Bagaimana menjelaskan kebangkitan Tuhan kepada orang yang belum percaya?

(Gambar Icon via thegospelcoalition)

EKKLESIASTIKA — Banyak di antara kita yang menjadi Kristen karena kita menerima anugerah orang tua dan keluarga yang mengajarkan kepada kita tentang karya selamat Allah lewat Yesus Kristus.

Kita menerima pengajaran itu dalam iman dan bertumbuh di dalamnya.

Mungkin sampai saat ini tidak pernah terlintas dalam pikiran kita untuk mencari penjelasan-penjelasan mengapa kita percaya apa yang kita percaya, dan apa yang menjadi dasar kepercayaan itu. Kita menerimanya dengan iman.

Namun ketika kita bertemu dengan orang yang tidak seiman, kita merasa tertantang untuk bisa memberikan penjelasan tentang dasar-dasar iman kita dan memberikan sudut pandang mengapa iman itu tidak tercerai dari akal. Keduanya merupakan anugerah Allah.

Sepanjang sejarah para pemikir Kristen telah meneliti dan menyelidiki berbagai pertanyaan dan pernyataan terkait iman kita, dan menyediakan bagi kita kotak petunjuk yang membuktikan kepada kita bahwa apa yang diajarkan kepada kita adalah benar (bnd. Injil Lukas 1:1-4).

Banyak kali kita menyadari adanya kotak petunjuk itu hanya setelah kita diperhadapkan dengan pertanyaan atau sanggahan dari yang bukan orang percaya.

Itu sebabnya jika kita terdorong untuk belajar karena mereka, maka kita boleh pula mengambil waktu untuk bersyukur atas mereka dan mendoakan keselamatan mereka.

Oleh karena mereka kita dapat bersama dalam “iman yang mencari pemahaman” (faith seeking understanding).

Kita menerima kebenaran kebangkitan Kristus sebagai dasar iman, karena seperti yang ditekankan oleh Rasul Paulus: “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1 Korintus 15:14).

Kita menerima kebenaran kebangkitan Tuhan dalam anugerah iman dari Allah. Namun bagaimana kita menjelaskannya kepada orang yang masih hidup di luar iman?

Akal adalah anugerah Allah untuk semua orang, dan hal itu dapat mengingatkan kita bahwa mereka yang masih belum dalam anugerah iman itu adalah juga milik Allah yang masih terhilang.

Kita bisa mengambil manfaat dari pemahaman akal dan menunjukkan kepada mereka bahwa Allah telah memberikan tanda-tanda dan petunjuk-petunjuk jalan supaya mereka dapat kembali pulang ke rumah.

Di tengah-tengah perayaan Jumat Agung dan Paskah, kemungkinan ada yang akan menanyakan kepada kita bagaimana kita yakin bahwa Kristus bangkit dari orang mati.

Mengajak mereka untuk menerima dengan iman adalah berada di luar kemampuan mereka, karena mereka masih terhilang dan belum memiliki iman.

Kita perlu memberikan suatu penjelasan tentang tanda-tanda yang menunjukkan kebenaran itu, yang dapat diterima dengan akal sehat yang dianugerahkan kepada manusia.

Ketika berhadapan dengan mereka yang belum percaya ini, namun hendak mencari alasan mengapa kita percaya, hendaklah kita meminta kesabaran dan hikmat untuk bisa memberi penjelasan tanpa adu mulut atau mengeluarkan kata-kata hinaan. Itu hanya akan lebih menjauhkan mereka dari iman. Kita ingin mendekatkan mereka pada anugerah yang menyelamatkan itu.

Penjelasan yang menarik dan sesuai dengan kemampuan akal manusia kita sebut sebagai “Penjelasan Yang Paling Masuk Akal tentang Kebangkitan Kristus.”

Cara penjelasan ini dibahas oleh Nabeel Quereshi, dari Ravi Zacharias International Ministry, dalam video (2 episode) yang dapat dilihat di sini dan di sini (dalam bahasa Inggris).

Penjelasan ini sederhananya adalah, pertama: menjelaskan bahwa Kristus mati disalib; kedua: bahwa Ia dibangkitkan dari orang mati merupakan penjelasan yang paling masuk akal setelah murid-murid-Nya memberitakan Injil mulai dari Yerusalem sampai ke ujung dunia.

