Pastoral, berbelas kasih dan tetap konsisten: Dokumen kepausan Amoris Laetitia (Sukacita Kasih) tentang keluarga Kristen

paus fransiskus1VATIKAN (Yubelium.com) — Paus Fransiskus telah mengeluarkan nasihat apostolik tentang keluarga Kristen pada 8 April, yang dalam bahasa Latin disebut “Amoris Laititia” (Sukacita Kasih, teks lengkap bahasa Inggris).

Isinya menggaris bawahi makna dan keindahan keluarga, dan antara lain mengkritisi berbagai tantangan terhadap keluarga saat ini, seperti perceraian, pengabaian terhadap praktek keagamaan yang berdampak terhadap keluarga, termasuk masalah pornografi, aborsi, teori jender dan homoseksualitas.

Dokumen itu telah dinanti-nantikan umat Kristen, secara khusus Gereja Katolik, setelah dua pertemuan para uskup yang mendahului, masing-masing pada 2014 dan 2015 yang membahas tentang panggilan keluarga dalam dunia sekarang ini.

“Saudara-saudara yang terkasih,

“Dengan memohonkan pemeliharaan dari Keluarga Kudus Nazareth, saya gembira dapat mengirimkan nasihat ‘Sukacita kasih’ dari saya bagi semua keluarga dan orang-orang, yang tua dan muda, yang dipercayakan dalam pelayanan pastoral kalian.

“Dipersatukan dalam Tuhan Yesus, dengan Maria dan Yusuf, mohon jangan lupa mendoakan saya.

“+Fransiskus.”

Demikian sebuah catatan kecil yang menyertai dokumen kepausan yang ditanda tangani pada 19 Maret 2016, bertepatan dengan hari perayaan St. Yusuf dalam Gereja Barat.

Tantangan yang dihadapi keluarga saat ini dan pengaruh Paus Fransiskus sebagai tokoh agama dan pemimpin umat Kristen terbesar turut membuat isi dokumen “Sukacita Kasih” ini menjadi penting.

Bentuk pastoral dan bentuk kekuatiran

Beberapa kalangan memiliki perbedaan pendapat tentang cakupan serta sikap dokumen ini terhadap beberapa isu kontroversial dalam Gereja Katolik.

Ada kekuatiran bahwa dokumen itu akan membuat “doktrin baru” tentang pernikahan, perceraian dan hal terkait dengan seksualitas, termasuk homoseksualitas. Tulisan Elizabeth Scalia di Aleteia (8/4) menolak kekuatiran itu, menilai “Amoris Laetitia adalah [Paus] Fransiskus yang konsisten dengan pernikahan, perceraian, belas kasih, dan kasih.”

Beberapa kalangan Katolik kuatir bahwa dokumen itu telah membuka pintu luas bagi mereka yang berstatus cerai dan menikah lagi untuk menerima Sakramen, hal yang bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik.

Namun, Dr Robert Moynihan dari Inside the Vatican (8/4) menunjukkan bahwa “tidak ada perubahan doktrin satu pun dalam dokumen dengan 9 bab dan 325 paragraf itu;” menambahkan bahwa “semua laporan bahwa hal ini akan terjadi [yaitu adanya perubahan doktrin] merupakan sensasi dan keliru.”

Ia menjelaskan bahwa dalam hal tugas pastoral bagi anggota gereja yang bercerai dan kawin lagi, dokumen ini merekomendasikan perubahan praktek pastoral untuk supaya lebih “menyambut” mereka yang berada dalam situasi demikian. Namun, tidak memberikan aturan spesifik mengenai hal itu;

Bahwa dokumen itu mengatakan bahwa para imam dan uskup di seluruh dunia untuk menemui orang-orang yang berada dalam situasi ini, “berjalan bersama mereka” sementara mereka “mencari mengerti” kondisi rohani mereka dalam rangka untuk [para rohaniawan] “mengintegrasikan” mereka ke dalam kehidupan Gereja (huruf tebal Red.)

Dan itu sebabnya dokumen ini tidak menunjuk pada satu atau lain arah tentang mereka yang cerai dan yang kawin lagi dalam Gereja. Melainkan, membuka ruang bagi kasus-per-kasus untuk disikapi secara bijaksana dan pastoral.

Namun hal itu juga yang menguatirkan sebagian kalangan, bahwa kebijakan ini nantinya membuat ketidak seragaman dalam pemahaman doktrin dan penerapan disiplin Gereja.

