Tantangan bersama: Forum Kristen Global bertemu di Moskow tindak lanjuti isu penganiayaan, diskriminasi dan kemartiran

(Foto via christiansincrisis)

RUSIA (Yubelium.com) — Komite Forum Kristen Global (Global Christian Forum, GCF), wadah yang dibentuk umat Kristen dari berbagai latar belakang institusi, organisasi dan tradisi gerejawi, bertemu di Moskow, 23-26 Februari 2016, mengevaluasi hasil dari Konferensi Dunia untuk solidaritas umat Kristen teraniaya yang dilaksanakan di Tirana, Albania, 2-4 November lalu.

Dalam pertemuan itu Komite GCF sepakat bahwa perlindungan umat Kristen teraniaya di dunia saat ini adalah prioritas darurat bagi seluruh umat Kristen dari berbagai latar belakang dan untuk mengambil tindakan bersama di level internasional, demikian dilansir Pravmir.com (4/3)

 

Tanggapan sejumlah pemimpin gereja dunia terhadap penderitaan dan penganiayaan umat Kristen dalam pertemuan GFC Tirana

Sekitar 145 peserta dari 65 negara turut mengambil bagian dalam pertemuan GCF lalu di Tirana, bertema: “Diskriminasi, Penganiayaan, dan Kemartiran: Mengikut Kristus Bersama,” demikian GCFNews Edisi 1, 2016.

Uskup Agung Tirana, Durres, dan Albania Raya Gereja Ortodoks, Bapa Suci Anastasios pada kesempatan itu mengingatkan para peserta bahwa gereja-gereja “tidak bisa acuh tak acuh terhadap penderitaan saudara-saudari kita” yang ditindas “dengan berbagai cara.”

“Kita harus menggunakan hak suara kita untuk membawa pengaruh terhadap para pemimpin,” ungkapnya. “Kita dituntut untuk mengangkat suara kita dengan berbagai cara yang tersedia untuk melindungi (dan) secara aktif mendukung” mereka yang sedang menderita.

“Meskipun dengan perbedaan-perbedaan yang memisahkan sebagian dari komunitas-komunitas kita, krisis saat ini di seluruh dunia menuntut supaya bersama kita bekerjasama bagi mereka yang menderita penganiayaan dan kemartiran,” ungkap Sekretaris Jenderal Aliansi Gereja Injili Sedunia (World Evangelical Alliance, WEA), Uskup Efraim Tendero. Ia mengingatkan “bukan hal yang mengejutkan bahwa penganiayaan tampaknya akan mengikuti mereka yang mengikut Yesus.”

“Sesungguhnya, bentuk yang paling meyakinkan dari ekumene adalah ekumene dalam darah dan penderitaan,” ungkap Kardinal Kurt Koch, ketua Dewan Kepausan untuk Persatuan Kristen dalam sambutannya. “Sementara mengenang para martir kita di masa lalu dan di hari ini, marilah kita bertobat dari perpecahan dan saling merugikan dan meminta Roh Kudus menyatukan kita dalam satu Gereja, pada akhirnya dapat dapat dilihat dengan mata diperdamaikan.”

Sekretaris Jenderal Dewan Gereja-gereja Sedunia (World Council of Churches, WCC), Pdt Dr Olav Fykse Tveit menggaris bawahi pentingnya pertemuan itu di saat “semakin meningkatnya jumlah gereja dan umat Kristen yang melalui berbagai jenis kegelapan pada moment sejarah ini sebagai satu umat manusia.” Ia mengingatkan bahwa ada juga banyak yang lain dari komunitas agama dan budaya yang menderita ketidak adilan dan kekerasan. “Kita (semua) diciptakan oleh Allah yang sama, dikasihi oleh Allah yang sama,” ungkapnya, menambahkan bahwa Dia mendengarkan semua orang.

Pdt Dr David Wells, mewakili Persekutuan Gereja Pentakosta Sedunia (Pentacostal World Fellowship, PWF), turut membacakan sambutan Dr Prince Guneratnam, Ketua PWF, yang berhalangan karena sakit. “Adalah hal yang penting bagi Tubuh Kristus untuk berdiri bersama dengan (mereka yang teraniaya) dalam doa, persekutuan dan melihat bagaimana kita bisa memberikan bantuan praktis yang dapat mendorong dan menguatkan iman mereka,” tulisnya.

Upaya perlindungan bagi umat Kristen di seluruh dunia

Profesor Andrea Riccardi, pendiri Komunitas Sant’Egidio dan peneliti sejarah kemartiran Kristen, dalam materi yang dibawakan pada pertemuan tersebut mengatakan bahwa penyebab “penderitaan umat Kristen bukan benturan peradaban-peradaban atau agama-agama, melainkan lebih dalam, jelas bercampur dengan sejarah; tapi ada sesuatu yang lebih dalam untuk dipahami terkait sejarah mereka (Kristen).”

Ia menunjukkan bahwa jawabannya terletak pada figur-figur Kristen.

“Figur-figur ini dengan kemanusiaan dan tindakan mereka menunjukkan sebuah cara hidup yang berbeda: hal ini tak dapat diterima dalam fanatisme yang berkuasa atau kepentingan kegelapan yang bertujuan mengontrol masyarakat.”

Dalam pertemuan di Tirana itu dibahas tentang persoalan-persoalan di seputar penganiayaan dan kekerasan, kemunculan dan perluasannya, mendengar pengalaman gereja-gereja yang menghadapi penganiayaan, menimbang relasi dan keterlibatan Gereja dengan agama-agama lain, termasuk Islam, mengevaluasi sejarah dan teologi dalam Gereja menyangkut penganiayaan.

Dalam sambutan tertulis yang disampaikan untuk pertemuan di Tirana, Paus Fransiskus mengungkapkan, “Saya mengenang dengan kesedihan yang besar meningkatnya diskriminasi dan penganiayaan terhadap orang Kristen di Timur Tengah, Afrika, Asia dan di seluruh dunia.

“Di berbagai belahan dunia, kesaksian bagi Kristus, bahkan sampai dengan menumpahkan darah, telah sama-sama dialami oleh Katolik, Ortodoks, Anglikan, Protestan, Injili, dan Pentakosta,” ungkapnya.

Pada 12 Februari 2016 Paus Fransiskus dan Patriark Kirill, pemimpin Gereja Ortodoks Rusia bertemu di Havana, Kuba, dan membuat deklarasi bersama yang antara lain menyoroti upaya menghentikan kekerasan dan penganiayaan yang dihadapi umat Kristen di berbagai belahan dunia, sekaligus mengungkapkan solidaritas terhadap umat beragama lain yang menjadi korban perang sipil, kekacauan dan terorisme.

Pertemuan GCF kedua pada 2011 diselenggarakan di Manado, Indonesia, dengan dihadiri sekitar 250 peserta. Pertemuan itu menindak lanjuti pertemuan awal di Limuru, Kenya, yang menetapkan perlunya sebuah “forum global” sebagai ruang untuk menghadapi “tantangan bersama.”

Pertemuan di Manado kembali menegaskan hal ini dalam panduan GCF, mengatakan “tidak hanya mendorong sikap saling menghargai satu dengan yang lain, tapi sekarang maju bersama dalam menyikapi tantangan-tantangan bersama.”