“Saya yakin bahwa sumber kehidupan dan reproduksi hanya tidak bisa dijelaskan dari sudut pandang biologi, sekalipun ada banyak upaya untuk maksud tersebut. Dengan setiap tahun berlalu lebih banyak yang ditemukan terkait kekayaan dan kandungan kecerdasan pada kehidupan, semakin kurang bisa diterima bahwa campuran kimia dapat menghasilkan secara ajaib kode genetik.

“Menjadi nampak bagi saya bahwa perbedaan antara kehidupan dan non-kehidupan adalah ontologis bukan kimiawi,” ungkapnya.

Sekalipun Prof. Flew akhirnya mengakui keberadaan Tuhan lewat bukti yang ia lihat, ia mengaku bahwa ia mempercayai adanya Tuhan yang jauh dari kehidupan manusia.

Dr Wiker menanyakannya seberapa jauh ia dari menerima bahwa Allah adalah lebih dari seperangkat karakteristik, melainkan seorang Pribadi, sama seperti yang didapati oleh CS Lewis, seorang ateis yang kemudian mengalami pertobatan dan menjadi pembela iman Kristen.

“Saya menerima Allah seperti yang dipahami (filsuf Yunani) Aristoteles yang memiliki ciri-ciri yang kau sebutkan,” jawabnya merujuk deskripsi dalam pertanyaan tentang Allah sebagai yang ada dengan sendirinya, tak berubah, rohaniah, mahakuasa, dan mahatahu.

“Sama seperti Lewis saya percaya bahwa Allah adalah pribadi tapi bukan semacam pribadi yang bisa diajak bercakap-cakap. [Ia] adalah wujud tertinggi, pencipta alam semesta.”

Dalam wawancara itu Prof. Flew turut menyebutkan bahwa argumen salah seorang penentang keberadaan Tuhan yang cukup terkenal, bahwa ia yakin kehidupan berasal dari sebuah “kebetulan mujur,” telah lebih meyakinkan Prof. Flew akan kesimpulan yang telah ia dapati.

“Jika itu argumen terbaik yang dimiliki (oleh pemikir ateis), maka sudah game over.

Ia mengatakan bahwa bukti yang ada yang membawanya pada kesimpulan bahwa Allah ada dan merupakan Pencipta alam semesta dan isinya.

“Tidak, saya tidak mendengar sebuah Suara,” ungkapnya mengutip dari pertanyaan Dr Wiker.

“Adalah bukti itu sendiri yang membawa saya pada kesimpulan ini.”

 

Terakhir diperbarui: 23 Juni 2016, perbaikan penulisan minor.