Menurut Moynihan, Paus Fransiskus memang tidak memberikan panduan ketat mengenai hal tersebut, dan bahwa ia menjelaskan dengan ungkapannya: “Tidak semua diskusi tentang persoalan doktrin, moral dan pastoral perlu diselesaikan dengan intervensi dari magisterium.”

Paus menambahkan: “Setiap negara atau wilayah…dapat mencari solusi yang lebih cocok bagi budayanya dan sensitif terhadap tradisi dan kebutuhan lokal. Karena ‘budaya-budaya pada kenyataannya cukup bervariasi dan setiap prinsip umumperlu diinkulturasikan, jika itu hendak dihormati dan diaplikasikan’,” (huruf tebal Red.)

Ia juga menuliskan: “Saya ingin juga menunjukkan bahwa Ekaristi [Perjamuan Kudus] ‘bukan hadiah bagi yang sempurna, tapi obat berkuasa dan makanan penguat bagi yang lemah’.”

Moynihan menambahkan bahwa lewat dokumen itu Paus berupaya untuk “membuka sebuah pintu bagi orang-orang yang berada dalam situasi sulit untuk mencari tuntunan dari imam dan uskup di tempat mereka, dan [dokumen itu] merupakan permintaan yang jelas bagi imam dan uskup untuk membuka pintu bagi maksud tersebut.

“Saya tidak merasakan kekuatiran bahwa keterbukaan ini bermasalah dari sudut doktrin. Saya mendapati bahwa panggilan untuk fleksibilitas pastoral berjalan sesuai misi dan teladan Kristus dan Bapa-Bapa Gereja,” tulis Moynihan.

Dokumen ini “merefleksikan kasih dan kepedulian Paus Fransiskus untuk semua,” tambahnya, “termasuk mereka yang telah jatuh dalam situasi moral yang sulit – mungkin terutama bagi orang-orang demikian.”

Tantangan keluarga Kristen saat ini

Ada berbagai tantangan yang dialami keluarga Kristen saat ini, di antaranya adalah “pornografi [material cabul] dan komersialisasi tubuh, yang didorong oleh penggunaan internet dan juga situasi tercela yang dalamnya orang-orang dipaksa masuk dalam pelacuran” (h. 31).

“Sebuah krisis dalam hubungan sepasang suami dan isteri mengganggu kemantapan keluarga dan, lewat perpisahan dan perceraian, dapat membawa pada akibat yang serius terhadap orang dewasa, anak-anak dan masyarakat secara umum, melemahkan ikatan perorangan dan kemasyarakatan” (h. 31).

Salah satu kemiskinan besar dalam budaya saat ini adalah “kesepian” (loneliness) yang datang dari tidak adanya kehadiran Allah dalam kehidupan pribadi dan kerentanan dalam hubungan antar sesama. (h. 32)

Hubungan antar generasi terancam, dengan mentalitas yang menolak kehadiran anak-anak “yang dipromosikan oleh politik dunia tentang kesehatan reproduksi” yang seiring waktu, “akan menyebabkan kemiskinan ekonomi dan hilangnya harapan untuk masa depan” (h. 31-32).

Mengenai keluarga yang anggotanya ada yang mengalami ketertarikan sejenis, “situasi yang tidak mudah bagi orang tua maupun anak-anak,” bahwa “[k]eluarga demikian perlu diberikan bimbingan pastoral yang menghargai, supaya mereka yang memanifestaikan orientasi homoseksual dapat menerima bantuan yang mereka perlukan untuk memahami dan secara penuh memenuhi panggilan Allah dalam hidup mereka” (h. 190).

Secara tegas Paus menolak paham ideologi jender. (Lihat: “Sukacita Kasih”: Paus Fransiskus angkat martabat perempuan, tolak teori jender, kecam pemaksaan untuk menerima hubungan sejenis)

Nasihat tentang makna kasih dalam keluarga

Sementara menyikapi berbagai tantangan dan persoalan yang dihadapi oleh keluarga di zaman sekarang ini, “Sukacita Kasih” pada prinsipnya hendak menggaris bawahi keindahan kehidupan keluarga yang memberi makna yang dalam bagi kehidupan manusia.

Itu sebabnya, Paus Fransiskus, mengutip puisi Rasul Paulus dalam 1 Korintus 13, menjelaskan apa arti cinta-kasih itu dalam keluarga.  Cinta-kasih itu bukan sekedar perasaan, melainkan perbuatan atau tindakan yang mensyaratkan pengorbanan.

