Guru Muslim yang meninggal setelah membela orang Kristen dalam serangan bus mendapat penghargaan tertinggi negara

Alm. Bp Salah Sabdow Farah: Pergi dengan meninggalkan pesan perdamaian. (Foto via Twitter)

KENYA (Yubelium.com) — Seorang guru Muslim yang meninggal dunia setelah sebelumnya menderita luka-luka ketika turut melindungi sesama warga yang berlatar belakang Kristen dalam penghadangan sebuah bis oleh kelompok teroris telah dianugerahi dengan penghargaan anumerta yang tertinggi di Kenya.

Alm. Salah Farah, ayah dengan lima orang anak, dianugerahi kehormatan The Order of Grand Warrior of Kenya (anugerah ksatria besar Kenya) oleh Presiden Uhuru Kenyata atas keberaniannya yang menginspirasi.

“Ia meninggal setelah berupaya membela orang-orang yang tidak ia kenal. Ini karena ia percaya dalam hak kebebasan beragama dan ia tahu bahwa setiap kehidupan – tanpa mengenal kepercayaannya – adalah sakral,” ungkap presiden Kenya dalam pidato kenegaraan di hadapan parlemen minggu lalu dikutip ChristianPost (4/4).

Desember lalu sekelompok orang bersenjata, diduga kuat terkait Al Shabaab, menghentikan bis yang membawa sekitar 80 penumpang dari Nairobi menuju Mandera.

Mereka lalu memerintahkan para Muslim untuk memisahkan diri dari non-Muslim. Tapi para penumpang secara heroik menolak. Sebelumnya para perempuan Muslim juga telah meminjamkan hijab bagi para non-Muslim.

“Lalu, pada saat itu, ketika kami disuruh untuk memisahkan diri, kami menolak, ketika itu sebuah peluru kena saya, berasal dari jauh,” ungkapnya setelah peristiwa itu ke media. “Peluru itu bersarang di pinggang.”

“Kita bersaudara, hanya agama yang berbeda, karena itu saya meminta kepada para saudara Muslim saya untuk menjaga orang-orang Kristen supaya orang-orang Kristen juga menjaga kita…Dan marilah kita saling menolong dan marilah kita hidup bersama secara damai,” ungkapnya awal Januari lalu kepada VOA (8/1) ketika sedang dalam perawatan.

Para petugas kesehatan di Kenyatta National Hospital Nairobi telah berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkan wakil kepala sekolah berumur 34 tahun itu. Namun, ia tak tertolong.

“Ia adalah simbol kuat bagi ambisi negara kita untuk mencapai kepenuhan ekspresi keamanan dan kepaduan negara, dan ia adalah pengingat yang sangat berharga bahwa kita semua mempunyai peran dalam melindungi kebebasan kita,” ungkap Presiden Kenya.

Ia juga mengatakan bahwa ia ingin memastikan kepada anak-anak almarhum bahwa pengorbanan ayah mereka tidak sia-sia. “[T]idak akan terlupakan – dan akan terus dikagumi” demikian dikutip The Independent.

April tahun lalu Al Shabaab menyerang kampus Universitas Garissa, dan membunuh 148 orang tak bersalah.

Uskup Agung Anglikan di Mombasa, Julius Kalu ketika itu mengatakan bahwa teroris ingin membagi Kenya menurut garis agama, demikian RNS.

Ia mengatakan bahwa hal itu “harus ditolak,” sambil mendesak para pemimpin untuk mengakhiri perpecahan agama, politik, dan etnik.

Para pemimpin Muslim Kenya mengutuk serangan itu dan menyebut kelompok teroris sebagai kriminal yang menggunakan agama untuk melakukan kejahatan.