Astronot NASA: Saya tidak dapati pertentangan antara Alkitab dan ilmu pengetahuan

Kolonel Jeff Wiliams, astronot berkebangsaan Amerika Serikat yang teguh berpegang pada iman Kristen. (Foto: NASA)

Jeff Williams, 58, yang segera memecahkan rekor sebagai astronot Amerika Serikat yang melewatkan 534 hari jumlah keseluruhan berada di luar angkasa, menyangkal anggapan bahwa siapapun yang bekerja untuk badan antariksa negaranya (National Aeronautics and Space Administration, NASA) adalah orang yang tidak percaya Tuhan.

Saat ini ia sedang berada dalam misi enam bulan di luar angkasa bersama dengan dua orang kosmonot Rusia, dan akan kembali ke bumi pada awal September 2016.

“Ada anggapan umum bahwa siapapun yang bekerja untuk NASA, atau organisasi seperti itu, dengan sendirinya berarti orang tersebut tidak percaya Tuhan, tapi hal itu tidak benar,” ungkapnya dalam wawancara dengan organisasi Institute for Creation Research tahun lalu seperti dilansir ChristianNews.net (21/3/2016).

Ia mengatakan bahwa ada banyak orang Kristen di berbagai organisasi ilmu pengetahuan dan kantor-kantor pemerintah – “ada orang Kristen di mana-mana.”

Buku hasil tulisannya “The Work of His Hands” (karya tangan Allah), yang diterbitkan tahun 2010, turut memuat foto-foto yang diambilnya dari luar angkasa ketika bertugas di Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station, ISS) pada 2009-2010. Di dalamnya juga terdapat kutipan ayat-ayat dari Alkitab.

“Pekerjaan yang telah dan sementara saya lakukan dalam karir militer saya dan dengan NASA selama ini secara menyeluruh sejalan dengan Kitab Suci, dan saya menjalani hidup saya sebagai seorang Kristen, tidak ada persoalan di situ.”

Ia menekankan bahwa tidak ada pertentangan antara Alkitab dengan ilmu pengetahuan yang sebenarnya.

“Saya tidak mendapati pertentangan antara ilmu pengetahuan yang benar – ilmu pengetahuan yang otentik berintegritas – dengan Kitab Suci,” ungkapnya.

“Saya dapati bahwa dalam semua kasus ketika terjadi pertentangan, itu bukan karena pertentangan dengan ilmu pengetahuan, [melainkan] pertentangan dengan anggapan yang ada dalam pikiran…Jika seseorang melihat ilmu pengetahuan bertentangan misalnya dengan pasal-pasal awal dalam Kitab Kejadian, itu bukan ilmu pengetahuan (yang bertentangan), tapi anggapan yang masuk ke situ,” jelasnya.

“Jika seseorang memiliki anggapan yang tidak menerima kemungkinan adanya Tuhan, itu berarti tidak memberi ruang pada kemungkinan adanya perbuatan supranatural, dan bahwa semuanya harus dijelaskan sebagai proses alami, maka dari situ pada dasarnya seseorang telah membatasi apa yang bisa dipelajari dari pengamatan objektif yang diberikan oleh ilmu pengetahuan.

“Di situ persoalannya. Saya menerima keberadaan Tuhan di awal. Saya mulai dengan menerima kebenaran Alkitab.”