Kutipan di berikut berasal dari Bab 4 dokumen “Sukacita Kasih,” bagian yang menurut Moynihan menjadikan dokumen ini sebagai “salah satu dari tulisan mengagumkan yang pernah saya lihat dalam dokumen kepausan atau Vatikan.”

“[S]ekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku” (1 Korintus 2b-3).

Kata “kasih” biasa digunakan, namun sering disalahgunakan, ungkap dokumen itu.

“Kasih itu sabar dan murah hati” adalah ungkapan pertama dalam jabaran Rasul Paulus tentang kasih.

Kesabaran yang dimaksud adalah tidak hanya menyangkut “sabar dalam menanggung segala sesuatu;” namun artinya diperjelas oleh terjemahan Yunani dari Perjanjian Lama, yang mengatakan bahwa Allah “panjang sabar” (tidak mudah marah [slow to anger], Keluaran 34:6; Bilangan 14:18.)

“Kesabaran Allah, ditunjukkan dalam belas kasih-Nya terhadap orang berdosa, adalah sebuah tanda akan kekuasaan-Nya yang sejati.

“Sabar bukan berarti membiarkan diri kita terus-menerus diperlakukan buruk, menerima saja perlakukan fisik yang kasar, atau membiarkan orang lain menggunakan kita.

“Kita mendapat masalah ketika kita berpikir bahwa suatu hubungan harus sempurna atau orang lain haruslah sempurna, atau ketika kita menempatkan diri kita sebagai pusat dan mengharapkan semuanya terjadi seperti yang kita inginkan.

“Kemudian semuanya membuat kita tidak sabar, membuat kita bereaksi dengan cara yang bersifat menyerang.

“Kecuali kita menumbuh-kembangkan kesabaran, kita akan terus menemukan alasan untuk menanggapi dengan amarah.

“Akhirnya kita akan menjadi tidak sanggup untuk hidup bersama, tidak bisa membangun hubungan dengan orang lain, tidak bisa mengendalikan dorongan-dorongan yang ada dalam diri kita, dan keluarga kita akan menjadi sebuah medan perang.

“Karena itu firman Tuhan mengatakan kepada kita: “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan” (Efesus 4:31).

“Kesabaran berakar ketika [kita] mengenali bahwa orang lain juga mempunyai hak untuk hidup di dunia ini, sebagaimana mereka adanya.

“Tidak peduli jika mereka menahan [kita] maju, jika mereka merubah rencana [kita], menjengkelkan [kita] lewat cara mereka bertindak dan berpikir, atau jika mereka tidak seperti semua yang [kita] inginkan.

“Kasih selalu memiliki aspek belas kasih yang dalam yang membawa pada penerimaan terhadap orang lain sebagai bagian dari dunia ini, sekalipun ia bertindak berbeda dari yang [kita] inginkan.

“Kasih terletak dalam pelayanan bagi orang lain.

“Kata berikutnya yang digunakan oleh [Rasul] Paulus adalah [Yunani] chrestéuetai.

“Dalam seluruh Alkitab, kata ini hanya digunakan di sini.

“Kata ini berasal dari chrestós: orang baik, orang yang menunjukkan kebaikannya lewat perbuatannya.

“[Rasul] Paulus hendak membuat hal ini jelas bahwa ‘kesabaran’ bukanlah sebuah sikap yang sepenuhnya pasif, tapi hal yang disertai dengan perbuatan, dengan interaksi dinamis dan kreatif dengan orang lain.

“Kata itu menunjukkan bahwa kasih menguntungkan dan membantu orang lain.

“Untuk alasan itu diterjemahkan sebagai “murah hati”; kasih selalu siap memberi bantuan terhadap orang lain.

“Dalam seluruh bacaan ini, jelas bahwa [Rasul] Paulus hendak menekankan bahwa kasih adalah lebih dari sekedar perasaan.

“Melainkan harus dipahami seperti kata kerja bahasa Ibrani “mengasihi”; yaitu “melakukan hal yang baik.”

“Seperti yang dikatakan St. Ignatius Loyola, ‘Kasih lebih ditunjukkan oleh perbuatan, daripada kata-kata’.”

 

Terakhir diperbaiki: 16 April 2016, teknis penulisan pada subjudul “Bentuk pastoral dan bentuk kekuatiran” paragraf ke-2; tautan pada artikel terkait di subjudul “Tantangan keluarga Kristen saat ini.”