Pengungsi Suriah harapkan perundingan pihak pemerintah dan oposisi bersenjata berbuah baik; Rusia tarik pasukan, klaim telah memperlemah ISIS

SURIAH (Yubelium.com) —  Sejumlah pengungsi menilai gencatan senjata dan perundingan antara pihak-pihak yang terlibat dalam perang saudara di negeri mereka sebagai “secercah harapan.”

Gencatan senjata “secercah cahaya harapan yang akan mengakhiri situasi bencana di Suriah, dan langkah awal untuk mengakhiri ketiadaan tempat tinggal yang tak manusiawi ini yang membahayakan ratusan ribu rakyat Suriah yang meninggalkan tempat ini menuju Eropa,” ungkap Abou al-Ghosi, seorang janda yang tinggal bersama lima anaknya dalam sebuah tenda di Beirut, Libanon, demikian Xinhua (24/2).

“Mungkin ini adalah awal dari berakhirnya penderitaan kami. Saya berharap gencatan senjata ini betul-betul, dan solusi politis akan muncul untuk mengakhiri perang,” ungkap Salima Abou Alwan, pengungsi dari Aleppo, mengharapkan supaya “kedamaian kembali dipulihkan di negeri kami yang indah.”

“Itu adalah pemberian yang paling berharga yang kami impikan,” ungkap Ahmad Abou Koussouri, pengungsi dari Idlib, kepada Xinhua. “Setelah lima tahun ketiadaan tempat tinggal yang tak manusiawi, kami akhirnya melihat secercah cahaya redup pengharapan untuk dapat kembali pulang ke kampung halaman.”

Pihak-pihak terkait dalam konflik berdarah di Suriah, yang menurut laporan telah memakan korban lebih dari 270.000 jiwa, diharapkan Senin ini akan duduk bersama di Jenewa untuk mencari sebuah solusi bersama.

Sementara itu, media nasional Suriah, SANA melaporkan Moskow dan Damaskus telah sepakat untuk mengurangi kehadiran militer Rusia di Suriah, langkah yang dipuji oleh Dewan Keamanan PBB.

Presiden Rusia, Vladimir Putin mengatakan pangkalan angkatan laut Rusia di Tartus dan pangkalan udara di Hmeimim, yang telah lama ditampung oleh Suriah, akan tetap beroperasi “untuk memonitor perjanjian gencatan senjata dan menciptakan kondisi untuk proses perdamaian.”

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Rusia, Sergey Shoigu dalam laporan mengenai operasi anti-teror di Suriah kepada Presiden Putin mengatakan antara lain bahwa bantuan udara Moskow telah membantu tentara Republik Arab Suriah mengambil alih pangkalan udara yang dikuasai ISIS di Aleppo, termasuk mengambil kontrol ladang minyak dan gas dekat Palmyra.

Campur-tangan Rusia atas permintaan pemerintah sah Suriah dalam lima bulan berhasil menghentikan perluasan ISIS di Suriah dan mengurangi wilayah di bawah bendera kelompok teroris tersebut.

Rusia dituduh oleh para kritik turut menyerang kelompok-kelompok “moderat” di Suriah.

Selain Rusia, koalisi pimpinan Amerika Serikat turut melakukan serangan terhadap ISIS di Irak dan Suriah.

Namun, kedua negara dengan pengaruh besar ini memiliki pandangan berbeda dalam upaya menyelesaikan konflik di Suriah, dengan AS menilai bahwa presiden Suriah, Basir al-Assad harus turun dari posisinya.

Sebelumnya, dalam serangan koalisi AS terhadap ISIS, kelompok teroris yang melakukan pembantaian terhadap kelompok-kelompok suku dan agama itu secara mencurigakan justru terus berkembang.

Menyikapi masalah kompleks di Suriah, Desember lalu komunitas Kristen dan Islam di Fredericksburg, Virginia, AS berupaya membangun jembatan dan bekerja sama untuk meringankan penderitaan rakyat yang mengungsi ke Turki. Upaya ini dilakukan hanya beberapa waktu setelah peristiwa tragis di San Bernardino, California.

Pengumpulan bahan-bahan kebutuhan dilakukan di Grace Church dan Pusat Keislaman di Fredericksburg (Islamic Center Fredericksburg, ICF). Kegiatan yang diorganisir oleh Church on the Hill dan World Horizons USA termasuk sebuah konferensi di ICF untuk membahas hubungan kedua komunitas.

“Karena kita mengikut Kristus, kita mengasihi sesama kita. Semua sesama kita. Adalah keistimewaan dan tanggung jawab komunitas Kristen untuk mempedulikan mereka yang membutuhkan. Percaya bahwa Injil Kristus adalah benar tidak menjadikan kita superior dibanding dengan sesama manusia kita[,] itu memberi kita alasan yang lebih untuk berkorban bagi [Kristus],” ungkap Kristopher Keating, Direktur Eksekutif World Horizons USA, menambahkan kebutuhan-kebutuhan yang dapat disumbangkan.

“Pusat Keislaman Fredericksburg senang bekerjasama dengan Church on the Hill, World Horizons dan masyarakat Frederiksburg yang murah hati untuk mengumpulkan sumbangan bagi para pengungsi Suriah….,” demikian diungkapkan Samer Shalaby PE dan anggota pengurus ICF.

“Seperti dalam semua konflik, mereka yang paling menderita adalah para perempuan, anak-anak dan yang lanjut usia. Kami berterima kasih kepada semua yang bisa menyumbangkan mantel, kaos kaki, kantong tidur, dan selimut untuk membantu mereka melewati lagi sebuah musim dingin yang dingin,” tulis mereka ketika itu.

 

Terakhir diperbarui:
16 Maret 2016: Perbaikan penulisan.