Patriark Yerusalem: Konflik Timur Tengah bukan genosida terhadap umat Kristen, Muslim dan lainnya juga menjadi korban

Patriark Fouad Twal

Patriark Yerusalem Gereja Latin Fouad Twal. (Foto: Lastampa)

  • Banyak korban lain selain umat Kristen dalam konflik di Timur Tengah.
  • Masalah ISIS muncul dari konteks kemiskinan, ketidakadilan dan kediktatoran.
  • Korban di Suriah hampir mencapai setengah juta jiwa.
  • Umat Kristen ingin tetap tinggal di negeri kelahiran mereka demi Injil.

YUDEA-PALESTINA (Yubelium.com) — Patriark Yerusalem Gereja Latin, Fouad Twal mengungkapkan ketidak setujuannya atas pelabelan administrasi pemerintah Amerika Serikat untuk apa yang sedang terjadi di Timur Tengah sebagai “genosida terhadap umat Kristen.” Pandangan senada diungkapkan pemimpin Gereja Katolik Suriah di Hassake-Nisibis, Uskup Agung Jacques Behnan Hindo dan pemimpin Gereja Maronit Libanon, Patriark Bechara Boutros Rai.

“Tidak, saya tidak setuju dengan definisi ini [genosida terhadap orang Kristen – Red.] Pernyataan itu datang terlambat, ketika semuanya telah terjadi dan tidak lagi ada kaitannya dengan kenyataan saat ini. Setiap orang antara sudah mengungsi atau telah mati. Banyak yang lain, di samping umat Kristen yang menjadi korban kekerasan, dimulai dari umat Muslim. Ada korban lain yang lebih parah dari kita,” jawab Patriark Twal menanggapi pertanyaan Vatikan Insider (21/3) terkait pernyataan administrasi pemerintah AS terhadap ISIS.

“Mengapa Anda mengatakan itu terlambat?” tanya pewawancara.

“Eropa dan Amerika Serikat bereaksi terlambat dan menyadari mereka tidak dapat mengejar agenda mereka membagi-bagi Timur Tengah. Orang harus ingat akibat dari campur tangan militer tertentu, perang-perang tertentu yang dikobarkan di wilayah kami. Jika perdamaian yang Anda inginkan, maka bawalah perdamaian ke tempat tinggal orang lain, bukan perang,” jawabnya.

Ia mengecam alasan bahwa upaya untuk menurunkan pemerintah Suriah karena pelanggaran hak asasi manusia. Jika hal itu yang menjadi masalah “[m]engapa Anda tidak mulai dari Saudi Arabia?” ungkapnya, mengecam “standar ganda” yang diterapkan terhadap negara sekutu Barat.

Patriark Twal menyayangkan bahwa tidak ada jalan keluar mudah untuk situasi di Timur Tengah.

“ISIS bukan sesuatu yang hanya jatuh dari langit, [kelompok] ini tumbuh dari konteks kemiskinan, ketidakadilan dan kediktatoran, ditunjang oleh perdagangan besar senjata,” ungkapnya memberi penghargaan terhadap Paus Fransiskus yang secara berani terus menentang perdagangan senjata di wilayah itu.

Menurut Patriark Twal, ISIS, yang disebut seorang ulama “Negara Iblis,” harus dikalahkan dengan segala cara yang mungkin, tapi ia juga memperingatkan bahwa “sekalipun Daesh [sebutan lokal ISIS] dihapuskan sampai anggotanya yang terakhir, fenomena in akan muncul kembali jika kita tidak mengatasi penyebabnya, seperti ketidakadilan dan perdagangan senjata ilegal.”

Ditanyakan tentang apa yang sudah ia lakukan untuk membantu para pengungsi, Patriark Twal menyebutkan bahwa saat ini di Yordania terdapat 740.000 pengungsi, dengan 28.000 di antaranya adalah umat Kristen. “Kami melakukan apa yang kami bisa untuk membantu mereka,” ungkapnya.

Menurut laporan 2015 organisasi Syrian Center for Policy Research (SCPR) yang didukung oleh badan program pembangunan PBB, UNDP, korban jiwa akibat konflik di Suriah telah mencapai 470.000 jiwa. Konflik juga mengakibatkan bencana ekonomi dan sosial, penurunan tingkat harapan hidup signifikan dan melonjak tajam angka kemiskinan akut.

