Paus Fransiskus basuh kaki pengungsi Kristen dan Muslim; sebut para pedagang senjata sebagai Yudas

(Foto AFP PHOTO / OSSERVATORE ROMANO via Aleteia)

ITALIA (Yubelium.com) — Pemimpin Gereja Roma Katolik, Paus Fransiskus membasuh kaki 12 orang pengungsi dari latar belakang berbeda sebagai “gerak-isyarat persaudaraan.”

Menurut keterangan Vatikan hal itu sebagai cara untuk memberi perhatian terhadap mereka yang tidak diperhatikan dalam masyarakat, demikian Aleteia (24/3).

Misa Mandatum itu dilaksanakan di luar gedung Pusat Pencari Suaka yang terletak di pinggiran kota Roma. Tradisi pembasuhan kaki pada Kamis Putih (disebut Mandatum “perintah”) dipelihara dalam sejumlah gereja Kristen, termasuk Katolik.

Delapan pria dan empat perempuan mengambil bagian dalam acara khusuk itu. Aleteia melansir laporan AP bahwa beberapa di antaranya meneteskan air mata ketika Paus Fransiskus berlutut di depan mereka, mencurahkan air suci, mengeringkan dan kemudian mencium kaki mereka.

Tahun-tahun sebelumnya Paus telah membasuh kaki para tahanan, para lanjut usia, dan para penyandang cacat.

“Gerak-isyarat berbicara lebih kuat dari gambar dan kata-kata,” ungkapnya, mengatakan bahwa dalam Kitab Suci terdapat dua gerak-isyarat: “Yesus membasuh kaki…Ia, yang adalah ‘Kepala’, membasuh kaki yang lain; mereka adalah milik kepunyaan-Nya, yang terkecil di antara mereka sekalipun. Sebuah gerak-isyarat.

“Gerak-isyarat kedua: Yudas, yang pergi kepada musuh Yesus, kepada mereka yang tidak ingin berdamai dengan Yesus, untuk mengambil uang yang untuk itu mereka mengkhianati-Nya, 30 uang perak.

“Dua gerak-isyarat. Hari ini juga, di sini, ada dua gerak-isyarat: yang pertama, kita semua bersama: Muslim, Hindu, Katolik, Koptik, Injili tapi semua bersaudara dan anak-anak dari Allah yang sama [yang esa]: kita ingin hidup dalam damai. Satu gerak-isyarat,” ungkapnya.

Ia kemudian menyesali tragedi pemboman di Brusel tiga hari lalu yang dilakukan oleh “orang-orang yang tidak ingin hidup dalam damai.”

“Di belakang Yudas ada mereka yang memberi uang supaya Yesus diserahkan. Di belakang gerak-isyarat itu, ada pembuat senjata, pedagang senjata yang ingin darah, bukan perdamaian; mereka menginginkan perang, bukan persaudaraan.”

“Hari ini, saat ini, ketika saya melakukan apa yang Yesus lakukan dengan membasuh kaki 12 dari kalian, kita semua sedang melakukan gerak-isyarat persaudaraan, dan kita semua mengatakan: ‘Kita berbeda, kita berbeda, kita memiliki budaya dan agama berbeda, tapi kita bersaudara, dan kita ingin hidup dalam damai’.

“Dan ini gerak-isyarat yang saya lakukan bersama kalian. Setiap kita membawa sebuah kisah di dalam diri kita. Begitu banyak salib, begitu banyak duka, tapi kita juga mempunyai sebuah hati yang terbuka pada persaudaraan.

“Semoga kita masing-masing dengan bahasa agama kita sendiri, memohon Tuhan supaya persaudaran ini menyebar di seluruh dunia, supaya tidak ada 30 keping [uang] untuk membunuh saudara kita, supaya akan selalu ada persaudaran dan kebaikan. Biarlah demikian.”