Tugas ahli sejarah adalah mengumpulkan fakta-fakta dan bukti-bukti dan mengambil kesimpulan tentang penjelasan yang paling masuk akal tentang suatu peristiwa di masa lalu sesuai fakta-fakta dan bukti-bukti yang ada.

Poin yang perlu ditunjukkan (dengan sopan) adalah fakta-fakta berikut ini:

  1. Adalah konsensus sejarah bahwa Yesus Kristus mati disalib.
  2. Murid-murid-Nya memberi kesaksian Ia dibangkitkan Allah dari antara orang mati (lih. Kisah Para Rasul 2:1-49; 17:16-34).
  3. Bukan pengikut Yesus percaya bahwa Ia bangkit. Paulus atau Saulus dari Tarsus mencari orang-orang percaya dan menganiaya mereka. Nanti dalam pengejaran di Damaskus ia sendiri bertemu Kristus yang bangkit dan memutuskan untuk menjadi percaya dan dibaptis, sampai akhirnya menjadi martir karena iman.

Hipotesa (dugaan) manakah yang paling dekat menjelaskan tentang fakta-fakta itu?

  1. Yesus benar-benar bangkit dari orang mati: didukung oleh fakta 1, 2, dan 3.
  2. Hipotesa halusinasi: Bahwa murid-murid-Nya berhalusinasi karena kehilangan Yesus: didukung oleh fakta 1; bermasalah dengan fakta 2; karena halusinasi terjadi dalam pikiran perorangan (individu), bukan dalam kelompok (sedangkan Rasul Paulus menulis bahwa selain di antara para murid, sampai 500 orang pernah melihat Kristus yang bangkit [1 Korintus 15:5,6]); tidak memenuhi fakta nomor 3.
  3. Bahwa para murid mencuri tubuh Yesus: Didukung fakta 1; bermasalah dengan fakta 2 (semua murid Yesus menjadi martir karena iman. Berkorban nyawa untuk sesuatu yang mereka tahu merupakan dusta adalah tidak masuk akal); tidak didukung fakta 3 (karena jika Ia tidak bangkit, bagaimana musuh-Nya bisa melihat Dia bangkit).
  4. Ia tidak mati dalam penyaliban: tidak didukung fakta 1 (cara peyaliban yang dilakukan oleh orang Romawi merupakan siksaan paling kejam, yang tidak dijinkan dilakukan terhadap warga negara mereka, dan mereka yang dihukum salib dipastikan mati setelah lama tersiksa, yaitu antara lain dengan mematahkan kaki, yang menyanggah tubuh untuk dapat mengambil nafas, atau dengan tusukan tombak, seperti yang terjadi pada Yesus); bermasalah dengan fakta 2 (sulit diterima murid-murid-Nya memberitakan Kristus yang bangkit dari kematian dan rela mati memberitakan Injil jika mereka sendiri yang menyelamatkan Yesus; tidak didukung fakta 3.
  5. Bahwa bukan Yesus yang disalibkan melainkan orang lain (atau kembaran): tidak didukung fakta 1 (Yesus tidak memiliki kembaran; Ia menyerahkan ibu-Nya dalam pemeliharaan murid yang dikasihi-Nya, Yohanes, ketika berada di atas kayu salib [lih. Injil Yohanes 19:26].); bermasalah dengan fakta 2; tidak didukung fakta 3.

Dari berbagai hipotesa atau dugaan mengenai pertanyaan tentang kebangkitan Kristus, kita dapat menunjukkan bahwa: Nomor satu adalah penjelasan yang paling masuk akal terhadap peristiwa penyaliban. Yesus Kristus (Isa Al-Masih) mati di atas kayu salib untuk menebus dosa-dosa manusia dan bangkit dari kematian pada hari ketiga sesuai dengan isi Kitab Suci.

Semoga saja dengan memberikan penjelasan ini dalam sikap kerendahan hati dan mau mendengar argumen dan tanggapan orang lain yang belum percaya, kita dapat membantu orang lain melihat tanda-tanda dan petunjuk yang telah disediakan Tuhan untuk menuntun anak-anak-Nya.

Namun tidak menutup kemungkinan ada hal-hal lain yang muncul, yang ditanyakan, yang dipermasalahkan, dan lain sebagainya. Itu semua adalah bagian dari proses “faith seeking understanding” (iman yang mencari pemahaman).

Untuk diskusi lebih jauh silahkan memberi tanggapan atau pertanyaan lewat email atau di jaringan media sosial Yubelium.com.

 

%d bloggers like this: