Paskah di Suriah: Perang dan kematian menunjukkan kepada kami arti sebenarnya dari kebangkitan

Perayaan Paskah di Damaskus, April 2015. (Foto via tasnim)

SURIAH (Yubelium.com) — Umat Kristen di Damaskus merayakan Paskah dengan penuh sukacita dan pengharapan di tengah suasana gencatan senjata. Sementara itu, pemerintah Suriah berhasil merebut kembali kota kuno Palmyra dari tangan kelompok teroris ISIS.

“Saya kira [perayaan] Paskah kami lebih indah dari tempat lainnya di dunia. Mungkin perang dan kematian menunjukkan kepada kami arti sebenarnya dari kebangkitan,” tulis direktur komunikasi organisasi kemanusiaan Caritas Suriah kepada media AsiaNews (31/3).

Ia menggambarkan bahwa mata orang-orang memancarkan sukacita dan bahwa perayaan Paskah adalah sebuah sumber pengharapan. Suriah bagi mereka bukan hanya sebuah rumah, bukan juga sekedar ibu pertiwi, tapi sebuah identitas diri.

“Kami memanjatkan doa kami kepada Juruselamat yang telah bangkit dari kematian, yang adalah Allah perdamaian, untuk masuk dalam setiap rumah, setiap kota, setiap hati yang terluka, setiap medan perang, setiap terowongan perang, dan mengatakan apa yang Ia katakan pada murid-murid-Nya: Damai bagimu…”  tulisnya.

Sementara itu, pemerintah Suriah berhasil merebut kota kuno Palmyra dari tangan kelompok teroris ISIS.

Media SANA (1/4) melaporkan bahwa kuburan masal telah ditemukan di kota itu, sementara ini 40 jasad telah diangkat, di antaranya adalah tubuh para perempuan dan anak-anak. Pada Mei 2015, kelompok teroris ISIS membantai sekitar 400 warga Palmyra, kebanyakan adalah perempuan, anak-anak, dan lanjut usia.

Moskow, yang memberikan bantuan militer atas permintaan Damaskus, memberikan klarifikasi mengenai koordinasinya dengan pihak Washington, yang mengambil kepentingan dalam perkembangan di Suriah, bahwa isu mengenai penentuan “nasib Presiden Assad” adalah tidak benar, dan supaya pihak lain “memberi rakyat Suriah hak kedaulatan untuk menentukan nasibnya sendiri terkait siapa pemimpin mereka” sesuai kesepakatan antara lain dalam Dewan Keamanan PBB.

Menurut laporan 2015 organisasi Syrian Center for Policy Research (SCPR) yang didukung oleh badan program pembangunan PBB, UNDP, korban jiwa akibat konflik di Suriah telah mencapai 470.000 jiwa. Konflik juga mengakibatkan bencana ekonomi dan sosial, penurunan tingkat harapan hidup signifikan dan melonjak tajam angka kemiskinan akut.

Diperkirakan jumlah warga Suriah yang mengungsi ke luar mencapai 3,11 juta orang sedang yang mengungsi dalam negeri sebanyak 6,36 juta jiwa; sementara 1,17 juta orang beremigrasi untuk mencari keamanan.

%d bloggers like this: