Drama penghakiman umat Kristen di akhir zaman: Apakah kita akan berdiri di sebelah kiri atau di sebelah kanan?

Pemuda dan Remaja Gereja memutuskan untuk mementaskan sebuah drama bertemakan penghakiman di akhir zaman dalam rangka memeriahkan perayaan Hari Pentakosta.

Hari latihan ditetapkan setiap Rabu sore mulai minggu depan, dan semua pemeran masing-masing diberikan sebuah naskah drama.

Pada hari pertama latihan seorang pemuda (memerankan Tuhan Yesus), masih beberapa kali melihat ke naskah drama di tangannya, dengan lantang berkata:

“Marilah dan bersukacitalah bersama Bapa-Ku di Sorga, karena ketika Aku lapar kamu memberi Aku makanan; ketika Aku haus, minuman; ketika Aku kedinginan, pakaian hangat; ketika Aku mengungsi, tempat tinggal; ketika dalam penjara kamu mengunjungi Aku.”

Sekelompok pemuda dan remaja yang memerankan orang Kristen di sebelah kanan mimbar menjawab serentak:

“Tuhan, di manakah kami memberi-Mu makan ketika Engkau lapar; minuman, ketika haus; pakaian hangat, ketika kedinginan; tempat tinggal, ketika mengungsi; dan ketika dalam penjara, mengunjungi Engkau?”

Lalu pemuda yang memerankan Tuhan Yesus itu menjawab:

“Sesungguhnya apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini kamu melakukannya untuk Aku.”

Setelah itu, ia berpaling pada kumpulan pemuda dan remaja di bagian kiri mimbar. Dengan wajah murka yang meyakinkan ia berkata kepada mereka:

“Enyahlah kamu orang-orang terkutuk, enyahlah dalam api kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.

“Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makanan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minuman; ketika Aku kedinginan, kamu tidak memberi Aku pakaian hangat; ketika Aku mengungsi, kamu tidak memberi Aku tempat tinggal; ketika Aku dalam penjara kamu tidak mengunjungi Aku.”

Lalu para pemuda dan remaja di sebelah kiri mimbar itu menyahut beramai-ramai?

“Tapi Tuhan, kami membangun gedung gereja di mana-mana, besar dan mewah, membangun rumah sakit dengan diskon untuk keluarga kurang mampu, kami pergi menginjil sampai ke pelosok desa-desa, dan menjangkau jutaan orang lewat program televisi, radio dan internet…”

Ketika itu, ruang gereja yang tadinya ramai itu sejenak sepi, dan para pemuda dan remaja di sebelah kanan dan kiri mimbar ternyata mulai menitikkan air mata.

Hal itu tidak disebutkan dalam naskah drama.

Mereka semua hanya merasakan ada jamahan kuasa Tuhan dalam latihan perdana mereka.

Lalu tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari arah pintu gereja. Tampak pendeta jemaat datang mendekat ke arah mereka, rupanya ia diam-diam mengikuti latihan drama itu.

“Hebat! Luar biasa!” ungkapnya dengan penuh penghargaan. Sepertinya ia berusaha mengendalikan emosi keterharuannya.

“Sangat relevan dengan situasi umat Kristen di dunia saat ini. Banyak di antara saudara-saudari kita yang sedang menghadapi berbagai tantangan dan penganiayaan.

“Drama ini akan membuka mata, telinga dan hati umat gereja ini untuk memikir sesuatu yang dapat kita lakukan bersama sebagai tanda kesetia kawanan kita terhadap saudara-saudari kita di beberapa bagian dunia yang sedang menderita karena Kristus.

“Mari kita berdoa supaya Roh Kudus menggerakkan kita untuk melakukan apa yang dapat kita lakukan…”

Para pemuda dan remaja memutuskan bahwa setiap selesai latihan mereka akan berdoa khusus bagi setiap individu, gereja, komunitas Kristen, dan masyarakat umum, yang sedang menghadapi penderitaan karena ketidak adilan dan penindasan dari kuasa-kuasa dunia.

Akhirnya banyak jemaat lain yang datang bergabung bersama mereka.

Pendeta kemudian menantang mereka untuk berdoa minta petunjuk apa yang bisa mereka lakukan secara nyata untuk menunjukkan kesetia kawanan dengan umat Kristen tertindas, apakah yang ada di dekat maupun yang jauh.

Pada Hari Pentakosta jemaat gereja itu memutuskan untuk mengumpulkan kolekte untuk dikirimkan ke gereja pusat supaya dapat digabungkan bersama persembahan jemaat lainnya, dan disalurkan ke gereja-gereja atau badan sosial kemanusiaan yang sedang bekerja di lokasi-lokasi penampungan pengungsi.