Diperkirakan jumlah warga Suriah yang mengungsi ke luar mencapai 3,11 juta orang sedang yang mengungsi dalam negeri sebanyak 6,36 juta jiwa; sementara 1,17 juta orang beremigrasi untuk mencari keamanan.

Uskup Agung Hindo mengatakan pernyataan “genosida terhadap Kristen” itu memuat kesalahpahaman bahwa hanya orang Kristen saja yang menjadi korban kekerasan ISIS. Warga Yazidi, Shia, Alawit, termasuk “semua Sunni yang tidak mau tunduk kepada mereka,” menjadi korban kekerasan ISIS, ungkapnya kepada Agenzia Fides (18/3).

Ia juga mengungkapkan bahwa pernyataan itu mengalihkan perhatian dari kompleksitas, sejarah dan proses politik yang berbuah pada penciptaan “monster jihad,” dari sejak perang Afganistan melawan Uni Soviet.

Selain itu, pernyataan itu menurutnya dimaksudkan untuk menyikapi perkembangan di Timur Tengah dengan meningkatnya pengaruh Rusia di kawasan itu. “Sepertinya kita telah kembali ke abad ke-19 ketika perlindungan umat Kristen di Timur Tengah adalah juga alat operasi geopolitik untuk meningkatkan pengaruh di kawasan.”

Sebelumnya Uskup Agung Hindo juga mengkritik langkah pemerintah AS yang mempersenjatai kelompok oposisi bersenjata di Suriah, yang ia sebut sebagai al-Qaeda dengan nama berbeda, dan hendak menjadikan Suriah senasib dengan Lybia.

Patriark Bechara Boutros Rai juga menolak pengistilahan “genosida” dalam wawancaranya dengan Vatikan Insider (28/2).

“Masalah di Timur Tengah bukan masalah penganiayaan Muslim terhadap Kristen,” ungkapnya menunjukkan dinamika yang menyulut konflik di wilayah itu. “Umat Kristen terperangkap di tengah-tengah; telah ada serangan-serangan yang menargetkan [orang Kristen], tapi itulah yang selalu terjadi di tengah kekacauan. Tapi kita tidak bisa mengatakan penganiayaan langsung dan sistematis, apalagi genosida. Ada lebih banyak penganiayaan terhadap Muslim daripada terhadap Kristen. Kristen adalah korban sama seperti yang lainnya, tapi 12 juta rakyat Suriah yang dipaksa meninggalkan tempat tinggal mereka bukanlah Kristen. Bahkan kekejaman Daesh lebih diarahkan kepada umat Muslim daripada Kristen,” ungkapnya.

Ia mengakui bahwa “ada kesulitan, perlakuan tidak pantas; ada rezim yang tidak menghormati kebebasan beragama tapi ini merupakan hal yang berbeda dari penganiayaan atau genosida.” Ia menekankan bahwa umat Kristen “yang dilahirkan di negeri kami, telah bisa hidup bahkan di bawah rezim yang paling adikara. Itulah sebabnya jika sekalipun tinggal satu orang Kristen tinggal di Timur Tengah, kami tidak akan pernah menjadi ‘minoritas’ di negeri kami.”

Ia juga mengungkapkan bahwa umat Kristen di Timur Tengah “tidak bisa memberi penghargaan terhadap mereka yang datang dengan bom, yang mengibarkan perang dengan alasan demokrasi dan reformasi atau yang mengatakan mereka ingin membantu orang Kristen. Mereka tidak benar-benar menginginkan reformasi. Mereka mencari sesuatu yang lain,” ungkapnya.

Sebelumnya ia menolak perlakuan dunia luar seolah-olah umat Kristen adalah “makhluk malang” yang perlu dikasihani, merujuk ke negara-negara yang mengatakan bahwa mereka terbuka untuk pengungsi, “lima puluh di sini, seratus di sana, lima ratus di negara lain.”

“Kami ingin tinggal di negeri kami, bersama dengan umat Muslim, tempat kami hidup bersama selang 1400 tahun, dan kami ingin tinggal di sini demi nama Injil. Kami telah membangun kebudayaan bersama, sebuah peradaban bersama,” ungkapnya.

 

%d bloggers like this: